Koping…

Jika berhenti berpura-pura adalah cara terbaik untuk menentramkan hati, bolehkah Saya menolak untuk memaafkan dan menyimpan rasa dendam ini dalam hati?

Kepada ibu dan ayah yang Saya cintai,

Maafkan Saya karena akhir-akhir ini kuliah Saya jadi makin tidak karuan. Maafkan Saya juga yang telah menyia-nyiakan uang yang sudah susah payah kalian keluarkan untuk Saya. Kelak, Saya pasti akan menanggung semuanya dan memperbaiki seluruh kondisi menjadi seperti yang seharusnya. Untuk saat ini, Saya benar-benar tidak sanggup. Saya tidak kuat, tidak kuat untuk menahan semuanya sendiri.

Saya sakit. Sakit jiwa. Tapi tidak ada seorang pun yang bisa mengerti bahwa ini menyakitkan. Itu justru membuat penyakit Saya menjadi makin parah. Sudah hampir setahun penuh Saya telah berjuang memperkuat diri untuk mempertahankan kondisi mental Saya agar tetap stabil. Tapi belakangan ini, rasa sakit Saya kambuh lagi.

Tahukah kamu, mengapa sakit fisik lebih mudah untuk disembuhkan dibandingkan dengan sakit jiwa?

Karena sakit fisik disebabkan oleh virus dan bakteri, sedangkan sakit jiwa disebabkan oleh manusia yang lain. Penyakit fisik tumbuh dan tinggal di dalam tubuh, sedangkan penyakit jiwa tumbuh dan tinggal di luar tubuh. Kamu bisa mengontrol sakit fisik dengan cara memanfaatkan segala potensi yang ada di dalam fisik kamu: sistem imun, kontrol syaraf, sumber gizi dan lain sebagainya, karena sumber penyakit tersebut tumbuh dan berkembang di dalam diri kamu, sehingga kamu punya hak dan kontrol penuh untuk menyingkirkan mereka dari dalam tubuh kamu. Tapi kamu tidak bisa mengontrol rasa sakit yang kamu alami jika sesuatu yang telah membuat kamu sakit tersebut tumbuh dan berkembang di luar tubuh kamu. Kamu tidak bisa mengontrol manusia! Etika memperbolehkan kita untuk membunuh virus dan bakteri, namun tidak untuk membunuh manusia.

Sejak awal pertama Saya berduka, hingga kini Saya telah berhasil mencapai tahap penerimaan. Ikhlas untuk membuang sesuatu yang dulu pernah Saya harapkan bisa dimiliki, ikhlas untuk tidak lagi berharap sesuatu kepada manusia. Semua harapan itu sudah berhasil Saya buang jauh-jauh, namun bekas rasa sakit tersebut masih saja ada.

Pihak-pihak yang telah lama tahu mengenai permasalahan Saya, termasuk di dalamnya adalah Rizka, Yuli, Tifani dan Rian, mungkin selama ini mengira kalau reaksi yang Saya perlihatkan atas apa yang Saya lihat dan Saya dengar dari perilaku mereka berdua itu hanya sebatas rasa cemburu, oleh karena itu mereka tampak senang. Berhasil memahami isi hati orang pendiam tanpa perlu menanyakannya memang menyenangkan. Tapi itu bukan. Saya tidak cemburu. Saya sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi. Yang tersisa sekarang hanya tinggal trauma dan keinginan untuk pergi menjauh, atau mati. Saya merasa sakit, pusing, mual dan merasa ingin muntah. Itu saja.

Sadarkah kalian bahwa apa yang Saya lihat dan Saya dengar tersebut adalah faktor pemicu sakit Saya untuk kambuh? Bisakah kalian membantu Saya untuk menyingkirkan itu karena kalian adalah sahabat Saya? Atau mungkin, kalian memang bukan sahabat Saya?

Bagi Saya, status itu tidak penting. Yang paling penting adalah apa yang Saya lihat dan Saya dengar, karena hanya itu saja yang Saya percayai. Seseorang bisa saja bilang kalau dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, tapi jika yang Saya lihat dan Saya dengar adalah mereka tampak seperti masih berhubungan, maka Saya anggap mereka masih berhubungan. Hal itu, yang telah membuat Saya memutuskan bahwa dia memang sudah tidak layak lagi.

Kadang Saya berpikir, sampai kapan sebenarnya Saya harus menahan rasa sakit ini? Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Harus bagaimana Saya menjelaskan kepada kamu bahwa ini menyakitkan? Harus bagaimana Saya menjelaskan kepada kamu bahwa ini menyiksa? Harus bagaimana Saya menjelaskan kepada kamu bahwa Saya menderita? Saya sakit. Setiap hari, yang bisa Saya lakukan hanya berusaha mencari momen-momen sehat Saya, mencari situasi dimana itu bisa membuat Saya bicara dan tersenyum tanpa beban. Dan ketika Saya berhasil memperoleh momen tersebut, meski hanya sedetik, Saya akan berusaha untuk terus mempertahankannya, meski harus dengan berpura-pura.

Sebagai seorang laki-laki, sebenarnya Saya hanya ingin menjadi tempat bergantung. Akan tetapi, sejak awal kamu memang tidak pernah membutuhkan Saya. Saya membutuhkan kamu, tapi kamu tidak pernah membutuhkan Saya. Melihat dari sisi mana pun, kondisi memang lebih menguntungkan di sisi kamu. Kamu, dengan segala pendukung kamu yang siap untuk membantu kamu bangkit ketika suatu saat nanti Saya berbalik membuat kamu sakit hati. Dan Saya, seorang diri. Hanya Saya sendiri, tumbang dan bangkit dengan kekuatan sendiri.

Sejak saat itu, Saya tahu bahwa Saya memang tidak berarti apa-apa untuk kamu. Kamu telah berhasil menciptakan kesan dalam pikiran Saya bahwa Saya adalah orang yang tidak berguna. Saya ucapkan selamat, karena telah berhasil membuat Saya kecewa.

Untuk satu-satunya orang yang paling membuat Saya kecewa sampai mati nanti. Saya mencari jodoh bukan semata-mata untuk diri Saya sendiri, tapi terutama adalah untuk membahagiakan kedua orangtua Saya. Saya ingin memberikan sesuatu untuk mereka selain dari pekerjaan Saya yang baik di masa depan. Karena menyakiti Saya sama saja dengan menyakiti kedua orangtua Saya, dan menghina Saya sama saja dengan menghina kedua orangtua Saya, maka sudah cukup apa yang telah Saya lihat dan Saya dengar dari kamu. Saya sudah tidak ingin melihat kamu lagi.

8 April 2016