Loading…

Menahan Cegukan

Kebun Anggur

Terkadang Aku merasa bahwa di sini terdapat semacam kekuatan mistis. Entah itu makhluk lain atau sekedar kutukan. Meskipun jarang, tapi bukan berarti bahwa Aku tidak pernah mengalami masa-masa “percaya” terhadap hal-hal yang berbau kutukan atau kesialan seperti itu. Lumayan gila, tapi nyata.
Siang ini Aku telah mengambil keputusan bulat untuk tidak menyarankan semua orang memperbaiki hal-hal yang rusak di tempatku bekerja. Tidak akan lagi dan memang seharusnya sejak dulu kukatakan. Tempat ini terlalu aneh dalam caranya membuang-buang uang. Sesaat beres sesaat kemudian hancur kembali. bagaimana mungkin semua orang tidak kesal dengan keadaan ini. Mereka hanya menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang sudah tidak bisa diperbaiki. Atau mungkin istilah tepatnya: “telah dirancang agar tidak bisa diperbaiki”.

Waw, ada cicak di atap hehe… Sudah sekitar enam tahunan. Lebih malah. Kurasa hidup ini menjadi sedikit lebih kompleks. Nasi dan lauk memang ada, tapi minuman mahal harganya. Jus jeruk bisa dengan mudah didapatkan, tapi yang kuinginkan selama ini hanyalah air putih. Terlihat jauh lebih sederhana dibandingkan dengan Marimas, sirup Marjan dan susu SGM. Tapi Aku rasa kita semua telah sepakat bahwa betapapun segar dan manisnya segala jenis minuman di seluruh jagat raya ini, minuman paling nikmat dan paling menyegarkan tetaplah air putih. Aku hanya ingin merasakan ketenangan dan bukan kelebihan atau kekurangan. Yang biasa saja.
Dan jika selama ini Aku terkesan cukup tegar menghadapi segalanya, pada dasarnya semuanya itu tidak sepenuhnya benar. Aku adalah manusia biasa dan Aku sudah cukup putus asa sampai sejauh ini.
Aku masih ingat tentang betapa kekanak-kanakannya tulisanku di masa lalu, saat hanya tinggal beberapa detik saja Aku lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan, sampai saat ini rasanya hidup terasa begitu cepat. Pendewasaan kepribadian dan perubahan sikap dalam menghadapi masalah, dari yang tadinya dianggap remeh dan tidak serius menjadi lebih was-was. Sedikit merinding, tapi memang begitulah keadaannya. Jika saja dari dulu Aku tidak pernah menuliskan hal-hal pribadi mengenai diriku sendiri di sini, saat ini mungkin Aku tidak akan menyadari perubahan macam apa yang telah terjadi padaku.

Dan seperti yang para orang bejat katakan bahwa, “Menjadi manusia biasa itu jauh lebih menyenangkan dibandingkan menjadi manusia juara”. Tertawa di segala tempat, dan ketika sesuatu hal buruk terjadi kita bisa melampiaskan perasaan marah dengan senang hati tanpa mempedulikan keadaan sekitar, terlebih akan masa depan. No way!

Kita adalah sekelompok manusia yang terlalu sibuk menyelamatkan dunia hingga kita tidak pernah menyadari bahwa diri kita sendiri telah masuk ke dalam masalah yang tidak kita timbulkan secara langsung. Bukan kita yang menimbulkan masalah. Dan bukan pula masalah yang mendekati kita. Masalah dan diri kita pada dasarnya hanyalah butiran-butiran tak penting yang tersebar luas di segala penjuru. Suatu saat kita akan berpapasan dengan mereka tanpa sengaja, sekali atau dua kali. Seharusnya memang tidak sesering ini, tapi mau bagaimana lagi kita sendirilah yang telah berkomitmen untuk terus berjalan secepat mungkin demi mencapai tujuan sebelum kita menjadi tua dan sia-sia. Semakin cepat kita bergerak, semakin cepat kita berpapasan kembali. Itu masuk akal.

Jika tidak diperbaiki, lalu kamu akan mendapatkan gaji dari mana?

Bahkan saat ini Aku lebih memilih untuk tidak digaji asalkan dapat menghindari satu hal sinting yang sangat tidak layak ini. Benar-benar tidak layak untuk dialami.
Bagiku, bekerja tanpa mendapatkan gaji terasa jauh lebih mendekati normal dibandingkan mengalami satu jenis masalah (satu jenis saja) yang terjadi berulang kali dalam kurun waktu cegukan. Memangnya apa lagi sih yang kubutuhkan saat ini? Paling hanya keinginan kecil untuk berkuliah dengan hasil jernih payah sendiri. Meskipun sampai sekarang gajiku tidak pernah naik dengan signifikan karena ini itu. Tinggal Rp 400.000,- hahaha…

Setidaknya… Aku mengalami ini pada usia yang tepat. Selain itu, Aku masih tetap memiliki dan akan selalu memiliki tujuan akhir yang besar. Kupikir itu adalah cara terbaik untuk mencari tahu tentang bagaimana cara agar Aku bisa segera menyelesaikan cerita ini dengan senang hati dan tentang mengapa sampai sekarang Aku tetap tidak bisa menatap mata orang lain dengan nyaman.
Andai saja Aku diberi kesempatan bertemu dengan seorang dokter kejiwaan atau semacamnya pada waktu yang tepat, ingin sekali rasanya kutanyakan kepadanya dengan tenang, “Dokter, apakah Saya autis? Ataukah… ini semua hanyalah imbas dari, entahlah. Mungkin trauma yang terjadi?”

13 Januari 2012

Tahun 2012: Rp 400.000,- setara dengan 80 mangkuk baso porsi ekonomis dengan domisili kota Banyumas.

2 Komentar:

  1. Hahahaha... terkadang justru hal-hal sederhana yaa.. yang kita buthkan di antara sekian banyak hal2 yg tampak sangat luar biasa...
    Nice post, salam kenal yaa...

    BalasHapus
  2. mantaaap kang taufikk nihh ..

    BalasHapus
Top