Loading…

Mimpi Perjalanan Panjang ke Arah Kanan

Sore ini Aku bermimpi. Saat itu keadaannya adalah sebuah kegagalan. Sepertinya mengenai kegagalan melamar pekerjaan di perantauan. Aku tidak mengerti. Bahkan Aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk merantau lagi. Tapi saat itu kejadiannya begitu. Rasanya sedih bercampur marah tidak karuan. Hingga sesaat kemudian tiba-tiba saja mimpiku terpotong. Aku berpindah ke dalam situasi rumah biasa, dimana Aku sedang berada di hadapan lubang steker listrik. Di situ Aku sedang antusias memperhatikan sekaligus berusaha untuk mendukung usaha Mickey Mouse yang sedang menyelamatkan Donald Duck yang terjepit di sela-sela tiang rumah tersebut mendekati lubang steker listrik. Sesaat kemudian, dengan begitu susah payah dan dengan gaya kartun mereka, pada akhirnya Mickey berhasil menyelamatkan Donald Duck dari posisi terjepitnya (dalam arti yang sesungguhnya). Sebelum itu mereka berdua sempat terpental dengan kuat dari tempat asal mereka. Sebegitu kuatnya sampai-sampai mulut Donald Duck yang panjang tertancap di lubang hidung Mickey Mouse dan sulit untuk keluar. Hahahahaaa…

Setelah itu entah bagaimana, setelah Donald berhasil mencabut mulutnya dari lubang hidung Mickey, tiba-tiba Mickey terdiam tanpa ekspresi. Donald Duck dan Aku jadi agak kebingungan. Mukanya menampilkan ekspresi sedang pusing seperti habis dipukul tongkat baseball. Dia tampak seperti sebuah robot yang rusak. Muncul sedikit bintang-bintang di kepalanya, hingga sesaat kemudian dia tampak seperti sedang cegukan. Matanya berubah membesar dan mengecil, namun gerakannya tidak terjadi dalam waktu yang bersamaan pada kedua bola matanya. Antara mata yang kanan dan yang kiri terjadi pembesaran dan pengecilan ukuran secara bergantian dengan intonasi yang acak. Semua itu cuma terjadi sebentar. Mungkin dua sampai tiga kali getaran utama. Mulutnya kemudian membuka. Tidak. Mungkin lebih tepatnya otot penahan mulutnya sudah mati, sehingga mulutnya tidak bisa menutup lagi. Dari dalam mulut Mickey keluar sebutir benda berwarna merah. Bentuknya seperti kancing baju atau biji sempoa, tetapi tidak terdapat lubang di tengahnya. Mungkin permen cokelat. Dua sampai tiga butir kancing baju keluar secara lambat, diteruskan dengan jumlah yang bertambah banyak dengan rentang waktu yang semakin cepat… cepat… sangat cepaaattt…!!! Mulut Mickey sekarang mengeluarkan begitu banyak biji sempoa dengan berbagai macam warna. Sekarang dia tampak seperti air terjun permen!!! Seluruh lantai ruanganku kini dipenuhi dengan butiran permen dengan jumlah yang saaangaaattttt banyaaakkkkk!!!

Stop. Berhenti sampai di situ. Aku keluar dari dunia Mickey Mouse dan Donald Fauntleroy Duck. Sekarang Aku sedang berada di tepian jalan komplek perumahan dengan gaya arsitektur perumahan Inggris. Aku sedang menatap ke bawah. Ke terotoar yang terbuat dari semen. Terotoar tersebut sedikit diliputi oleh dedaunan kering musim gugur.

Saat itu keadaan sedang berada di pagi hari menjelang siang, sekitar jam sepuluh pagi. Saat itu Aku sedang marah-marah tanpa alasan. Aku menendangi sebuah surat kabar langganan dari suatu rumah berkali-kali dengan penuh kemarahan. Entah apa isinya. Sepintas seperti cerita komik pendek, namun sepintas juga seperti sederet kolom berita lowongan kerja. Bentuknya sudah lusuh. Terkadang peranku dalam mimpi itu tiba-tiba saja berganti menjadi seorang anak berpakaian piyama yang sedang memperhatikanku dari jendela kamar tingkat dua di dalam rumah yang berada di sebelah kiriku. Dia melihat diriku sebagai orang sinting.

Beberapa helai daun kering yang berserakan di depan telapak kakiku… kini mereka sedikit-sedikit tertiup angin kecil dan dari baliknya tampak perpotongan sambungan beton terotoar. Ada dua parit dengan jarak yang cukup pendek. Sekitar 30 – 50cm. Itu artinya ukuran beton terotoar tersebut tingginya jauh lebih pendek dibandingkan unit-unit beton terotoar yang lain. Bukan ukuran ketebalan, tetapi ukuran tinggi yang berasal dari perbandingan lebar dan tinggi.

Semen/beton terotoan yang memanjang itu terbagi kembali menjadi tiga potongan secara vertikal. Masing-masing bagian tedapat ukiran samar-samar. Entah berupa gambar apa, tapi Aku yakin seyakin-yakinnya, ukiran-ukiran tersebut ada kaitannya dengan alasan mengapa Aku bisa keluar dari dunia Mickey Mouse dan Donald Duck dan lalu tersadar di sini secara tiba-tiba. Sepertinya beton tersebut adalah semacam tombol sihir. Jika Aku menginjaknya, maka Aku akan bisa memasuki dunia yang lain untuk melihat sebuah pertunjukan yang menarik. Entah bagaimana tapi saat itu Aku tidak terpikir untuk menginjak satupun dari kedua potongan beton yang tersisa. Aku hanya berjalan lemas melewati beton aneh tersebut. Sepertinya Aku juga menggenggam surat kabar yang tadi sempat kutendangi dan kuinjak-injak. Di tangan kiriku.

Sebelah kanan adalah jalan utama yang biasa digunakan untuk lalu-lalang kendaraan. Saat itu suasana damai, tidak ada penduduk yang berlalu-lalang. Tapi Aku depresi sekali. Aku tidak tahu. Mungkin saat itu Aku sudah jadi orang setres. Aku kembali keluar dari situasi tersebut dan kembali ke situasi yang paling awal ketika pertama kali Aku mengawali mimpi ini. Aku tersadar bahwa saat itu Aku telah melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar! Aku pergi meninggalkan teman-teman di tempat kos tanpa membawa apapun. Aku benar-benar merasa depresi. Aku berjalan tanpa arah, melewati sekeliling desa yang ada. Desa-desa yang kulewati tidak sama dengan desaku. Lebih banyak jalan yang terbentang dibandingkan jumlah rumah yang berjejer. Jalannya berliku-liku, dan setiap rumah yang terlihat seolah dihuni oleh orang-orang yang tidak memiliki tetangga. Semua bentuk rumah yang kulihat adalah rumah semi permanen, namun tidak dibuat dengan sempurna. Tidak ada warna cat tembok, terkadang bangunan batu bata menyatu dengan kerangka kayu. Terkadang bangunan batu bata tidak ditutupi lagi dengan semen. Menyatu dengan alam.

Tanahnya becek seperti habis hujan. Aku sempat berpapasan dengan dua orang warga desa berupa ibu-ibu yang sedang asik mengobrol sambil berjalan. Sepertinya mereka habis berbelanja dari warung. Mereka berjalan melewatiku begitu saja.

Jalanan desa yang agak becek itu sebentar saja berakhir dan kini Aku berada di lingkungan perumahan dengan jalanan berupa batu kerikil. Kering, namun bukan tandus dan tidak terik. Cuma suasananya saja yang sedang cerah. Jalan berliku dan terus berliku. Aku berbelok ke arah kanan. Terus ke arah kanan. Seluruh jalan yang jelas dan meyakinkan semuanya mengarah ke arah kanan. Meskipun sebenarnya tidak bisa juga disebut sebagai belokan yang tajam. Aku lebih melihat bentuk jalanan pedesaan ini sebagai jalanan yang cenderung mencoba untuk melingkar ke arah kanan, namun tidak sempat berhasil karena kondisi tanahnya yang naik turun seperti di pegunungan.

Akhirnya Aku sampai di sebuah tempat yang entah mengapa sangat menarik perhatianku hingga membuatku terhenti untuk sesaat dan keluar dari lamunan.

Aku berada di tengah jalan setapak. Di hadapanku terdapat hamparan halaman rumah yang dipenuhi dengan hiasan batu kerikil, tersinari oleh matahari. Rerumputan tumbuh di sekelilingnya. Ada rumah di sebelah kanan halaman tersebut yang menghadap ke arah kiri (dilihat dari posisiku). Di seberang halaman rumah tersebut (dilihat dari posisiku) terdapat jalan setapak melintang menuju ke arah kanan. Dan di seberang jalan setapak tersebut terdapat sawah yang sepertinya masih baru dan sangat hijau. Hijaunya agak berbeda. Sulit menjelaskannya di sini, karena kalian mungkin belum pernah melihat bagaimana warna-warna daun tumbuhan sawah di musim gugur. Aku sendiri belum pernah melihatnya.

Kuputuskan untuk melangkah menuju jalan setapak tersebut dan melintasi halaman rumah terakhir yang kulihat. Kini Aku berjalan ke arah kanan dengan sudut 90° dari posisi awal. Meninggalkan halaman rumah yang begitu damai yang entah merupakan milik siapa.

Aku berjalan sambil melamun tanpa memperhitungkan waktu hingga akhirnya Aku berada pada sebuah tempat yang lembab seperti di desa sebelumnya. Aku hampir sampai di sebuah pertigaan. Jalanan yang kulalui adalah jalanan aspal. Di sebelah kananku terdapat sungai buatan. Terlihat tanggul bendungan dari susunan batu dan semen mengikuti arah sungai yang arah alirannya berlawanan dengan arah perjalananku, dimana di sebelah atas tembok tanggul tersebut terdapat perumahan yang bisa dibilang permanen.

Sesampainya di pertigaan, Aku berbelok ke arah kanan. Tiba-tiba suasana berubah. Kini ada banyak pohon-pohon khas pegunungan dengan bentuk batang pohon yang panjang-panjang dan tinggi menjulang. Entah mengapa Aku merasa sedikit takut saat itu, karena firasatku mengatakan bahwa di depan sana sudah tidak ada lagi perumahan, meskipun sejak awal perjalanan pada dasarnya Aku sama sekali tidak melihat sesosok manusia pun, kecuali dua orang ibu-ibu tadi. Jalan aspal menuju hutan pegunungan. Aku mempercepat langkah kaki bahkan sampai berlari dengan memejamkan mata, hingga Aku sampai di sebuah jalan yang dikelilingi oleh pepohonan yang sama, namun kini bukan lagi berupa jalanan aspal. Aku berada dalam jalan setapak. Bagian samping jalan setapak tersebut ditumbuhi dengan rerumputan sedangkan bagian tengahnya hanya berupa tanah biasa yang sering dilewati orang. Hutan ini tidak gelap. Sinar matahari menyinari dengan cukup dari sebelah atas tanpa menimbulkan rasa panas, dan tetap rindang karena dedaunan pohon menghalangi pancaran cahaya matahari yang datang. Beberapa puluh meter di depan, Aku melihat belokan tajam ke arah kiri. 90° ke kiri. Hanya satu jalan itu saja. Dari sini Aku bisa melihat jalan tersebut hanya berbelok sedikit lalu kembali menuju ke depan dengan jalan yang sangat lurus, bersih, terang, namun tetap berumput. Aku seperti sedang dipanggil oleh jalan itu. Aku tidak tahu jalan itu akan menuju ke arah mana tapi sepertinya jalan itu akan menuju ke dunia sihir atau semacamnya. Dalam pikiranku sudah terbayang hamparan hutan baru dengan ciri khas pangkal batang pohonnya yang selalu ditumbuhi oleh bunga-bunga liar. Aneh ya?

Sela-sela pepohonan yang jarang pada belokan tajam tersebut membuatku melihat belokan jalan ke dua yang panjang itu. Jadi, posisiku sekarang adalah berada di tengah jalan, di sekeliling pohon-pohon yang menjulang tinggi. Jika Aku berjalan ke depan terus maka Aku akan berbelok ke kiri lalu berbelok ke kanan lagi untuk kembali menuju mata angin yang sama seperti saat Aku berdiri di sini. Seperti mencoba menggambar kursi menghadap kanan dengan satu kaki depan saja yang penggambarannya dimulai dari kakinya: naik, belok ke kiri, lalu naik lagi.

Aku benar-benar depresi saat itu. Rasanya seperti ingin bunuh diri dan mati tetapi tidak bisa mati karena saat itu Aku merasa bahwa Aku itu sudah mati. Aku tidak punya tujuan. Seperti orang gila. Aku bingung harus bagaimana. Rasanya bingung sekali sampai ingin menangis dan berteriak AAAAARRRRRGGGGGGHHHHHHHHHHH…!!!

Aku tidak sempat melakukan apapun. Bahkan Aku tidak sempat terpikir untuk memutuskan melanjutkan perjalananku kembali yang tanpa arah. Sejauh ini Aku cuma mengikuti jalan yang terlihat saja. Aku tidak melihat siapa-siapa lagi saat itu. Aku benar-benar sendirian. Bahkan Aku tidak merasakan adanya Tuhan. Saat itu Aku terbangun.

14 September 2013

0 Komentar

Top