Kos

Keluarga Saya tidak mengizinkan Saya menggunakan sepeda motor di kota. Mereka bilang alasannya karena Saya sering melamun. Saya berasumsi bahwa mereka yakin jika aproksimasi angka kematian pada diri Saya dapat diturunkan menjadi 0% dengan meniadakan variabel sepeda motor dari lingkungan uji coba. Saya anak terakhir. Lagipula, Saya juga bukan tipe orang yang banyak keluar rumah, jadi tidak masalah bagi Saya jika Saya harus hidup di suatu tempat tanpa kendaraan. Saya masih punya kaki. Walaupun, sebenarnya ada beberapa hal yang sempat membuat Saya sangat down sepanjang tahun hanya karena sesuatu yang sangat sepele seperti ini.

Saya ingin menyimpan cerita tersebut setelah wisuda nanti.

Kalau kamu adalah orang lain dan kamu sedang melihat seseorang yang mengenakan kacamata, mungkin kamu akan merasa baik-baik saja. Kamu bahkan berpikir orang tersebut juga merasa baik-baik saja dengan mengenakan kacamata. Tapi mungkin tidak dengan orang tersebut. Karena masalahnya bukan ada di kacamata. Orang tersebut mungkin saja sedang putus asa karena cita-citanya untuk menjadi seorang polisi tidak akan pernah bisa tercapai.

Selama tiga tahun terakhir Saya tinggal di sebuah rumah kos yang jaraknya tidak jauh dari kampus, sekitar 60 meter saja dari pintu gerbang. Saya hanya perlu menyeberang jalan umum sekali dan itu pun masih dapat dibantu oleh satpam kampus. Sehingga, tidak mungkin rasanya jika Saya sampai dapat mati dengan cara sesederhana tertabrak mobil atau sepeda motor. Selain itu, kumpulan gantungan kunci logam di tas Saya yang akan berbunyi setiap kali mereka saling berbenturan sudah cukup membantu Saya fokus pada dunia nyata.

Di sini Saya tinggal sendiri. Bukan dalam artian seorang diri, hanya saja tempat kos yang Saya tinggali memang bukan murni merupakan tempat kos. Ini adalah sebuah rumah biasa yang dihuni oleh para pemiliknya. Jadi bisa dibilang, Saya seperti sedang tinggal di rumah orang lain.

Ada beberapa keuntungan yang Saya rasakan ketika tinggal di tempat kos seperti ini. Pertama, rumah ini tidak akan kosong. Setiap hari rumah ini akan tetap terisi oleh penghuni meskipun Saya telah keluar dari kamar Saya untuk pergi ke suatu tempat, karena sejak awal rumah ini memang sudah ada pemiliknya. Selain itu, tepat di seberang rumah ini juga terdapat pos ronda, sehingga mustahil jika ada maling atau penjahat yang berani mencoba-coba menyelinap ke kamar Saya.

Ke dua, penggunaan listrik dan air tidak dapat mereka hitung dengan jelas, karena kami seperti menggunakan semua itu bersama-sama. Sehingga untung-rugi dalam hal ini benar-benar tergantung pada masing-masing orang, bagaimana cara kami menggunakannya. Kadang Saya juga dapat hal-hal gratis dari mereka. Seperti hubungan baik antara tuan rumah dan tetangga, hanya saja di sini semuanya tinggal dalam satu rumah.

Ke tiga, Saya dapat memperoleh privasi sepenuhnya. Tinggal bersama dengan orang-orang yang berbeda usia, apalagi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Saya, membuat kehidupan Saya di sini berjalan dengan tenang tanpa adanya gangguan dari orang-orang terdekat. Saya secara otomatis dapat memperoleh dua macam lingkungan yang berbeda di tempat yang sama, sesuai dengan keinginan Saya. Yang artinya bahwa jika Saya sedang butuh bersama dengan teman-teman seumuran, maka Saya cukup pergi ke kampus, sedangkan jika Saya sedang lelah dengan mereka, Saya bisa pulang dan mengurung diri dalam kamar, atau pulang untuk mengobrol dengan pemilik kos. Akan berbeda ceritanya jika Saya tinggal di tempat kos yang sama dengan tempat kos teman-teman sekelas Saya. Tidak di kampus, tidak di tempat kos, tidak pagi, tidak siang, tidak sore, tidak malam; ujung-ujungnya tetap bertemu dengan orang-orang yang sama, teman satu kampus. Jenuh.

Saya pikir, dalam pernikahan juga begitu. Suami dan istri tidak seharusnya bekerja di tempat yang sama. Ujung-ujungnya nanti akan cepat bosan, apalagi kalau sedang ada masalah, jadi tidak ada tempat untuk pelarian atau menenangkan diri jika ke mana-mana harus bersama. Tidak di rumah, tidak di tempat kerja; selalu bertemu dengan orang yang sama. Jenuh.

Kekurangannya mungkin ada di segi kewenangan dan waktu. Saya tidak bisa dengan leluasa membawa harimau dan gajah ke dalam kamar. Kadang, jika Saya terlanjur pulang cepat dari kampus karena jam kosong, biasanya pintu rumah juga masih terkunci karena beberapa waktu sebelumnya pintu akan dikunci oleh pemiliknya sesaat setelah Saya berangkat ke kampus. Di jam-jam tersebut, biasanya mbak Siti sedang berada di sekolah bareng si Radit. Jadi alternatifnya, Saya bisa pergi main ke tempat kos teman Saya terlebih dahulu atau mampir ke warung, menunggu sampai jam 12 siang.

Pada akhirnya, Saya harus tetap ingat dengan status Saya di sini, bahwa Saya hanya seseorang mahasiswa yang sedang tinggal di rumah orang lain, untuk sementara.

Satu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan lima orang anak. Anak pertama adalah laki-laki, sudah jarang terlihat di rumah karena merantau ke luar pulau Jawa. Biasa dipanggil mas Amin. Belum lama ini dinyatakan resmi menikah, tapi masih belum mendapatkan momongan. Anak yang ke dua perempuan, namanya mbak Siti. Janda dengan satu anak: anak laki-laki. Usianya sekitar 9 tahun, tapi belum juga berhasil masuk SD. Namanya Raditya, biasa dipanggil Radit. Radit sebenarnya sudah mendaftar beberapa kali ke sekolah-sekolah terdekat tapi sampai sekarang ternyata masih belum juga berhasil diterima karena tidak lolos tes. Sebelumnya mbak Siti pernah menikah lagi untuk yang ke dua kali. Saya bahkan mengalaminya di tempat, sekitar pertengahan Semester III kalau tidak salah. Tapi Saya tidak mengalami saat-saat mereka jadi pengantin karena waktu itu Saya sedang praktik. Hingga entah kapan dan bagaimana akhirnya mereka bercerai. Anak yang pertama juga, agaknya sudah berencana untuk bercerai karena beberapa hal. Peristiwa kegagalan pernikahan dalam keluarga ini sangat menonjol bagi Saya.

Anak yang ke tiga adalah laki-laki. Belum menikah, tapi sudah punya pacar. Biasa dipanggil mas Ibun. Ibu kos bilang dulu dia termasuk anak yang pintar di kelas, tapi karena tidak melanjutkan sekolah akhirnya dia bekerja; entah di mana, sepertinya kerja semacam mengantar stok barang-barang untuk dijual di toko-toko tertentu. Berangkat mengendarai sepeda motor dari jam 6 atau jam 8 pagi dan pulang di atas jam 12 malam atau bahkan tidak pulang sama sekali. Kalau pulang biasanya dia bawa satu karton susu formula untuk anak-anak, tapi kemasannya kebanyakan sudah rusak. Mungkin dia sengaja beli barang-barang yang rusak tersebut sebagai kesempatan untuk mendapatkan harga miring.

Yang ke empat dan ke lima masih sekolah. Pertama kali Saya masuk ke sini mereka masih SMP, tapi sekarang sudah masuk SMA. Anak kembar, perempuan. Rambutnya keriting, badannya gendut. Tiap hari kerjanya bertengkar satu sama lain, atau kalau tidak ya bertengkar sama si Radit. Kalau bukan soal uang jajan biasanya soal makan. Namanya Evi dan Elin, tapi Saya lupa yang pertama itu yang Evi atau yang Elin.

Mbak Siti sekarang tidak bekerja. Sempat membuka usaha jual pulsa telepon seluler sih, tapi tidak ada tokonya. Hanya menyediakan jasa pengisian pulsa. Belakangan ini sepertinya sudah berhenti karena sejak kemarin Saya mau isi pulsa alasannya selalu saja ‘belum deposit’. Saya tidak tahu artinya apa.

Bapak kos kerjanya serabutan. Kadang bekerja sebagai kuli bangunan, kadang juga memulung. Ibu kos sepertinya tidak bekerja. Biasanya pergi ke pasar bareng mbak Siti, tapi Saya tidak yakin untuk apa. Tidak jarang juga Saya melihat beliau memulung. Melihat dari cara mereka mencari uang, kadang Saya takjub bagaimana mereka tetap bisa memberikan uang jajan lebih dari 10 ribu rupiah setiap hari kepada anak-anak, terutama untuk anak-anak yang sekarang sedang sekolah di SMA.

Para tetangga di sini juga banyak yang membuka usaha kos. Di sini adalah lingkungan kampus, jadi wajar saja kalau hampir semua penghuni di sekitar kampus membuka usaha sewa kos. Kadang Saya bertemu mereka saat di warung dan kemudian mengobrol. Tidak. Lebih tepatnya mereka yang bicara kepada Saya dan Saya cuma mendengarkan atau sekedar menjawab pertanyaan.

Kadang mereka bertanya kok bisa Saya betah tinggal di kos Saya yang sekarang sampai hampir genap 3 tahun. Mereka suka bertanya seperti itu karena mereka pikir masih ada beberapa tempat kos yang lebih layak untuk ditinggali dibandingkan dengan tempat kos dimana Saya tinggal sekarang. Selain itu, di sini Saya juga tinggal sendirian. Kemudian mereka juga biasanya akan menawarkan Saya untuk pindah ke tempat kos mereka, atau ke tempat kos yang lain. Kadang mereka juga tanya-tanya soal harga tempat kos Saya.

Saat mereka menanyakan hal-hal tersebut kepada Saya, alasan Saya selalu sama: bahwa Saya tidak suka berpindah-pindah, bahwa Saya tidak pernah ada masalah dengan tempat kos Saya yang sekarang, bahwa Saya malas membawa barang-barang Saya ke tempat yang baru; bahwa… anggap saja uang yang telah Saya berikan kepada mereka sebagai biaya sewa kos memang sudah ditakdirkan untuk menjadi rejeki mereka. Walaupun sebenarnya alasan yang paling benar adalah karena Saya sulit atau lambat dalam beradaptasi dengan lingkungan. Dan oleh karena kesulitan Saya itu, maka ketika Saya telah berhasil nyaman tinggal di suatu tempat, akan sulit rasanya untuk berpindah ke tempat yang baru. Sama seperti kamu juga. Kalau Saya sudah nyaman sama kamu, rasanya sulit sekali untuk pindah ke lain hati.

Saat itu, satu tahun tinggal di sini biayanya Rp 2.250.000,00; sudah termasuk biaya listrik dan air mandi. Setiap tahun Saya membayar setengahnya dari penghasilan Saya di internet. Mbak Saya pernah janji ke Saya kalau setelah kuliah nanti penghasilan tersebut akan sepenuhnya menjadi milik Saya. Tapi, penghasilan Saya tahun ini sudah turun drastis karena Saya sudah tidak aktif lagi di dunia maya selama 24 jam seperti dulu.

Dulu, pas pertama kali Saya masuk ke sini sebenarnya sudah ada dua orang penghuni. Namanya Vecky dan Fiqih. Keduanya adalah mahasiswa semester baru di kampus yang sama dengan Saya. Mereka masuk jurusan S1 sedangkan Saya masuk jurusan D3. Vecky berasal dari Cilacap. Orangnya kurus, tinggi dan hitam. Sedangkan Fiqih berasal dari Pemalang. Orangnya padat berisi dan putih, tingginya kurang lebih 3 cm di bawah Saya. Vecky itu orang luar rumah, tipe orang yang tidak akan betah bila berlama-lama tinggal di tempat kos, sedangkan Fiqih sebaliknya, orang dalam rumah; otaku, sama seperti Saya. Hanya saja lebih parah. Hobinya juga menggambar. Kadang dia suka minta diajari Saya kalau sedang ada waktu luang. Tapi sekarang mereka sudah pindah. Kedua-duanya. Bahkan, sejak awal Vecky juga Saya perhatikan lebih sering nongkrong di tempat kos teman-temannya. Maklum, anak muda. Jiwa bersosialnya masih sangat tinggi dan labil, sehingga gampang terpengaruh dengan yang lain. Apalagi sekarang status kita bisa dibilang seperti anak-anak rantau. Saya tidak ingat dengan jelas kapan mereka memutuskan untuk pindah, tapi yang jelas, ketika Saya pulang praktik mereka sudah tidak ada lagi di tempat kos.

Mereka sudah pamit ke Saya sebelumnya, dan sempat mengajak Saya untuk ikut juga.

Menjelang semester akhir, Ihvan, teman sekelas Saya, memutuskan untuk tinggal di tempat kos Saya karena bosan harus bolak-balik dari Ajibarang ke kampus setiap hari. Dia tinggal di sini hanya beberapa bulan saja. Sebelum memutuskan pindah, Ihvan pernah cerita ke Saya kalau dia dan keluarganya sedang mencari rumah baru di sekitar Purwokerto, sampai akhirnya dia benar-benar pindah saat itu, setelah dapat rumah baru sesuai dengan apa yang diinginkannya. Kadang dia masih suka main ke sini, numpang tidur sama BAB.

Tidak terasa tiga tahun telah berlalu. Kalau semuanya berjalan dengan lancar, maka kurang dari empat bulan ke depan Saya sudah bisa wisuda dan mendapatkan gelar Ahli Madya Keperawatan. Setelah itu Saya bisa pergi ke tempat yang baru, dan kemudian mendapatkan pekerjaan. Mendapatkan lingkungan yang baru, dan kemudian bertemu dengan orang-orang baru, begitu seterusnya.

Saya masih cenderung berpendapat bahwa Saya itu orangnya suka lari dari masalah. Ketika Saya sudah merasa tidak cocok lagi dengan orang-orang tertentu, atau ketika Saya sudah merasa tidak cocok lagi dengan suasana di suatu tempat, maka yang Saya inginkan selalu saja pindah. Tidak ada keinginan sama sekali untuk setidaknya bertahan sedikit lebih lama lagi di tempat tersebut dan berusaha memperbaiki keadaan. Saya selalu beranggapan bahwa dunia ini sangat luas, dan Saya bisa pergi ke mana saja sesuka-suka Saya untuk memperoleh lingkungan yang Saya inginkan.

Saya tidak pernah mengubah lingkungan. Saya hanya “terima jadi”. Memilih mana yang paling bagus dari semuanya dan kemudian berharap bisa memilikinya. Itu salah satu sifat buruk Saya.

Melihat Saya yang seperti ini, menilai, tidak berubah dari dulu sampai sekarang, yang lebih banyak menghindar dari melawan, bukannya menyelesaikan masalah dan malah pergi; apakah, Saya yang seperti ini akan dapat berhenti di suatu tempat suatu saat nanti?

18 Juni 2017