Mengapa Anda Ingin Saya Melihatnya?

Tahukah kamu bahwa kisah hidup yang sangat bagus tidak akan pernah muncul dari pengalaman yang sungguhan? Apalagi jika kisah-kisah tersebut dituliskan oleh diri sendiri. Autobiografi. Begitu orang menyebutnya. Saya sudah terbiasa menuliskan cerita-cerita mengenai pengalaman hidup Saya di sini. Akan tetapi itu tidak semua. Dan tidak akan pernah.

Kisah duka tidak akan mungkin bisa dituliskan menjadi cerita, begitu pula dengan kisah suka. Suka dan duka adalah ujung dari perasaan seorang manusia, dimana perasaan suka berada pada tingkat yang paling atas, dan duka berada pada tingkat yang paling bawah. Pada saat kita berada pada tingkat yang paling atas atau yang paling bawah, maka yang bisa kita lakukan hanyalah merasakannya. Karena memang itulah yang paling kita butuhkan saat itu.

Kamu akan tahu kalau sudah terbiasa menuliskan cerita-cerita tentang dirimu sendiri. Sebuah cerita yang lengkap, meskipun pada akhirnya berhasil juga untuk dituliskan, pasti hasil akhirnya tetap tidak akan pernah sama dengan apa yang benar-benar telah kamu alami. Kamu kesulitan untuk berkonsentrasi, memisahkan antara teknik menulis dengan perasaan yang sedang berkecamuk dalam dirimu sendiri, karena kamu sedang menulis tentang sesuatu yang kamu alami, bukan sesuatu yang sedang orang lain alami. Menuliskan perasaan bahagia dan perasaan sedih yang teramat sangat ke dalam sebuah cerita itu mustahil. Karena ketika kita sedang merasa begitu bahagia atau begitu sedih, maka kita tidak akan mungkin punya waktu untuk menuliskannya. Kita terlalu sibuk merasakannya. Terlalu mabuk. Emosi mempengaruhi daya pikir kita, ide dan mood kita dalam menulis. Selain itu, peristiwa-peristiwa penting seringkali terjadi dalam waktu yang sempit. Kita tidak akan mungkin punya cukup waktu untuk menuliskan semuanya, bahkan hanya untuk memikirkannya.

Ketika Saya sedih, Saya tidak memiliki kemampuan untuk menuliskannya. Saya terlalu sibuk dengan perasaan Saya. Membuang-buang waktu untuk menyendiri atau tidur, mencoba untuk mengobati diri sendiri. Saya tidak akan punya waktu untuk menulis. Oleh karena itu, Saya pikir semua hal yang Saya tuliskan di sini sebenarnya hanyalah tumpahan perasaan yang berada dalam tingkat pertengahan saja. Meskipun Saya punya begitu banyak pengalaman hidup yang tersimpan di dalam pikiran Saya, akan tetapi tetap saja, tidak semuanya bisa terungkap. Saya terlalu sedih untuk menuliskannya. Begitu pula sebaliknya, Saya terlalu bahagia untuk menuliskannya.

Dan sekarang Saya punya masalah.

Mencoba Terbuka

Kejahatan terbesar dari seseorang yang baik hatinya bukanlah ketika orang tersebut memutuskan untuk berkhianat dan berubah kepribadian menjadi orang yang jahat, melainkan adalah ketika orang tersebut perlahan-lahan membuat orang-orang di sekelilingnya menjadi makin termotivasi, makin bangkit dan makin bahagia, sampai kamu menumbuhkan harapan-harapan kecil dalam hatinya, harapan-harapan yang makin hari makin tumbuh membesar, harapan-harapan yang sebenarnya tidak akan mungkin bisa terwujud. Sebuah harapan yang membuat pemiliknya menjadi lupa sejenak akan posisi dan peran mereka saat itu dalam kehidupan, baik dalam kehidupan mereka sendiri maupun dalam kehidupan seseorang yang selama ini telah setia menolong mereka.

Jangan pernah memunculkan harapan dalam diri seseorang. Jangan pernah berbaik hati kepada seseorang, sebegitu baiknya hingga kamu menumbuhkan perasaan cinta dalam diri orang tersebut. Jangan pernah membuat mereka jatuh cinta kepadamu.

Sebelumnya Saya pernah mengungkapkan bahwa Saya tidak akan malu dan menyesal jika Saya menuliskan kisah-kisah cinta Saya di sini, apapun hasilnya. Melalui tulisan ini, Saya ingin memenuhi janji Saya yang dahulu, janji bahwa Saya akan menuliskan cerita cinta Saya lagi, lagi dan lagi. Sampai pada batas akhir. Ini adalah batas akhir yang sanggup Saya panggul sampai saat ini, semenjak terakhir kali Saya mengungkapkan bahwa Saya telah jatuh cinta kepada seseorang, untuk yang ke sekian kalinya.

Kredit: Rifa
Rifa

Namanya Rifa ’Atul Mahmudah. Dia adalah teman sekelas Saya di kampus. Sudah cukup lama Saya naksir kepadanya. Sejak semester pertama. Saya tidak ingat kapan pertama kali Saya naksir kepadanya, akan tetapi Saya masih ingat pesan singkat pertama yang Saya kirimkan kepadanya:

Rifa, kamu masih nyimpen nomor–ku yang ini kan?

Kemudian Saya menuliskan nomor ponsel Saya di bawah pesan tersebut.

Beberapa saat kemudian dia membalas:

Iya Taufik, kenapa?

Dia menyebut nama Saya.

Gapapa. Makasih.

Saat itu hari sudah malam, sekitar jam tujuh. Malam itu, dan pesan singkat itu… kedua hal tersebut bukanlah merupakan pertanda awal pertama kali Saya jatuh cinta kepadanya. Itu adalah awal pertama Saya memutuskan untuk terbuka, dan mengakui bahwa Saya telah jatuh cinta kepadanya. Saya memutuskan untuk mulai melakukan pendekatan.

Keesokan harinya di kampus, dia duduk dalam jarak satu kursi di sebelah Saya. Kursi tersebut masih kosong. Waktu itu Saya ingat sebuah kalimat ajaib yang biasa digunakan oleh orang-orang dengan low self-esteem untuk memotivasi diri mereka sendiri agar dapat maju dan bertindak: “How bad it could be?”

Saya ucapkan kalimat itu dalam hati berkali-kali, “How bad it could be? How bad it could be?” sampai akhirnya Saya mampu juga untuk beranjak dari tempat duduk Saya dan berpindah ke kursi yang kosong tersebut, sehingga kami berdua kini sudah tidak berjarak lagi. Saya tidak tahu mengenai bagaimana cara kerja firasat wanita, tapi waktu itu Saya lihat dia tersenyum. Dia sempat tanya ke Saya seperti ini, “Semalem kamu SMS kenapa?”

Saya cuma menggerak-gerakkan telapak tangan Saya, pertanda mengatakan “tidak apa-apa”.

Nomor HP–mu dua-duanya kepake?

Saya jawab “iya”, padahal sebenarnya bukan itu maksudnya.

Hingga saat ini, waktu telah berlalu selama 8 bulan, 2 minggu dan 2 hari. Saya bahkan tidak ingat kapan pertama kali Saya jatuh cinta di kampus. Seingat Saya, dulu Saya tidak pernah terpikir untuk merasa tertarik kepada seseorang. Terutama dia. Anak cewek berhijab, tinggi sekitar 155 cm, dengan perawakan dan tingkah laku yang masih tampak seperti anak SD, yang kalau jalan saja gayanya masih diseret-seret, dengan tas punggung laki-lakinya yang kalau terbawa jalan akan sedikit-sedikit miring.

Hari-hari berlalu, dan Saya sadar bahwa itu semua hanyalah soal waktu.

Saat itu usia Saya 22 tahun. Usia yang sudah cukup dewasa untuk membuat orang lain menjadi tertarik. Dari segi kedewasaan, tinggi badan dan pengalaman hidup. Bagaimanapun juga, yang namanya orang dewasa itu secara alami pasti akan memiliki daya tarik tersendiri pada waktunya. Mungkin itu juga sebabnya mengapa dulu Saya lebih cenderung tertarik kepada wanita-wanita yang usianya lebih tua dari Saya. Aura orang pada usia-usia tersebut menurut Saya memang lebih baik, lebih matang. Membuat orang-orang menjadi mudah jatuh hati, terutama bagi orang-orang yang usianya lebih muda.

Seharusnya usia Rifa saat itu berada di antara 17 dan 18 (dia lahir tanggal 11 November 1996). Usia yang masih sangat muda. Anak rajin dan baik-baik. Polos. Tidak menarik. Baru lulus dari SMA. Belum pernah pakai lipstik dan bedak. Saya pikir, tidak akan ada laki-laki seusia Saya yang akan jatuh cinta kepada tipe wanita seperti Rifa. Kecuali kalau laki-laki tersebut adalah seorang pedofilia.

Namun, hari berganti hari. Saya yang selama ini terus memperhatikannya bisa merasakannya sendiri. Makin lama Saya melihat dia tumbuh makin dewasa. Berubah wujud dari yang tadinya adalah seorang anak sekolahan menjadi anak kuliahan. Penampilannya makin menarik, sudah bisa sedikit-sedikit berdandan. Fisiknya juga makin terbentuk. Cara dia tersenyum juga. Cantik.

Saya merasa ada begitu banyak perubahan yang terjadi padanya. Meskipun… ada satu hal yang Saya rasa tidak akan pernah berubah dari dia: kepolosannya. Kepolosannya tetap saja tidak berubah. Sifat polos yang selama ini membuat Saya suka, yang mungkin juga tidak pernah dia sadari bahwa itu yang sebenarnya telah menyebabkan Saya menjadi sakit hati sekarang.

Pemberi harapan palsu. Entah apakah dia memang dasarnya orangnya baik kepada semua orang atau karena Saya–nya saja yang terlalu GR. Akan tetapi Saya yakin kalau waktu itu Saya itu tidak berada dalam posisi GR. Ada banyak tanda-tanda fisik, sikap dan pesan-pesan dalam matanya yang selalu dia tunjukkan kepada Saya agar Saya bisa mengetahui bahwa dia tertarik kepada Saya. Dan itu tidak dilakukannya hanya dalam kurun waktu beberapa hari saja. Itu semua masih berlangsung sampai sekarang.

Contoh yang paling sederhana dan paling mudah terlihat adalah foto tersebut. Gambar Tasmanian Devil yang berada dalam genggaman tangannya itu adalah gambar Saya. Dia juga masih punya beberapa gambar Saya yang dia simpan dan lipat di dalam buku tulis loose leaf miliknya. Dia juga berkali-kali meminta Saya untuk menggambarkannya lagi kapan-kapan. Dia pernah menempeli sampul buku Saya dengan kertas stiker putih yang dia tulisi aneh-aneh. Dia juga pernah salah tingkah sampai keceplosan mengatakan kalau jantungnya merasa berdebar-debar ketika berada di sebelah Saya. Dia bilang begitu sambil tertawa dan menepuk pundak Saya keras sekali. Lucu. Dia juga pernah bilang kalau dia merasa takut bila sampai dicueki oleh Saya.

Tapi entahlah. Mungkin dia juga melakukan hal yang sama kepada laki-laki lain.

Satu hari itu, ketika kita semua sedang belajar Komunikasi Keperawatan di kelas, kita sempat main Johari Window bersama. Kita, semua mahasiswa di kelas. Saat itu kebetulan Saya berpasangan dengan Rian Julianto, anak laki-laki tinggi kurus yang duduk di sebelah kiri Saya, dan Yunissa Nurul Najah, teman dekat Rifa, yang duduk setelahnya. Di sebelahnya lagi ada Rifa. Jarak antara Saya dengan Rifa dipisahkan oleh dua orang manusia.

Johari Window atau Jendela Johari adalah konsep komunikasi yang diperkenalkan oleh Joseph Luth dan Harry Ingram (karenanya disebut Johari). Jendela Johari pada dasarnya menggambarkan tingkat saling pengertian antarorang yang berinteraksi. Jendela Johari ini mencerminkan tingkat keterbukaan seseorang yang terbagi dalam empat kuadran seperti ini:

Dirinya tahu, orang lain tahu.

Hanya orang lain yang tahu.

Hanya dirinya yang tahu.

Dirinya dan orang lain tidak tahu.

Waktu itu kami semua diminta untuk mengambil selembar kertas dan memotongnya menjadi tiga bagian. Satu potongan digunakan untuk diri sendiri dan sisanya digunakan untuk teman di sebelah kami. Masing-masing dari kami diminta untuk menuliskan hal-hal positif dan hal-hal negatif dari diri kami sendiri. Hal-hal positif dituliskan di bagian muka kertas dimana nama kita tertulis di situ, dan hal-hal negatif dituliskan di baliknya. Setelah selesai, kita diminta untuk menuliskan hal-hal positif dan hal-hal negatif dari dua orang teman pilihan kami pada dua potongan kertas yang tersisa. Setelah selesai, kami semua diminta untuk bertukar kertas. Tahu apa yang terjadi setelah itu?!

Ibu Ririn selaku dosen kami waktu itu hanya tersenyum-senyum saja melihat reaksi kami semua setelah menerima dan membaca isi tulisan dalam potongan kertas yang diberikan oleh teman-teman yang lain. Suasana kelas saat itu dipenuhi dengan gelak tawa kebahagiaan. Entah mengapa. Mungkin karena ada banyak hal yang selama ini tidak kami ketahui, tentang bagaimana sebenarnya teman-teman kami memandang kami. Sebuah permainan yang dapat membuat hubungan persahabatan setiap orang menjadi makin dekat.

Sayangnya, Saya tidak menemukan hal-hal menarik dalam tanggapan yang Rian dan Yunissa berikan kepada Saya. Jujur, Saya tidak terkejut. Semuanya sudah lama Saya ketahui. Mungkin karena Saya memang sudah paham akan siapa diri Saya, dan paham bagaimana orang-orang di sekitar menanggapi keberadaan Saya.

Namun…

“Taufik… Taufik…” di tengah hiruk-pikuk suasana kelas, Rifa memanggil Saya. Dia melambai-lambaikan kertas miliknya sendiri kepada Saya dan meminta Saya untuk memberikan kritikan tentang dia.

Padahal jarak kami berdua adalah sejauh lebih dari dua pundak manusia, tapi dia kok bisa sampai sebegitu beraninya meminta Saya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan sistem permainan saat itu. Terlebih, Saya adalah laki-laki. Itu membuat Saya merasa penting untuknya. Saya mengambil kertasnya dan berpikir mau menulis apa. Karena Saya menyukai dia apa adanya, jadi Saya tidak tahu harus menuliskan hal-hal positif apa yang ada dalam dirinya. Karena semuanya terasa positif bagi Saya. Jadi saat itu Saya cuma menuliskan sebuah pesan agar dia tetap menjadi diri sendiri saja, tidak perlu berubah menjadi orang lain: “Jadi diri sendiri saja”.

Saya menyerahkan kertas tersebut kembali kepada dia. Setelah dia membacanya, dia malah meminta Saya untuk menuliskan satu hal lagi, di balik jawaban tersebut. Waktu itu Saya cuma menulis: “Sibuk terus sama geng–nya”.

Ya, dia orangnya memang sibuk terus. Sibuk main sama teman-temannya. Dia tidak pernah punya banyak waktu untuk Saya, untuk berbicara dengan Saya, untuk mendengarkan keluh-kesah Saya. Kecuali ketika kuliah sudah selesai, melalui ponsel. Tapi akhir-akhir ini Saya sudah tidak bisa menghubungi dia lagi. Dia bilang ponselnya rusak. Dan jujur saja, itu membuat Saya makin kesepian. Terlebih lagi, dua teman kos Saya kini sudah jarang tinggal di sini. Mereka lebih suka main dan menginap di tempat kos teman-teman mereka. Di sini Saya cuma sendiri. Dan terakhir kali Saya mendapat kabar dari Fiqih, teman kos Saya, bahwa tahun depan dia mau pindah.

Antara Fakta dan Kepercayaan

Saya bingung, sebenarnya Saya harus percaya kepada Rifa atau kepada teman-temannya? Apakah Saya harus percaya kepada firasat Saya ataukah kepada apa yang Saya lihat dengan mata Saya? Saya terus berdoa kepada Tuhan. Bukan untuk meminta agar Rifa menjadi jodoh Saya, melainkan agar Saya mendapatkan petunjuk. Petunjuk mengenai seberapa benarkah firasat Saya ini. Mengenai apakah Rifa merupakan jodoh Saya. Saya selalu bertanya-tanya apakah perasaan Saya ini benar? Apakah perhitungan-perhitungan matematis Saya tentang bagaimana respon Rifa terhadap Saya itu semuanya tepat?

Akan tetapi Tuhan tidak pernah memberikan jawaban yang pasti. Selalu saja ada dua sisi, dimana satu sisi bisa menguatkan harapan Saya dan sisi lainnya lagi melemahkannya. Seseorang bernama Habib, dan fakta yang Saya lihat melalui mata Saya telah lama melemahkan Saya. Akan tetapi bagaiman cara Rifa memperlakukan Saya secara psikologis membuat Saya merasa seperti masih memiliki harapan. Meskipun pada akhirnya, Saya tetap harus tunduk dan bertekuk lutut kepada fakta-fakta yang Saya lihat selama ini, mengenai bagaimana status Rifa yang sebenarnya…


Jum’at, 26 Maret 2015 yang lalu. Hari itu adalah untuk yang ke dua kali kelas kami mengadakan skill lab keperawatan setelah sebelumnya Saya sempat memecahkan termometer kampus. Materinya adalah Prosedur Perawatan Jenazah.

Siang yang amat cerah. Terlepas dari ruangan laboratorium, kami semua diminta untuk mengerjakan LKM. Kita mengerjakan tugas-tugas tersebut di taman, di kursi-kursi dan meja-meja yang terbuat dari semen dan keramik:

Kredit: Ika Yulitasari
Dari kiri ke kanan: Burhan, Komar, Anisa, Sutikno, Ika (yang punya foto ini), Mita (cewek yang sempat ditaksir sama Sutikno) dan Rian.

Saya dikerubuti banyak cewek. Saya mengerjakan tugas tepat di area yang ada dalam foto tersebut. Awalnya sebenarnya Saya mengerjakan tugas tersebut bersama dengan beberapa teman laki-laki Saya di situ, tapi entah sejak kapan mereka ternyata sudah pergi berpindah dan bergabung dengan anak laki-laki yang lain. Kalau dilihat dari pandangan mata orang-orang di sekeliling Saya, mungkin Saya tampak sebagai seorang playboy atau semacamnya. Tapi karena sudah terlanjur duduk di situ, maka Saya menunggu sampai Saya selesai menyalin jawaban-jawaban yang kami dapatkan saat itu, baru setelah itu Saya akan berpindah ke kelompok anak laki-laki.

Saya berpindah tempat. Di situ ada Rian, Sutikno, Patrick (Muhammad Amin Nudin) dan Santoso. Kami mengerjakan sisanya bersama-sama di situ. Sesaat, mereka memang sempat menggoda/menyindir Saya, “Kenapa pindah?” Mungkin karena sejak tadi mereka memperhatikan Saya yang asik bercanda dengan cewek. Padahal menurutku si biasa-biasa saja.

Waktu itu Saya jawab, “Sudah selesai, tinggal nyari SOP Perawatan Jenazah. Kamu punya?”

Mereka punya. Saya melihatnya, tapi karena Saya merasa langkah-langkahnya sedikit tidak sesuai dengan apa yang Saya lihat saat praktik, jadi… akhirnya Saya memutuskan untuk menuliskannya menggunakan bahasa sendiri. Suasana sempat menjadi monoton saat itu, hingga Patrick mengomentari sesuatu.

“Eh, liat itu!”

Kami menoleh ke belakang… dan melihat Rifa yang sedang berjalan lambat bersama seorang laki-laki. Mereka berdua sedang mengobrol, entah apa. Nama laki-laki tersebut adalah Habib, teman sekelas juga. Secara fisik dia sedikit lebih kecil dari Saya, tapi lebih bad boy dan lebih pinter ngomong. Tangannya juga pandai bergentayangan ke mana-mana.

“Aku kalau liat Habib sama Rifa itu rasanya lha bawaannya pengen ketawa. Lucu banget koh.”

“Lucu kenapa?”

“Enggak tau, tapi ngeliat mereka berdua pacaran itu ngerasa lucu saja. Lucu banget koh.”

Sutikno, yang sama kagetnya dengan Saya saat itu langsung… “Emang mereka berdua pacaran?”

“Iya.”

“Lah, sejak kapan??”

“Oh, itu sudah menjadi rahasia umum…”

Saat itu Sutikno hanya memandangi Saya dengan wajah simpatinya. Dia cukup tahu bahwa Saya sebenarnya ada rasa sama Rifa. Saya bisa dengan jelas melihat dalam tatapan matanya, bahwa saat itu dia sedang berkata kepada Saya, “Aduh, Tofiiikkkk… kamu yang sabar ya…”

Kredit: Sutikno
Sutikno

Aslinya dari Sulawesi Tengah, tapi sudah lama tinggal di Cilacap. Sudah bisa ngomong Jawa dengan lancar, meskipun logatnya memang tetap sedikit berbeda dengan anak-anak asli Jawa. Dulu dia sering sekali dikatain teman-temannya kalau di kelas, tapi sekarang sudah tidak lagi. Soalnya kalau pas absensi perkenalan sama dosen dan dia ditanya “Asli mana mas?”, dia pasti akan menjawab dengan mantap, “SULAWESI TENGAH!” Ketika dia mengatakan itu, seluruh anak di kelas akan tertawa terbahak-bahak dan meledeknya, “Wesss… gayamu Sulawesi Tengah… bilang saja dari Cilacap!!!”

Hahaha. Tapi itu bukanlah ledekan yang jahat. Saya juga suka ikut tertawa dalam hati mendengarnya.

Hari-hari berlalu. Semenjak Patrick mengatakan bahwa Rifa telah berpacaran, Saya jadi sering melihat Rifa tampak mengobrol intim dengan dia. Obrolan yang tidak biasa. Obrolan yang membuat Saya merasa iri dan sakit hati. Saya juga pernah melihat mereka berboncengan sepeda motor, beberapa kali jalan bersama dan kejar-kejaran.

Terakhir kali Saya melihat Rifa berada di atas sepeda motor untuk pulang bersama temannya, Rizka. Waktu itu Saya melihat Habib mendekat. Beberapa saat kemudian Saya melihat mereka berdua seperti sedang mengobrol entah apa, lalu Saya melihat tangan Rifa menggoyang-goyangkan pipi dan dagu Habib sambil tersenyum, hingga pada akhirnya dia mengendarai sepeda motornya dan pulang. Di situ adalah batas kemampuan Saya. Saya sudah tidak sanggup untuk melihatnya lagi.

Saya terus-menerus bertanya kepada Tuhan, “Mengapa Anda ingin Saya melihat ini?” Setiap kali Saya melihat situasi yang sama, Saya akan selalu menanyakan pertanyaan yang sama tanpa mendapatkan jawaban yang pasti: Mengapa Anda ingin Saya melihat ini?

Saya meletakkan kedua telapak tangan Saya di permukaan kaca jendela sambil memperhatikan area parkir sepeda motor di bawah Saya yang sedikit demi sedikit makin berkurang isinya. Sementara beberapa teman Saya yang berada di tingkat Beginner 2.2 kini sedang begitu sibuknya belajar untuk menjalani evaluasi verbal bahasa Inggris saat itu. Mereka semua duduk bergerombol di sekitar Saya, di kursi dan di tangga. Saya yang seharusnya sudah pulang dari tadi malah masih berada di sisi jendela lantai tiga gedung D. Satu kesalahan yang telah membuat Saya tidak sengaja melihatnya.

Saya memutuskan untuk menyerah dan tidak percaya lagi kepada hati nurani Saya, kepada harapan-harapan semu yang, siapa tahu, merupakan sesuatu yang jahat yang telah diciptakan oleh iblis untuk membuat Saya menjadi lupa. Menjadi lupa dengan kodrat Saya sebagai diri Saya yang sebenarnya. Kodrat Saya sebagai seorang Taufik Nurrohman.

Rasa cinta ini membuat Saya sakit lagi. Rasa sakit yang mungkin tidak akan pernah sembuh, menambah rasa sakit lama yang sebelumnya pernah Saya alami melalui pengalaman yang lain, bukan cinta. Tanggung jawab, harapan dan cita-cita. Cita-cita yang gagal.

Saya tidak akan pernah bisa menjadi seorang Perawat yang sehat. Seperti yang pernah Saya katakan sebelumnya bahwa, Saya lebih cenderung merasakan diri Saya berada dalam posisi sebagai seorang pasien yang membutuhkan pertolongan dibandingkan sebagai seorang Perawat yang memiliki tugas untuk menolong. Dan jika sakit Saya memang masih tetap memaksa Saya untuk lanjut, maka Saya akan melakukan itu. Semuanya sudah terlanjur.

Perantara

Kredit: Rifa
Dari kiri ke kanan: Rizka, Rifa, Cicilia, Yunissa.

Sore ini tanggal 27 April 2015. Malam sebelumnya sebenarnya Saya sudah janjian dengan Yunissa, teman dekat Rifa. Baru sore ini Saya bisa melaksanakannya oleh karena beberapa halangan. Waktu itu sudah terlalu malam, dan mungkin karena dia lupa, dia jadi lebih mementingkan faktor “pintu gerbang kos yang terkunci dari dalam” ketimbang nasib Saya. Jadi malam itu dia langsung pulang tanpa mengabari Saya sebelum sempat bertemu dengan Saya lagi di lobi kampus. Rasanya gelo. Padahal Saya sudah nunggu dia lumayan lama!

Beberapa anak di kampus Saya biasa memanfaatkan malam hari mereka untuk main ke kampus, menggunakan fasilitas internet gratis untuk mengerjakan tugas dan main.

Padahal saat itu adalah saat yang sangat penting. Saya ingin mengungkapkan sesuatu. Saya ingin menitipkan pesan untuk Rifa melalui dia, karena selama ini berbicara dengan Rifa sudah tidak lagi memungkinkan. Saya kehilangan kontak ponsel, karena dia bilang ponselnya sedang rusak dan sering error. Dia bilang, dia tidak pernah lagi menggunakan ponsel, bahkan Facebook. Dia lebih suka memakai BBM untuk berkomunikasi dengan teman, termasuk dengan keluarganya di Tegal. Saya tidak punya BB. Sudah pernah mencoba menginstal aplikasi BBM di netbook tapi spesifikasinya tidak memungkinkan.

Saya juga sudah pernah mencoba untuk meminjamkan ponsel Saya yang satu lagi sebagai sarana komunikasi Saya dengan dia, tapi dia tetap tidak mau juga karena takut kalau orang lain akan menganggap dia seperti sedang memanfaatkan Saya atau semacamnya. Takdir tidak pernah mengizinkan Saya untuk berbicara dengannya. Setiap kali Saya mencoba, selalu saja ada gangguan yang datang. Jadi saat itu, Saya putuskan untuk menggunakan Yunissa sebagai perantara antara Saya dengan Rifa. Untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya.

Ada satu hal yang membuat Saya bingung: jika dia bisa menggunakan ponselnya yang satu lagi untuk BBM, mengapa dia tidak bisa menggunakannya untuk SMS atau telepon? Semain keras Saya memikirkan itu, pada saatnya, Saya harus menyerah pada firasat terburuk yang tengah menghampiri Saya, bahwa mungkin Rifa sudah tidak mau lagi berkomunikasi dengan Saya.

Tanggal 22 April 2015 yang lalu, Saya memberanikan diri untuk bertanya sekali lagi. Pagi itu sedang diadakan UTS materi Fundamental of Nursing II. Pengerjaan soal dilakukan secara online. Kebetulan pusat pembelajaran online kampus kami juga memiliki fasilitas instant messaging sederhana yang dapat digunakan oleh para mahasiswa untuk berkirim-kirim pesan. Waktu pengerjaan soal telah dimulai. Saya menunggu sambil mengerjakan soal sedikit demi sedikit sampai sekiranya suasana sudah tepat dimana setiap anak telah menjawab semua soal yang ada, namun belum memutuskan untuk keluar dari ruangan. Waktu itu Saya nekat mengirimi dia pesan dalam situasi yang masih sedang mengerjakan soal UTS:

Rifa, kamu nggak bisa di-SMS lagi kenapa Fa?

Tidak mendapatkan balasan, Saya mengirim pesan lagi:

Aku ngganggu ya?

Tidak mendapat balasan juga, Saya mengirim pesan lagi untuk yang terakhir kali:

Rifa!

Jarak antara Rifa dengan Saya saat itu hanya beberapa langkah saja. Dia duduk di depan dan Saya duduk di belakang, tergeser sebanyak dua sampai tiga kursi ke kanan. Jadi letak kami berdua adalah berseberangan dan dia membelakangi Saya. Saya perhatikan dia masih sedang serius mengerjakan soal, dan dia juga masih sibuk memberikan contekan kepada teman-temannya. Saya memperhatikan ke arah desktop laptopnya, dan di bagian pojok kanan-bawah ternyata terdapat jendela munculan antivirus yang sejak tadi menghalang-halangi notifikasi pesan Saya.

Saya benci dengan cara kerja alam terhadap Saya saat itu. Takdir ini, semuanya telah menghalang-halangi Saya untuk mendapatkan jawaban yang sesungguhnya. Di situ Saya merasa makin emosi, dan memutuskan untuk tidak tinggal diam: Saya beranjak dari tempat duduk. Saya berjalan mendekatinya dan kemudian memainkan jari telunjuk Saya di atas touchpad miliknya, bermaksud menutup jendela munculan tersebut. Sempat kaget juga dia.

Kemudian Saya duduk lagi.

Dia menoleh, lalu bilang ke Saya, “Eh, coba kirim lagi Fik!”

Kemudian Saya mengiriminya lagi beberapa pesan:

Pesan Instan
Pesan yang Saya tuliskan saat itu.

Meski hasil akhir dari ujian tersebut tidak maksimal, tapi Saya merasa itu sudah lebih dari cukup. Saya hanya mendapatkan nilai 70.37, sementara yang lain mendapat nilai 80 sampai 86. Bagi Saya, jawaban Rifa saat itu jauh lebih penting dibandingkan dengan nilai Saya:

70.37
Nilai UTS FN2.

Sore hari menjelang malam, saat dimana kami semua selesai menjalani kuliah. Lampu-lampu kampus sudah dinyalakan saat itu. Saya mendekati Yunissa dan berbisik, memintanya untuk mengikuti Saya. Kami berdua berjalan keluar dari kelas menuju kursi panjang yang terletak di dekat kaca jendela dimana sebelumnya Saya melihat sesuatu yang sangat tidak Saya inginkan. Kami berdua duduk, menunggu semua anak melewati kami sehingga hanya tinggal kami berdua saja di situ. Saya menatap langit-langit, meminum air bening dan kemudian menghela napas dalam-dalam.

Hening.

Yunissa mencondongkan badannya ke arah Saya dan bertanya, “Kamu mau ngomong apa Fik?”

Inilah saatnya. Saya mulai menanyakan sesuatu. “Soal Patrick, apa dia satu kos sama Habib?”

“Enggak. Kenapa?”

“Patrick… dia pernah bilang ke Aku, katanya Rifa sudah lama pacaran sama Habib?”

“Iya Fik, kenapa?”

Berakhir sudah. Saya tidak akan lagi berharap banyak kepada Rifa.

Dia melanjutkan, “Kenapa Fik? Kamu suka ya sama Rifa?”

“Patrick bilang ke Aku pas kita ada praktik skill lab perawatan jenazah.”

“…”

“Ayo ngomong aja Fik, nggak apa-apa…”

“Bukan. Rifa udah ngomong semuanya ke kamu kan? Sebenarnya Aku udah tau semuanya. Aku juga udah lama liat foto Rifa dipasang di HP–nya Habib, juga fotonya Habib di HP–nya Rifa.”

“Terus?”

“Aku juga masih sering liat Rifa bareng sama Habib kalau pas nggak ada Aku. Waktu itu juga, tangan Rifa sampai begini-begini…”, Saya menggerak-gerakkan tangan Saya, bermaksud untuk menjelaskan mengenai apa yang telah Saya lihat sebelumnya, tapi gerakan-gerakan tangan Saya tersebut malah memancing Yunissa memberitahukan hal-hal yang belum Saya ketahui telah mereka berdua lakukan di belakang Saya.

“Ke pundaknya Rifa apa? Atau ini? Atau itu?”

“Mereka berdua udah pacaran sejak kapan Yun?”

“Aku nggak tau Fik, tapi tau-tau mereka udah pacaran aja.”

Suasana hening untuk sesaat. Kalau saja saat itu Saya sedang tidak berada dalam kondisi mental yang siap, mungkin saat itu Saya sudah menangis atau malah lari nggak tau ke mana. Bahkan Saya yakin Yunissa sebenarnya juga sudah lama tahu kalau Saya menyukai Rifa. Wanita bukanlah tipe makhluk hidup yang pandai menyembunyikan rahasia.

Saya sudah memutuskan.

“Kalau sekiranya posisiku sekarang ini… adalah sedang berusaha merebut pacar orang lain, lebih baik Aku mundur saja.”

Saya gemetar. Yunissa tidak bisa berkata apa-apa lagi saat itu. Hening sekali.

Dia sempat menasihati Saya supaya tidak menyerah dulu, berbicara soal jodoh, soal pacaran yang tidak sampai ke pernikahan dan entah apa lagi. Saya tidak ingat. Saat itu Saya selalu menolak saran yang ia berikan dengan berkata “tidak perlu” dan “tidak usah” berkali-kali. Karena, saran macam apa yang bisa sampai memperbolehkan Saya untuk mendekati Rifa apabila Habib sedang tidak bersamanya, begitu pula sebaliknya, Habib boleh mendekati Rifa ketika Saya sedang tidak ada bersamanya. Bagi Saya, itu hanya akan membuat Rifa tampak seperti seorang pelacur. Bebas didekati oleh lelaki mana saja yang menyukainya. Rifa bukanlah tipe wanita yang seperti itu. Yang Saya banggakan dalam diri Rifa selama ini adalah Rifa sebagaimana adanya Rifa yang seorang wanita baik-baik. Jika hal ini justru malah membuat citranya makin memburuk di mata Saya dan di mata orang lain, maka lebih baik Saya membiarkan dia dimiliki oleh satu orang saja. Sekali saja.

Waktu Saya sudah habis. Saya beranjak dari kursi dan meminta tolong kepada Yunissa untuk yang terakhir kalinya.

“Tolong beritahu Rifa…”

Dia bertanya, “Beritahu apa Fik?”

Sebenarnya ini adalah saat yang paling tepat untuk pulang, hari sudah sore. Kita berdua menuruni tangga menuju lantai bawah. Kalau saja bisa, mungkin seharusnya Saya tidak perlu lagi datang ke kampus ini untuk selamanya.

Setidaknya sebelumnya Saya sudah mengungkapkan semua hal yang selama ini telah membuat Saya khawatir kepadanya. Ada banyak. Sayangnya takdir hanya memperbolehkan Saya untuk mengungkapkan semua itu melalui pesan-pesan singkat yang Saya kirimkan kepadanya. Saya juga sudah mengungkapkan bahwa Saya ingin bertemu. Saya ingin berbicara secara langsung… secara gentle… bukan sekedar melalui pesan-pesan singkat pengecut seperti ini. Akan tetapi… hari-hari itu memang selalu dipenuhi oleh hujan. Hujan dan hujan.

Saya juga sudah bisa bicara dan presentasi di depan kelas. Saya sudah bisa bicara dengan teman-teman wanita yang lain, dan Saya juga sudah bisa bercanda dan melawak. Semuanya Saya lakukan karena dia sering protes dengan kepribadian Saya yang terlalu tertutup. Sekarang Saya sudah ada perkembangan. Dan berbicara mengenai ekspektasi…

“The best way to avoid disappointment is to not expect anything from anyone.”

Cara terbaik untuk menghindari kekecewaan adalah dengan tidak mengharapkan apa-apa dari orang lain. Terkadang kita mengharapkan sesuatu yang lebih dari orang lain karena kita akan bersedia melakukan semua itu untuk mereka. Sayangnya, tidak semua orang sanggup melakukan apa yang sanggup kita lakukan. Kita tidak bisa mengharapkan orang lain untuk melakukan hal yang sama seperti yang dapat kita lakukan untuk mereka. Bodoh, seperti seseorang yang tanpa sengaja bertemu dengan seekor singa yang sedang kelaparan dan berharap agar singa tersebut tidak memakan dia karena dia juga tidak memakan singa.

Meskipun Saya tidak pernah bisa mengatakannya secara langsung kepadanya, akan tetapi itu tidak mengapa. Setelah sekian lama, pada akhirnya Saya tahu apa yang seharusnya Saya katakan kepada Rifa…

“Tolong jangan buat Aku jatuh cinta lagi.”

27 April 2015