Sore Hari Bersama Tifani

Kamu bisa sembuh dari penyakit fisik namun tidak dari penyakit jiwa, karena sumber penyakit jiwa ada pada manusia yang lain. Etika memperbolehkan kita untuk membunuh virus dan bakteri, namun tidak untuk membunuh manusia.

Kadang Saya berpikir bahwa menulis hanya akan membuat Saya menjadi semakin kekanak-kanakan. Karena mengungkapkan perasaan pribadi kepada orang banyak untuk memenuhi kepentingan diri sendiri adalah mutlak kekanak-kanakan. Saya yang telah banyak menulis di sini pada akhirnya tidak pernah lagi membaca jurnal-jurnal lama Saya. Karena jujur, Saya merasa malu. Yang berlalu biarlah berlalu.

Sore ini seharusnya akan menjadi sore terakhir Saya dihajar diajar oleh bu Reni. Materi kuliah Riset Keperawatan ternyata lumayan berat juga untuk dicerna. Kadang Saya merasa tidak sanggup, tapi mau bagaimana juga, Saya harus berusaha memahaminya karena status Saya sekarang adalah sebagai penanggung jawab mata kuliah ini.

Waktu itu Saya sedang duduk di taman memegangi sebuah map absen berwarna kuning 1. Sendirian. Menunggu kedatangan bu Reni yang sepertinya masih sedang dalam perjalanan dari Bumiayu menuju Purwokerto. Beliau punya penyakit hipertensi yang lumayan mengganggu, hingga penyakit tersebut kini mempengaruhi kesehatan beliau sampai ke tahap psikologis. Beliau tidak tahan mendengar gesekan-gesekan kursi, bahkan sekedar mendengar langkah-langkah mahasiswa yang sedang naik-turun tangga. Beliau bilang kepalanya serasa seperti mau meledak. Ditambah lagi dengan jadwal harian beliau yang padat pula, keluar-masuk kota setiap hari. Tanpa bantuan sopir. Dan beliau belum menikah.

Pernah sekali Saya menyarankan beliau untuk menyewa sopir pribadi saja, tapi beliau menolak dengan alasan bahwa kebanyakan sopir pribadi adalah laki-laki. Beliau bilang, beliau merasa tidak nyaman berada bersama laki-laki.

Beliau juga punya mekanisme koping stres yang tidak menyenangkan. Sebuah mekanisme koping destruktif. Saya juga punya, akan tetapi mekanisme koping tersebut pada akhirnya dapat Saya tekan melalui kebiasaan menulis Saya. Dan Saya pikir, beliau tidak akan mungkin bisa membentuk mekanisme koping positif yang sama seperti Saya: beliau tidak punya waktu untuk mengerjakan hal-hal seperti ini. Dan justru karena ‘waktu’–lah maka hipertensi dan stres beliau menjadi bertambah parah. Selain juga karena faktor usia, rasa-rasanya memang mustahil bagi beliau untuk melakukan hal-hal seperti Saya, apalagi jika harus duduk berlama-lama di depan komputer. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi stres dan hipertensi beliau adalah dengan menghentikan stresor utama beliau yaitu waktu. Tapi bagaimana mungkin seorang manusia bisa menghentikan waktu?

Sebagai gantinya, beliau jadi sering mencuri-curi waktu di kelas untuk bercerita di hadapan para mahasiswa, mengeluh-kesahkan apa saja yang terjadi dalam kehidupan beliau, mengenai pekerjaan beliau, tugas dan masalah beliau sehari-hari, serta penyakit darah tinggi yang beliau alami, yang dalam beberapa hal menurut Saya sebenarnya tidak layak jika harus diungkapkan di hadapan para mahasiswa. Tapi kemudian, di bagian akhir curahan hati yang beliau sampaikan, beliau seperti berusaha untuk membuat semuanya tampak baik-baik saja dengan cara mengungkapkannya secara lisan. Saya tidak tahan melihat kondisi beliau yang seperti itu. Beliau bisa saja pingsan di tempat sewaktu-waktu.

Orang lain yang melihat Saya selalu tampak berusaha sempurna di hadapan beliau mungkin mengira kalau saat itu Saya sedang mencari muka saja. Tidak apa-apa, itu sudah menjadi risiko Saya. Saya hanya merasa tidak bisa tinggal diam dengan keadaan beliau yang seperti itu. Rasanya seperti sedang melihat diri sendiri di masa depan.

Dalam beberapa hal, beliau mengingatkan Saya akan kondisi Saya sendiri. Sampai sekarang, Saya masih saja tidak mampu menghentikan efek negatif dari stresor Saya yang telah lama berkeliaran di sekitar Saya. Kalau boleh jujur, sebenarnya Saya sangat membutuhkan bantuan dari orang lain untuk mengatasi masalah ini. Akan tetapi mau bagaimana lagi? Memangnya orang mana yang mau mengerti tentang permasalahan Saya? Bahkan Saya sendiri kadang tidak mengerti.

Sampai pada detik ini; 1 tahun, 2 minggu dan 2 hari telah berlalu sejak hari itu. Hingga sekarang Saya telah berada pada titik dimana Saya sudah merasa cukup nyaman dengan keadaan Saya. Satu keadaan dimana Saya tidak lagi memiliki semangat untuk melayani orang-orang yang berusaha mengungkit-ungkit peristiwa yang telah Saya alami sebelumnya. Saya tidak ingin membahasnya lagi. Saya sudah lelah, putus asa, kecewa dan bosan dengan materi yang sama yang tidak seharusnya Saya ulang-ulang lagi.


Menit-menit berlalu hingga lamunan Saya pun buyar seketika menyadari bahwa seseorang yang Saya perhatikan sedang mendekat dari kejauhan ternyata adalah Tifani. Dia jalan kaki ke kampus bersama temannya dari kelas A, namanya Zulfa. Tidak ditanya tidak apa, langit juga tidak runtuh, tiba-tiba dia menghampiri Saya sambil marah-marah, bilang kalau dia tidak bawa ponsel. Katanya ponselnya sedang lowbat dan sekarang sedang di-charge di tempat kos!

Lah, terus kenapa dia jadi marah ke Saya? Apa korelasi antara dia yang tidak bawa ponsel dengan Saya yang sedang duduk di sini? Bagaimana ceritanya hubungan sebab-akibat antara Saya dan Tifani bisa terjadi ketika Saya duduk di sini, hingga dapat menimbulkan outcome berupa Tifani yang tidak membawa ponsel?

Mereka berdua sempat berlenggang begitu saja melewati Saya tapi kemudian Tifani balik lagi. Dia bilang dia tidak mau pergi ke gedung D. Khawatir kalau mata kuliah Riset Keperawatan sore ini benar-benar jadi dilaksanakan dan karena dia tidak membawa ponsel saat itu, maka posisi dia yang jauh dari Saya akan membuatnya rawan untuk kehilangan informasi. Jadi pada saat itu, dia terpaksa duduk di hadapan Saya.

Ya sudah, terserah kamu.

2

Berbicara mengenai Tifani, sebenarnya dia berarti banyak untuk Saya. Tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia sampai punya waktu untuk membaca jurnal Saya lagi dan kemudian jatuh pada chapter ini.

Hari-hari kami berlalu sebagaimana kehidupan antara kucing dan anjing. Lebih banyak terjadi pertengkaran dan saling sangkal antara Saya dengan dia dibandingkan dengan saling memperhatikan satu sama lain. Dia banyak memberikan nasihat kepada Saya. Selama ini Saya hanya berpura-pura mengabaikan kata-katanya tapi sebenarnya Saya sangat menghargainya dan menurut Saya itu sangat penting. Lagipula, dia juga yang selama ini paling banyak menunjukkan usaha keras di hadapan Saya untuk meyakinkan Saya bahwa masalah yang sedang Saya alami selama ini sebenarnya adalah masalah yang sangat sepele.

Dia juga, cewek pertama yang pertama kali Saya kenal memiliki keberanian untuk mengepalkan tangan di depan muka Saya, padahal dia tahu kalau Saya itu orangnya cengeng.

Kadang dia suka berlagak, bertanya kepada Saya tapi kemudian dia malah jawab pertanyaan itu sendiri sebelum Saya menjawabnya, “Menurut kamu, siapa anak di kelas yang paling enak buat diajak ngobrol? Pasti aku kan? Ya kan? Ya kan? Ya iya lah pasti!”

Oh, iya.

Maksud Saya: Oh iya, Saya baru ingat!

Sore itu Tifani mengingatkan Saya kembali akan beberapa kalimat yang biasa bu Reni sampaikan kepada para mahasiswa. Beliau pernah mengatakan sesuatu yang sangat jarang. Beliau berkata kepada kami bahwa pada dasarnya tidak semua masalah harus diselesaikan dengan solusi. Kadang kita hanya perlu menunggu saja dan membiarkan waktu menyelesaikan semuanya untuk kita.

Ya, kadang Saya juga berpikir begitu. Tapi Saya lebih sering mengabaikannya. Dan sekarang Saya malah jadi kepikiran lagi. Tifani selalu menyindir Saya bahwa Saya itu orangnya terlalu banyak memikirkan sesuatu. Kami berdua memiliki prinsip hidup yang berbeda. Tifani adalah tipe orang yang mengalir, menjalani hidup tanpa banyak tanya. Dia mengatakan bahwa dia terbiasa menjalani semuanya sesuai jalur yang diberikan, mengikuti aturan main dari Tuhan. Hingga sekarang, dia tetap bisa mengatakan bahwa dia merasa baik-baik saja.

Sedangkan Saya? Saya adalah tipe orang yang memiliki kepercayaan bahwa solusi tidak akan pernah datang begitu saja. Solusi tidak datang secara cuma-cuma, solusi tidak datang tanpa dipikirkan, solusi tidak datang tanpa adanya usaha dari kita untuk mendapatkannya.

Dan oleh karena cara berpikir Saya yang seperti itu juga… yang telah membuat Saya menjadi tetap tidak bisa berhenti memikirkan dia, sampai sekarang.

Bukan. Bukan karena Saya tidak bisa move on, tapi karena Saya tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana solusi terbaik yang bisa Saya ambil untuk menyelesaikan semua permasalahan ini. Sudah setahun lebih Saya tidak lagi bertatap muka bahkan berbicara dengan cara yang baik, padahal kita berdua satu kelas. Seingat Saya, terakhir kali Saya berbicara dengan dia secara langsung adalah ketika ujian verbal bahasa Inggris beberapa bulan yang lalu. Namun pembicaraan yang terjadi adalah bukan antara Taufik dengan Rifa, melainkan antara perawat dan pasien.

Statusnya sekarang sudah jomblo. Sudah bisa Saya pastikan melalui bahasa tubuh yang timbul ketika dia disindir beberapa kali oleh Rian mengenai seseorang, dan juga dari bagaimana cara dia keceplosan bilang kalau dia itu single saat dia sedang memperhatikan materi kuliah di kelas, yang entah bagaimana sepertinya membuat dia jadi baper saat itu. Seolah mulai tampak kalau dia sedikit menyesali keputusannya yang dulu. Terlebih lagi, sejak Saya ditolak olehnya, Saya jadi lebih sering dekat dengan teman wanita dibandingkan dengan teman pria. Itu adalah mekanisme koping Saya, sebuah usaha sia-sia yang Saya lakukan untuk membohongi diri Saya sendiri dengan menciptakan kesan bahwa Saya akan bisa menemukan penggantinya segera.

Saya tahu bahwa, dia bisa saja punya pacar lagi jika Saya tidak bergerak cepat. Tapi Saya benar-benar sudah tidak peduli. Sejak awal Saya memang tidak pernah menunggu dia. Yang Saya tunggu adalah saat dimana Saya bisa pergi dari lingkungan Saya yang sekarang agar Saya bisa dengan leluasa memulai kehidupan yang baru untuk memperjuangkan sesuatu yang baru. Untuk saat ini, Saya benar-benar sudah tidak tertarik lagi dengan status. Bagi Saya, yang paling penting sekarang adalah hubungan dan komunikasi yang baik. Yang paling penting sekarang adalah apa yang Saya lihat dan Saya dengar sendiri, bukan dari apa yang kamu dan orang lain katakan kepada Saya mengenai siapa dan bagaimana kamu.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dan pada suatu hari yang telah lalu, seolah Saya seperti berhasil menemukan sesuatu yang tidak sempurna dari kamu yang kemudian membuat Saya menjadi tidak tertarik.

Saya sudah berjuang sampai sejauh ini untuk bisa belajar melepaskan orang lain, belajar melepaskan kamu. Dan Saya pikir, akan sia-sia apabila Saya mengambil kesempatan ini untuk diri Saya sendiri demi memenuhi keinginan masa lalu saja.

Saya introvert, akan tetapi Saya tidak hidup sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang mendukung Saya dan mengharapkan akan kondisi dan kabar yang baik dari Saya. Saya tidak ingin mengecewakan mereka dengan cara seperti ini.

Seperti Kapas Alkohol

Tifani bicara lumayan banyak sore itu. Dia bilang satu hal yang beda antara di sini dengan di Pontianak adalah bahwa dia tidak bisa keliling kota dengan sepeda motor. Dia bilang Saya harus bisa sekali-kali main ke luar, ke tempat nongkrong. Dia bilang dia suka sama cowok berkumis. Dia bilang bahwa dalam diri orang yang menyebalkan, ada beberapa hal baik yang bisa kita pelajari (dia bicara soal bu Reni). Dia bilang sesuatu soal artis di televisi. Saya lupa. Saya tidak mendengarkan bagian itu. Dia bilang semua hal tanpa terkecuali seolah dia sedang berbicara kepada tong sampah. Tidak bisa berhenti. Saya sampai harus melihat ke sekeliling, berharap tidak ada dosen dan mahasiswa yang lain yang berjalan melintasi area kami, karena Saya takut kalau mereka sampai menganggap kami berdua ada apa-apa.

Walaupun… jika harus Saya pikir-pikir kembali, memang sempat ada rasa penyesalan juga ketika teringat dulu bahwa dia juga pernah memancing-mancing Saya untuk menembaknya. Dan mengapa saat itu Saya tidak mempertimbangkannya. Di luar dari segala kemungkinan, apakah saat itu dia benar-benar sedang serius atau cuma bercanda.

Akan tetapi itu hanya berlangsung selama tiga puluh detik saja. Selebihnya? Saya merasa senang dengan keadaan dan keberadaan dia sebagaimana adanya dia sekarang.

Dia sudah bersama orang yang baik.

Bagi Saya, Tifani itu seperti halnya bola-bola kapas yang direndam di dalam alkohol. Bola-bola kapas alkohol yang dioleskan di lengan tangan Saya sebelum Saya menjalani terapi injeksi. Rasanya sejuk, meski Saya tahu bahwa setelah itu akan datang perasaan sakit. Tapi kapas alkohol tersebut meyakinkan Saya bahwa rasa sakit yang akan Saya alami nanti tidak akan berlangsung selamanya, dan oleh karena itu, Saya jadi merasa lebih tenang dan siap untuk menghadapi rasa sakit tersebut ketika dia datang nanti.

Anggap saja Saya sebagai kakak kamu. Jika Saya harus berpendapat mengenai kamu, maka bisa Saya katakan bahwa Saya justru akan merasa lebih bahagia ketika bisa melihat kamu tumbuh, berkembang dan menjadi dewasa serta bahagia bersama orang lain, terutama dengan seseorang yang sedang bersama kamu saat ini, dibandingkan jika Saya harus melihat kamu bersama dengan Saya. Karena di sini posisi Saya merupakan pihak yang membutuhkan, bukan yang dibutuhkan. Dan Saya pikir, saat ini dan sampai kapan pun, kamu tidak akan pernah membutuhkan bantuan Saya. Kamu sudah bisa berdiri sendiri, bahkan dengan pen yang masih terbenam di dalam kaki kamu. Bahkan kamu juga, yang telah membantu Saya untuk tetap berdiri hingga sekarang.

Saya ucapkan terima kasih karena telah bersedia menjadi sahabat Saya selama ini, bagaimanapun kamu melihat diri Saya, baik dari sisi yang asli maupun yang palsu. Dari pemahaman-pemahaman Saya, dan juga keputusan-keputusan Saya yang mungkin bisa kamu anggap sebagai keputusan yang salah.

Akan menjadi norak jika Saya harus mengatakan bahwa Saya tidak akan pernah melupakan jasa-jasa yang pernah kamu berikan kepada Saya, jadi Saya potong saja dulu sampai di sini sebelum ada korban berjatuhan.

Di luar dari segala hal yang kurang dari Saya, yang jika hal-hal tersebut dapat terpenuhi maka akan membuat Saya merasa utuh, dalam beberapa hal, kadang Saya merasa bahwa hidup sendiri tanpa ikatan justru membuat Saya merasa lebih tenang.

Semoga pengalaman ini dapat membantu Saya tumbuh menjadi orang yang lebih dewasa lagi. Terima kasih sudah membaca.


  1. Program studi Diploma III.