Sindrom Kombinasi Tak Berkesimpulan

Jadi… pada akhirnya Aku memutuskan untuk menuliskannya secara detail mengenai dua masalah utama yang membuatku kesulitan untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Mengingat Aku masih belum tahu mengenai yang terjadi padaku itu dinamakan sebagai apa secara ilmiah, jadi Aku buat saja istilahnya sendiri. Namanya Sindrom Kombinasi Tak Berkesimpulan.

Sindrom Kombinasi Tak Berkesimpulan adalah sebuah keadaan dimana seseorang menjadi tidak bisa atau mengalami kesulitan dalam mengingat suatu materi karena materi yang harus diingat tersebut tidak memiliki makna atau pola yang berarti untuknya. Materi yang dimaksud di sini adalah simbol, kode, huruf dan angka yang tersusun dalam bentuk kombinasi tanpa arti.

Masalah #1: Kode Kombinasi

Aku anak visual. Dalam psikologi, seorang anak visual akan lebih mudah memahami sesuatu jika materi yang diberikan bisa dilihat, digambarkan dan dibayangkan. Apapun yang bisa kulihat dengan mata atau dibayangkan dalam angan-angan pada dasarnya mudah untuk kupelajari dan kuingat. Selain tipe gaya belajar visual, sebenarnya ada juga beberapa tipe gaya belajar yang lain seperti gaya belajar auditori dan kinestetik.

Ada dua ciri khusus yang paling Aku setujui untuk mengidentifikasikan bahwa seseorang itu merupakan visual learner. Kedua hal ini nyata terjadi padaku sepanjang perjalanan hidup:

  1. Kesulitan memandang mata lawan bicara. Ketika diajak bicara atau mendengarkan orang berbicara, seorang anak visual akan memperhatikan bahasa tubuh atau gerakan fisik dari lawan bicara mereka. Terutama pada bagian bibir.
  2. Dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut dan ramai tanpa merasa terganggu.

Salah satu hal yang sangat membuatku kesulitan berkomunikasi dengan lancar dalam situasi yang serba mendadak adalah bahwa Aku tidak bisa menghafal angka. Atau lebih tepatnya kombinasi angka. Atau kombinasi saja. Karena setelah kupikir-pikir, masalahku itu sepertinya bukan berada pada angka, tapi pada kombinasi yang membentuk susunan angka-angka itu.

Aku sulit menghafalkan nomor telepon, nomor induk, nomor KTP, nomor kendaraan dan nomor-nomor lainnya yang tidak memiliki makna. Itu terjadi karena Aku tidak bisa menyimpulkan kombinasi-kombinasi tersebut ke dalam citra visual.

Harus Masuk Akal

Aku masih bisa menghafalkan hal-hal semacam ini karena Aku mampu menyimpulkan mereka ke dalam makna lain yang bisa diingat dan diterima oleh akal dan ingatanku:

Shapes 1=
Segitiga1 Berputar searah jarum jam2
Shapes 2=
Hitam1 Vertikal, lalu Horizontal2
Shapes 3=
Pelangi1 Me-Ji-Ku-Hi-Bi-U2
Shapes 4=
Kotak ke Lingkaran1

Tapi tidak untuk ini:

Shapes 5=
????

Alasan yang menyebabkan Aku tidak bisa menghafal susunan bentuk-bentuk di atas adalah karena kombinasi di atas tidak memiliki pola. Aku memahami sesuatu melalui pola. Jika pola tidak ditemukan, maka Aku tidak bisa mengingatnya. Itu juga terjadi pada angka-angka:

183988599084 = ????
984773872902 = ????
829837567397 = ????

Bahkan meskipun angka-angka yang ada sudah disusun sedemikian rupa agar terpola, Aku masih tetap tidak bisa menerima bahwa angka-angka tersebut merupakan pola. Dan Aku tidak bisa menghafalnya:

1234567 = ????
13579 = ????
27272727 = ????

Aku tidak berhasil menemukan maksud dari kombinasi angka-angka di atas. Aku tidak bisa menciptakan kesimpulan dari angka-angka tersebut. Tidak ada satupun citra visual yang bisa kurekam ke dalam kepala. Semuanya hanyalah angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9 yang tidak memiliki makna ataupun petunjuk khusus. Tidak unik.

Huruf…

Selama huruf tersebut dapat diubah ke dalam bentuk makna atau perwujudan visual yang bisa diingat, maka Aku bisa menghafalnya.

Aku tidak bisa mengingat ini dengan cepat:

AjE4kd = ????
eQPD6 = ????
iDU2E = ????

Tapi bisa diusahakan untuk yang ini:

acMe = Coyote. Huruf “M” besar.
jsdk13 = Facebook. “JSDK”. Angka sial.
415elf4r = Peri. “aiselfar”. Raflesia. Bunga Bangkai.

Ngomong-ngomong, Aku juga membuat kata kunci keamanan dengan cara seperti di atas. Karena Aku mengalami kesulitan untuk mengingat kombinasi simbol yang tidak bermakna, jadi Aku mengusahakannya sebisa mungkin agar dia bisa memiliki makna. Entah dengan menggunakan algoritma apa, yang jelas hanya Aku saja yang tahu. Sebagai contoh, Aku menciptakan password seperti ini:

uj4b3k4pk4d1tl19ubk3w3c

Kombinasi di atas bisa kuingat, tapi tidak teringat dalam bentuk kode berantakan secara mentah seperti di atas. Aku mengingatnya menggunakan petunjuk yang kubuat sendiri untuk bisa mencapai susunan kode di atas tanpa harus menghafal kode tersebut secara langsung. Aku menyebut metode ini sebagai ZIP – UnZIP.

Aku menganggap bahwa kode kombinasi di atas adalah sesuatu yang terkompres. Sebelumnya, data yang sudah terkompres tersebut harus dipisahkan satu per satu. Setelah semuanya terpisah, Aku harus mengingat data-data tersebut ke dalam bentuk citra visual, gerakan atau rangkaian peristiwa palsu, yang mungkin akan tampak lebih panjang dari segi kata-kata tapi lebih bermakna dan lebih mudah diingat. Aku tidak perlu bekerja keras untuk menghafalkan kode kombinasi di atas secara langsung.

Selebihnya, jika Aku ingin mengingat kembali data yang asli, maka Aku hanya perlu menyatukan data-data yang terpisah tersebut kembali menjadi satu.

Proses UnZIP

Memahami bahwa 4 = A,1 = I, 3 = E da 9 = G itu mudah. Jadinya seperti ini:

uj4b3k4pk4d1tl19ubk3w3c = ujAbEkApkAdItlIGubkEwEc

Lalu Aku membaliknya:

ujAbEkApkAdItlIGubkEwEc = cEwEkbuGIltIdAkpAkEbAju

Sudah mulai terlihat polanya kan?

cEwEkbuGIltIdAkpAkEbAju = cewek bugil tidak pake baju

Dari sini, Aku sama sekali tidak perlu menghafalkan kombinasi yang ada, melainkan hanya perlu mengingat citra visual “cewek bugil tidak pake baju”. Bukan mengingat uj4b3k4pk4d1tl19ubk3w3c, tapi cukup mengingat kata “cewek bugil tidak pake baju” dan memprosesnya ke dalam citra visual.

Proses ZIP

Katakanlah kemudian Aku lupa tentang kombinasi angka itu, tapi Aku masih ingat citra cewek bugil tidak pake baju di dalam pikiranku ketika melihat halaman login administrator, sehingga dari situ Aku bisa menuliskannya ulang ke kertas dan menemukan polanya kembali melalui langkah-langkah yang harus Aku lakukan terhadap petunjuk itu, yang tentunya lebih mudah diingat dibandingkan dengan kombinasi itu sendiri secara mentah:

  • Petunjuk pertama: Citra “cewek bugil tidak pake baju”.
  • Petunjuk ke dua: Huruf ke angka.
  • Petunjuk ke tiga: Membalik kata.

Semua langkah-langkah di atas, meski lebih panjang dibandingkan dengan kombinasi mentah yang seharusnya diingat, tapi bisa kuingat lebih mudah. Karena logika, urutan dan citra aktivitas yang harus kulakukan, semuanya sudah tercetak di dalam pikiran. Aku tidak perlu mengingat kode kombinasinya, Aku hanya perlu menyusun hal-hal yang bisa kuingat saja kembali untuk mencapai kode kombinasi tersebut:

cewek bugil tidak pake baju = c3w3k bug1l t1d4k p4k3 b4ju = c3w3kbug1lt1d4kp4k3b4ju = uj4b3k4pk4d1tl19ubk3w3c

Setelah itu tinggal salin dan tempel saja.

Proses pembentukan password pada saat pertama kali tentunya dimulai dari langkah ZIP, bukan UnZIP (terbalik dari apa yang Aku jelaskan di atas). Mungkin metode ini bisa kamu gunakan untuk mempermudah dalam mengingat kode-kode kombinasi yang sangat menyiksa jika kamu memiliki masalah mengingat yang sama sepertiku.

Kombinasi Tak Berpola adalah Dogma

Bagiku, keharusan untuk menghafalkan suatu hal tanpa adanya petunjuk pemahaman khusus akan hal tersebut bisa kukatakan sebagai dogma. Nomor plat kendaraan adalah dogma. Nomor telepon adalah dogma. Nomor KTP dan nomor kartu Identitas sejenis juga adalah dogma. Bagaimana mungkin huruf B disebut sebagai kode Jakarta, padahal secara nalar itu sama sekali tidak ada hubungannya?! Ada hubungan apa antara huruf B dengan kota Jakarta?!

Selama ini Aku dipaksa untuk menerima aturan tersebut, tapi tidak diberi kesempatan untuk bertanya dan berpikir. “Pokoknya yang namanya B ya artinya Jakarta! Titik. Tidak boleh banyak tanya!”

Aku rasa itu juga merupakan salah satu penyebab Aku menjadi kesulitan untuk menghafalkan kode-kode kombinasi di dalam nomor telepon dan petunjuk identitas. Karena Aku tidak bisa dipaksa dan didogma.

Masalah #2: Kesulitan Merespon Arah Mata Angin

Untuk masalah yang satu ini kujelaskan lain kali sajalah…

4 Februari 2013