Loading…

Sudut Pandang Nonverbal

Kekalahan-kekalahan ini seolah memintaku untuk terus bersabar. Meski terkadang Aku merasa bahwa kesabaran ini cenderung tampak sebagai sebuah kemalasan dan kediaman. Sebuah pertanyaan yang seringkali diungkapkan tentang sebenarnya apa beda antara kesabaran dengan tidak berinisiatif. Apakah Aku harus terus menunggu demi menuruti perintah atasan? Apakah atasanku bisa dipercaya?

Nature Wet Wet Flower

Jujur saja, Aku ini bukan tipe orang yang terlalu gigih dalam hal mempelajari agama. Banyak hal di dunia ini yang lebih membuatku kagum, jauh melebihi hal-hal gaib. Aku ingin mendalami itu lebih jauh lagi. Aku tidak suka dengan hal-hal yang tidak kongkrit, meskipun tidak suka juga bukan berarti benci. Ketidaksukaanku itu terkadang membuatku minder saat Aku berada di antara orang-orang suci. Ada sebuah kecanggungan rasa, tentang betapa kakunya saat Aku memakai kain sarung atau membaca kitab suci. Seringkali Aku merasa bodoh dalam aspek-aspek tersebut. Sama dengan orang-orang moderen pada umumnya, mungkin cara berpakaianku memang lebih mirip dengan Yahudi. Aku masih belum mengerti tentang sejauh mana sebuah sikap disebut sebagai moderat atau radikal, karena Aku adalah seorang penganut agama modrat. Penganut agama radikal mungkin lebih tahu, karena mereka telah menciptakan batasan-batasan yang jelas.

Meskipun mempelajari hal gaib begitu sulit bagiku, namun permasalahan-permasalahan yang terjadi seolah begitu gigih menjagaku untuk tetap dekat dengan Tuhan, meski dengan cara yang sedikit berbeda. Tuhan mempunyai cara tersendiri untuk menjaga keakraban seorang hamba yang pragmatis sepertiku. Masih banyak hal di dunia ini yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan memohon dan berdoa kepada Tuhan secara pasif. Aku harus terjun langsung ke dalam dunia, mengotori tanganku dengan debu dan lumpur sakit hati. Beribadah secara nyata dengan tidak melupakan aspek-aspek mendasar, tentang apa itu pencipta dan siapa itu ciptaan.

Pertanyaanku terlalu jauh, itu yang para teknisi katakan padaku. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa gangguan-gangguan yang terjadi dalam tempat kerjaku memang tidak jarang membuatku bertemu dengan orang-orang cerdas dan berbakat. Satu hal yang membuatku begitu suka dengan mereka adalah tentang rasa keterbukaan mereka. Seringkali mereka menceritakan kisah-kisah hidup mereka di sela-sela jawaban dari pertanyaanku yang merepotkan. Mereka bilang, sebagian besar dari komunitas mereka tidak menjalani pendidikan formal untuk memperoleh citra dan pengakuan sebagai seorang ahli. Mereka belajar sendiri, dan mengikuti prinsip-prinsip apa yang mereka sebut sebagai optimisme untuk bangkit dari keterpurukan. Sebuah prinsip yang begitu mudah dikatakan namun sangat sulit untuk kujalani.

Dahulu Aku suka mendengarkan ceramah para motivator yang telah sukses menjalani hidup mereka, namun semakin lama Aku mendengarkan cerita-cerita mereka justru semakin membuatku tidak suka dengan mereka. Mereka terlalu banyak mendongeng. Dan dongeng-dongeng mereka sama sekali tidak memberikan pencerahan bagi sudut pandang cara berpikirku yang rumit. Selain itu Aku juga tidak suka dengan iklan-iklan yang mereka sisipkan di jeda-jeda istirahat mereka yang justru telah merusak citra ketulusan hati mereka untuk membantu.
Dibandingkan mendengarkan ceramah seorang motivator, Aku justru lebih suka mendengarkan cerita dari orang-orang senasib sepenanggungan, seorang pemuka agama atau seorang psikolog.

Salah seorang teknisi komputer bernama pak Hanif sempat mengatakan sesuatu padaku. Dia bilang sebenarnya Aku sudah memiliki begitu banyak pengetahuan. Satu-satunya hal yang Aku butuhkan sekarang hanya pengalaman. Dia bilang Aku masih belum begitu mengerti tentang dasar-dasar pengetahuannya, sementara Aku justru telah meluncur terlalu jauh dari standar ukuran seorang anak awam.

Setelah kupikir-pikir mungkin benar juga. Untuk beberapa hal terkadang Aku merasa sangat kesulitan di dalam menginterpretasikan ide menjadi kalimat. Ada begitu banyak hal nonverbal dalam otakku, namun Aku tidak bisa menjelaskannya secara verbal. Aku tahu, sebenarnya cara kerja dan pengertian sistem di depan mataku ini begini dan begitu, namun Aku tetap tidak bisa merumuskannya menjadi kalimat utuh. Kekuranganku itu seringkali membuatku tampak menggaruk-garuk kepala di depan seorang teknisi. Padahal tidak ada kutu dan bisul tuyul dalam kepalaku.
Sebuah kesimpulan yang sama seperti halnya kebiasaanku di dalam membuat teori-teori sepele yang paling tidak bisa membuatku lebih mengerti: menyamakan HTML dengan sistem pemerintahan, merelasikan CSS dengan logika menggambar, mendalami ilmu otomotif yang kudapatkan untuk sedikit memahami JavaScript, dan menyamakan wanita sebagai takdir Tuhan yang tidak bisa dihindari.

Mungkin … Ya. Mungkin kesempatan itu memang masih ada. Setiap kali Aku melihat mereka, dalam waktu yang sama Aku merasa seperti sedang melihat masa depanku sendiri. Seseorang yang suatu saat nanti akan berhasil walau tanpa bekal pendidikan tingkat tinggi.

Apakah cita-citaku akan berubah?

2 Agustus 2011

2 Komentar:

  1. Itulah bagian hidup. Bagaimana memandangnya, bagaimana menyikapinya, bagaimana mensyukurinya.
    Btw, aku suka tulisan ini. Tulisan yang indah.

    BalasHapus
  2. Ngomong-ngomong, apakah tulisanku yang satu ini dapat menimbulkan kesalahan tafsir ya? terkadang Saya takut mempengaruhi orang lain dengan hal-hal yang semestinya tidak Aku inginkan.

    BalasHapus
Top