Memilih Agama

Ketika banyak orang ribut mempermasalahkan soal mana agama yang paling benar, Saya akan dengan mudah mengatakan bahwa permasalahan agama pada dasarnya hanya soal keturunan. Seseorang yang lahir dari orangtua muslim akan tumbuh menjadi seorang muslim juga sejak kecil, begitu pula dengan seseorang yang lahir dari orangtua nasrani, yang juga akan tumbuh menjadi seorang nasrani juga sejak kecil.

Ini terjadi karena kita tidak pernah diperkenalkan dengan budaya memilih agama sejak kecil; karena budaya seperti itu memang tidak pernah ada. Dan lagipula, kalau pun budaya semacam itu benar-benar ada, akan selalu terjadi celah pengambilan keputusan anak-anak dalam memilih agama tertentu untuk dipengaruhi oleh pikiran-pikiran orang dewasa, terutama dari orangtua mereka, karena anak kecil tidak tahu apa-apa soal ketuhanan.

Mereka akan tahu apakah pilihan mereka itu benar/salah ketika mereka sudah dewasa, dan ketika mereka memutuskan bahwa agama mereka salah, pada saat itu mereka akan berpindah agama.

Saya tidak termasuk dalam kategori orang yang mengalami konflik batin terhadap agama Saya, tapi Saya tahu bahwa salah satu konflik terbesar dalam berpindah agama adalah mengenai kesulitan dalam memilih: antara Tuhan, atau orangtua.

Anak-anak durhaka dan anak-anak yang tumbuh tanpa orangtua seharusnya akan lebih mudah memutuskan untuk berpindah agama karena mereka tidak punya ikatan.

Beberapa orang lebih memilih untuk mengorbankan surga dan Tuhan mereka “yang sesungguhnya” karena mereka adalah orang-orang yang shaleh; anak-anak yang mencintai orangtua mereka atas nama Tuhan mereka masing-masing.

31 Maret 2016