Loading…

Maju Satu Langkah

Aku baru memulai ini selama tiga minggu. Untuk masa-masa awal memang terasa sangat sulit, ketidaktegasan atasan dalam memberikan tugas dan orang-orang di sekelilingku yang masih belum kukenali memang semakin membuatku merasa kurang dipercayai dan kurang berguna bagi mereka sebagai sesama pegawai. Aku masih tidak tahu menahu soal apakah ini semua hanyalah pemanasan pada masa awal bekerja ataukah memang sudah apa adanya seperti ini? Yang jelas, sejak tanggal 25 Januari yang lalu, Aku telah berhasil menghentikan rekor terberat pengangguranku yang tercatat selama 1 tahun, 7 bulan, 25 hari dan 8 jam.

Autumn

Singkat cerita, sekitar jam 8 pagi Aku mulai bekerja di sebuah toko emas. Pada kenyataannya, saat itu rasanya canggung sekali hanya diminta duduk dan melihat-lihat saja. Bagi kalian yang pernah mengalami masa-masa awal bekerja pasti akan merasakan itu, perasaan bingung dan ketidaktahuan akan apa yang harus kamu kerjakan karena sang atasan tidak terlalu menegaskan tugasmu. Itu juga yang terjadi padaku saat itu. Terlebih lagi di sini hanya terdiri dari pegawai-pegawai wanita, sehingga bisa dipastikan Aku tidak akan pernah cocok singgah di sini. Beruntung, pada akhirnya Aku diminta untuk bekerja di sebelah atas, bagian penyepuhan emas. Meskipun hanya sebagai asisten, namun Aku berharap keputusan ini bisa bertahan lama mengingat membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan emas berlian dan kebertambahcantikan para pelanggan ketika memakai perhiasan ini dan itu bisa saja membuatku gila!
Di sini kami juga mendapatkan dua pilihan, antara memilih untuk menginap layaknya di tempat kos ataupun memilih untuk pulang pergi dari rumah layaknya anak bersekolah. Semuanya terserah kami.
Untuk alasan tertentu, Aku memilih untuk menginap.

Hari berlalu lagi. Ngomong-ngomong soal kesempurnaan olah rasa dan penggemblengan hati, mungkin memang benar apa yang telah dikatakan orang-orang bejat kepada kami, bahwa yang namanya konflik dan permasalahan di mana saja dalam persahabatan pasti akan selalu ada. Dalam hal ini sih, sebenarnya lebih mengarah kepada perkataan-perkataan yang agak menyakitkan hati.
Aku yakin seseorang yang sedang kubicarakan ini juga tidak menyadarinya. Itu wajar saja, dan Aku juga masih bisa memakluminya. Dia masih terlalu kekanak-kanakan untuk mengerti tentang bagaimana sebuah perkataan bisa melukai perasaan orang lain.
Terkadang Aku juga merasa kurang dihargai sebagai sesama pegawai. Aku terlalu diistimewakan, dan Aku tidak suka itu. Aku juga tidak suka dijadikan sebagai objek humor secara mutlak, seolah-olah Aku ini bukannya manusia melainkan hanyalah sebuah boneka kucing yang lucu. Meskipun menjadi orang lucu itu baik, namun jika pada akhirnya tanggapan mereka berlebihan akan menjadi terasa tidak nyaman juga secara pribadi. Panggilan berkali-kali yang biasa mereka lontarkan kepadaku terkadang membuatku merasa risih, meskipun tujuan mereka sebenarnya adalah untuk membuatku tertawa. Namun cara-cara para wanita memanggilku selalu saja membuatku merasa memiliki beda usia yang jauh, meskipun sebenarnya tidak sama sekali. Aku merasa dianak-anakkan kembali oleh mereka.

Andaipun Aku mengungkapkan semua keluhanku ini kepada mereka, Aku yakin mereka justru akan menertawakanku, karena apa yang terjadi padaku ini memang merupakan masalah yang sangat sepele bagi mereka. Sayangnya cara berpikirku sudah terlanjur berbeda dari kalian semua semenjak Aku mengalami masa-masa sulit. Dan semua itu masih tetap berlangsung sampai sekarang. Aku bisa menganggap sesuatu yang sulit sebagai sesuatu yang mudah atau sebaliknya. Aku bisa begitu mudah emosi hanya karena hal-hal sepele, sementara orang lain tidak. Aku juga bisa dengan mudah menertawakan sesuatu yang menurut orang lain tidak lucu.

Salah satu contoh sederhana adalah ketika Aku memperhatikan cara berjalan seekor kucing betina. Aku bisa saja langsung tersenyum-senyum sendiri di antara segerombolan orang, sementara orang lain yang memperhatikan tingkahku mungkin akan menganggapku aneh dan mulai bertanya padaku mengapa Aku tersenyum-senyum sendiri. Jelas saja mereka bertanya, karena sikapku terkadang memang aneh terhadap sebuah peristiwa yang sebenarnya tidak aneh. (Katanyaaa…)
Sebuah kenyataan yang wajar karena selama ini mereka memang tidak pernah tahu tentang isi pikiranku. Satu-satunya sebab mengapa Aku bisa tertawa akibat melihat seekor kucing betina dari arah belakang adalah karena Aku bisa mengetahui perbedaan antara kucing yang masih perawan dengan yang sudah tidak perawan hanya dari cara berjalannya. Itulah yang sebenarnya membuatku tertawa. Namun mereka semua masih tidak mengerti tentang pola-pola pemikiranku. Mereka semua adalah orang-orang normal yang sulit untuk memahamiku, di luar konteks bahwa Aku juga masih belum bisa memahami diriku sendiri. Aku bahkan tidak bisa berekspresi. Bagaimana mungkin mereka bisa membaca pikiranku?

Jujur saja Aku sama sekali tidak ingin terganggu dengan itu, mengingat Aku masih mempunyai rencana masa depan yang (tidak kusangka-sangka) masih bisa konsisten sampai sekarang.
Sementara ini Aku sudah merasa cukup untuk beberapa hal, karena untuk saat-saat seperti ini memang tidak ada hal lain yang jauh lebih mengerikan di dunia ini kecuali bertemu dengan bulan Februari dalam keadaan yang sama. Pada intinya, masa-masa sulit ini masih akan tetap berlangsung sampai kapanpun, karena mau tidak mau Aku memang harus menerima kenyataan bahwa Aku berbeda dengan kalian semua. Bahkan dulu Aku sempat sembarangan mengira bahwa Aku ini seorang anak autis. Namun setelah kubaca beberapa artikel yang berhubungan dengan psikologi kepribadian, 99% bisa dipastikan bahwa Aku adalah seorang anak introvert dengan tipe belajar visual. Aku benar-benar merasa lega dengan itu.

Suatu hari Aku pernah ditanya oleh salah seorang pembantu rumah tangga di tempatku bekerja tentang berapa usiaku sebenarnya. Saat itu Aku tidak menjawabnya untuk alasan-alasan tertentu, hingga kemudian dia mencoba menerka-nerka sendiri dan pada akhirnya berkata bahwa usiaku adalah 15 tahun. Padahal usiaku yang sebenarnya adalah 18 tahun! Memang, jika dilihat dari segi fisik dan cara berkomunikasiku yang serba standar ini, tak bisa kupungkiri lagi bahwa Aku memang tampak sebagai seorang anak berusia 15 tahun secara luar dan dalam. Sebuah fakta yang telah menjawab semuanya tentang mengapa sikap orang lain selalu lain kepadaku dibandingkan orang lain bersikap terhadap orang lain dan lain-lain. Terutama wanita.
Mungkin karena proses berpikirku saja yang selama ini terlampau jauh ke depan hingga pada akhirnya Aku terjebak dengan duniaku sendiri. Kepribadianku sendiri. Kesalahan persepsi bahwa Aku merasa kurang dihargai sebagai seseorang yang hadir di antara kalian mungkin juga disebabkan karena Aku kurang menghargai diriku sendiri. Kuyakini itu semua cuma soal perasaan pribadi dan penyangkalan kata hati yang tidak beralasan.

Beberapa hari yang lalu Aku sempat berpikir praktis saja untuk menjadi seseorang manusia dengan kepribadian apa adanya sesuai dengan yang selama ini orang anggap. Kurasa metode itu jauh lebih praktis dan tidak banyak menguras tenaga, mengingat di sini Aku juga sudah mulai merasa kelelahan baik secara fisik maupun secara hati. Entah itu orang aneh, kentut aneh, tai kucing aneh atau apapun itu, Aku sudah tidak peduli lagi dengan segala keberatan hatiku tentang penilaian kalian terhadapku. Semuanya akan kuterima dengan senang hati jika itu memang tidak merugikanku. Mulai sekarang, namaku adalah Taufik Nurrohman. Usiaku 15 tahun. Dan Aku tidak suka makan ceker ayam!

25 Januari – 18 Februari 2011

0 Komentar

Top