Loading…

Mati Satu Tumbuh Seribu

Rel Kereta Merah

Adalah Aku, seorang anak pendek dengan begitu banyak beban dan bahasa yang tidak menentu. Seorang anak kurus layu dengan begitu banyak cerita dan harapan yang tak lagi tersalurkan. Mereka selalu bilang bahwa Aku ini orangnya aneh. Seperti halnya Aku menganggap diriku aneh. Seorang anak yang akan menjadi anak-anak selamanya. Di usiaku yang ke enambelas tahun ini, Aku telah mengalami begitu banyak beban mental melebihi orang-orang besar sekalipun. Sebuah persahabatan yang seharusnya kokoh mau tak mau harus terpisahkan oleh sebuah pilihan yang tak mungkin tak dipilih: kuputuskan untuk mengundurkan diri.

Kuingkari janjiku untuk sesuatu yang tak sanggup kutolak. Kalian tahu? Setiap kali kulihat wajah ayahku, ibuku dan juga kakak-kakakku, tak pernah ada lagi rasa tega dalam hati ini untuk membangkang dan memutuskan diri dari tali keluarga kami. Aku selalu merasa bahwa, mereka semua terlalu berbahagia dengan pundi-pundi kemiskinan mereka. Andaikan saja Aku terlahir sebagai seorang anak emas, mungkin akan lebih baik jika kubenturkan saja diri ini ke bawah jurang itu agar Aku bisa lekas tercerai-berai, hingga kemudian Aku bisa menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku ini untuk menghidupi mereka semua. Namun Aku bukanlah seorang anak emas. Aku hanyalah seonggok mayat hidup dengan selembar kulit kering kemuning yang bahkan tak bisa berubah rasa dan sifat. Asin dan pahit. Seorang anak bodoh yang bahkan masih belum bisa mengumpulkan banyak uang untuk berkuliah. Bodoh dan tolol.

Persahabatan itu menyakitkan. Sungguh, Aku tidak bercanda. Begitu banyak pengorbanan saat itu, dan Aku hanya bisa mengatakan bahwa Aku sedang berada dalam kebingungan dan keputusasaan. Rozak, Sunardi, mbak Ras, mbak Ita, mbak Wiwi, mbak Desi dan beberapa orang lainnya yang bahkan belum sempat kuceritakan sebenarnya telah membuatku cukup hasrat untuk memutuskan bahwa Aku selayaknya menetap di sini. Di toko galonan, tempat orang-orang mencari formula penghilang dahaga. Tuhan terlalu cepat bertindak. Dan Aku begitu serta-merta mencoba melawan takdir. Namun selalu saja ada bisikan kecil dalam dada ini yang terus mendorongku untuk keluar dari tempat indah itu. Aka ada sangat banyak pengorbanan. Aku sadar itu. Namun Aku mempunyai masa depan yang besar! Sesuatu yang berada di luar jangkauan kalian semua.

“Ya, Aku akan meloncat-loncat terus sampai Aku bisa berkuliah”, kataku di senja itu. Sementara gemuruh riuh jalan raya memecah suasana hening pelataran toko ini. Sekumpulan pelajar SMA yang baru lulus sekolah nampak melalu lalang membentuk konvoi-konvoi yang tak beraturan dengan seragam putih kelabu mereka yang kini telah jadi pelangi. Sangat meriah!

“Memang. Kamu itu masih sangat muda dan bebas. Yang terpenting sekarang adalah kamu harus mencari pekerjaan yang dapat memberimu cukup banyak waktu luang untuk memikirkan masa depanmu. Tidak seperti di sini.” Rozak saat itu menasihatiku, sambil tetap berusaha untuk tampak rileks. Ketika Aku sedang duduk di kursi, sementara ia sedang duduk di lantai. Agak kecewa. Lemas. Dan hampir jatuh pingsan. Dasar bodoh. Harusnya kamu masih ingat tentang apa kataku di siang hari yang panas itu: “Jangan terlalu percaya pada orang lain. Jangan terlalu percaya padaku. Karena jika tidak, maka kamu hanya akan diliputi perasaan sakit hati saja.”
Dan sekarang Aku menghianatimu. Aku pergi untuk mengejar cita-citaku lagi. Terbang lebih jauh untuk sesuatu yang bahkan belum sempat kuperhitungkan (sekarang kalian semua telah melihat, siapa sang penjahat yang telah lama kucari-cari dalam cerita ini).
“Karena jika tidak, maka perlahan cita-citamu itu akan menghilang akibat pekerjaanmu yang berat ini. Kamu itu masih muda, jangan sampai fisikmu rusak karena ini. Sebenarnya bukankah memang itu yang membuat keluargamu memaksamu untuk keluar?”

Ya, sampai sekarang Aku memang tak pernah mengerti akan jalan berpikir orang-orang miskin seperti kami. Di satu sisi, kami membutuhkan begitu banyak uang, namun di sisi lainnya lagi kami lebih cenderung mementingkan diri untuk meningkatkan derajat kami. Bukan dengan uang, tapi dengan ilmu!
“Tidak usah memikirkan gaji dulu. Yang penting sekarang bakatmu tersalurkan. Ibu takut jika kamu terus berada di sana, kamu jadi tidak bisa melanjutkan rencana-rencanamu lagi”, kata ibuku. “Memang, kamu juga akan mendapatkan begitu banyak pengalaman di sana, namun pengalaman-pengalaman di sana terlalu sempit. Otakmu tidak akan berkembang, karena di sana kamu lebih banyak bekerja dengan fisik, bukan dengan pikiranmu.”

Semenjak Aku bekerja di toko ini, Aku memang telah cukup banyak mengalami perubahan fisik dan mental. Badanku kini tak lagi sekerempeng yang dulu. Tanganku sudah agak berotot, dan warna kulitku kini sudah menghitam. Wajahku berjerawat dan telapak kakiku pecah-pecah.
Mungkin Tuhan lebih suka melihat diriku yang putih bersih dari jerawat, sama seperti Aku yang dulu. Seorang anak manja yang tak pernah mau keluar rumah dan hanya bermental tempe goreng. Mungkin.

Itu dulu. Sekarang ceritanya sudah lain lagi. Aku sudah bisa berkomunikasi dengan para konsumen, sekaligus mengungkapkan beberapa hal terpendam dalam hatiku kepada orang-orang yang dapat kupercayai. Kini Aku sudah berbeda (agak berbeda). Aku sudah tak lagi takut akan dunia luar! Aku bukanlah Aku yang compang-camping di masa lalu. Aku adalah sebuah tombak emas yang akan menancap di bulan. Tepat di sebelah sana. Malam itu, bulan purnama hampir saja penuh. Mungkin sekitar satu atau dua hari lagi.

Sebuah keputusan yang salah. Benarkah? Mungkin iya. Entah kekuatan apa yang terus saja berusaha mendorongku untuk keluar dari sini. Mungkin Tuhan telah bicara. Mungkin Tuhan telah menampakkan jati dirinya, menjelma menjadi sebuah bintik kecil dalam hatiku. Hati kecilku terus berbicara. Hati kecilku terus mendukungku. Namun setiap kemajuan besar selalu membutuhkan pengorbanan besar. Persahabatan kita.
Ah, kalian tak akan mungkin tahu seperti apa hubungan persahabatanku dengan anak-anak di sini. Ceritanya terlalu rumit. Sangat rumit. Dan kini Aku telah mengambil keputusan yang salah. Namun itu bukan salahku. Tuhan yang menyuruhku untuk mengambil keputusan itu.

Sangat cepat tanpa bekas. Aku bahkan belum sempat berpamitan dengan anak-anak di toko emas yang letaknya sangat dekat bersebelahan dengan toko galonan, hanya terpisah oleh sebuah pintu gerbang masuk keluar kendaraan mereka. Aku belum sempat berpamitan kepada semuanya. Bahkan kepada Sunardi.

Sehari kemudian mungkin akan terjadi sedikit desas-desus tentang keluarnya diriku yang tanpa terkabar dan tanpa terjejak. Tapi itu cuma sementara. Beberapa minggu kemudian, Aku yakin, pada akhirnya kalian semua pasti akan segera melupakanku.

Mati satu tumbuh seribu. Aku mati, kemudian seribu kebahagiaan akan kembali datang. Sebentar lagi, toko-toko ini pasti akan segera ramai kembali oleh para pegawai.
Aku tidak akan pernah melupakan kalian semua. Aku berjanji. Dan Aku tidak akan pernah meminta maaf lagi akan kesalahanku ini. Aku sudah tidak selayaknya dimaafkan oleh kalian.

Malam itu Aku menuntun sepedaku perlahan, sembunyi-sembunyi menuju pintu belakang. Keluar menuju peternakan sapi dan kambing, kemudian menerobos jalanan sempit dalam pekarangan yang gelap gulita. Sampai terlihat cahaya lampu jalan, Aku terus bersepeda. Hingga pertigaan jalan. Hingga perempatan jalan. Hingga perempatan jalan. Hingga dan hingga. Hingga dan hingga. Hingga dan hingga. Hingga dan hingga.

Hingga sampai di muka perpanjangan rel kereta api. Saat itu bunyi gemuruh gerbong-gerbong kereta api sudah tampak terdengar. Dari arah sana… semakin dekat dan semakin dekat. Getar-getar rel kereta api dan roda kereta api dan keadaan hatiku ini tak bisa lagi kuselaraskan. Hingga semuanya kini tercabik. Aku tercabik-cabik. Hati dan jantungku kini terbentur-bentur sambungan rel kereta. Rasanya sakit. Sakit sekali. Saat-saat gemuruh kereta yang sangat sempurna untuk menyembunyikan isak tangisku yang memburu malam itu.

Kalian tahu? Beberapa detik yang lalu Aku sempat berpikir untuk bunuh diri saja. Ya, dengan kereta itu. Namun sebodoh-bodohnya diriku, kurasa Aku tidak akan pernah senekat itu untuk mengakhiri hidup ini dengan cara yang sangat memalukan seperti itu. Hidup ini memang sulit, namun Aku masih tetap mempunyai orang-orang yang mau menghargaiku. Aku tidak ingin mati sebelum kugapai semua cita-citaku.

Jujur saja, karena keputusan ini Aku sungguh merasa malu kepada kalian semua. Ini sudah menjadi garis takdirku dan Aku tidak bisa menghindarinya. Terlalu banyak cinta di sana. Dan Aku tidak suka itu. Aku hanya memiliki satu hati, Kau ingat? Harus kubagi menjadi berapa belahan lagi hatiku ini agar kalian semua bisa berbahagia? Aku hanya… Aku hanya tidak ingin kalian semua membenciku. Sudah cukup masa-masa kehilangan teman di masa SMK. Namun kini Aku kembali kehilangan dirimu lagi. Dalam desir angin malam yang membeku itu Aku menyeberangi rel kereta api. Sendirian. Dengan sebatang sepeda usangku yang telah begitu lama menyambung kehidupanku selama kubersekolah dulu. Dalam gelapnya malam 16 Mei 2011. Di bawah awan-awan yang terbajak Tuhan dalam garis-garis yang tampak pudar…
Aku menghilang.

16 Mei 2011

2 Komentar:

  1. Wah.. sob. memutuskan untuk resign ? memang dibutuhkan kebulatan tekat, apalagi blm tahu apa yg akan dilakukan berikutnya ? Namun semoga keputusan ini adalah awal yg tepat untuk merubah keadaan menjadi lebih baik, as your wish..
    Yang penting jangan pernah sesali apa yg sdh menjadi keputusanmu, dengan kata lain menoleh ke belakang.. krn itu hanya akan menunda dan menghambat perjalananmu. Lebih baik gunakan waktumu untuk terus berjalan agar dapat selangkah lebih maju..
    Gali potensi diri, lapangan pekerjaan tidak selalu didapat dari org lain, namun dapat juga dari diri sendiri. Aku lihat, kamu sungguh pandai berolah bahasa, mengapa tidak mencoba untuk menjadi seorang penulis ?
    Aku doakan, semoga kamu segera menemukan apa yg selama ini kau cari.. jgn pernah menyerah yah.. Keep spirit..!!!

    BalasHapus
  2. Blognya bagus...

    adem ayem....

    hehe....

    BalasHapus
Top