Loading…

Jangan Pernah Bertanya Mengapa?

Aku melihat mereka dari balik lubang tabir yang sangat kecil. Terdiam dalam kekaguman dan kebimbangan, meski harus kupaksakan bahwa tidak akan ada lagi pertanyaan tentang “mengapa”. Namun Aku hanyalah seorang anak kesulitan yang tidak pernah memiliki kemampuan untuk meminta bantuan. Sebatang rumput dalam genangan air, siapa yang bisa mendengar teriakanku?

Lavender

Ada sebuah kenyataan yang unik. Ketika seorang anak hidup dengan kesenangan mereka, tanpa mempedulikan keluarga mereka, mereka justru mendapatkan hasil yang begitu baik dan pada akhirnya berhasil menghidupi semuanya, bahkan jikapun itu berada di luar wilayah garis lahir mereka. Namun orang-orang yang begitu berkeinginan untuk hidup sebagai orang yang berbakti, berusaha membangun diri dan seluruh jalinan keluarga, secara nyata tidak pernah mendapatkan sesuatu (yang mereka harapkan dengan jelas). Yang baik, yang benar hingga pada akhirnya selalu berujung pada kekecewaan. Kekecewaan kepada diri sendiri tentang mengapa kita semua tidak bisa hidup sebagai seorang anak yang bisa membanggakan keluarga, mengangkat derajat mereka dengan prestasi yang bermanfaat. Cukup medalam, namun tidak merusak. Hanya saja, sebenarnya apa yang terjadi dengan dunia ini? Bukankah hidup itu bukan hanya soal keberuntungan?

Perjuangan keras tak kenal lelah saja tidak cukup. Banyak hal yang harus kita kuasai sebagai sesama manusia yang dilahirkan sebagai introvert, terutama tentang bagaimana cara menjadi manusia normal, dengan sudut pandang yang biasa dan kehidupan yang biasa. Namun pada kenyataannya, bukan kita pribadi saja yang membentuk diri kita. Takdir, lingkungan dan pengalaman hidup yang terpupuk berkali-kali telah membentuk diri kita yang sekarang.

Unik itu bagus, ingat saja kata itu.

Namun mungkin tidak semuanya. Dan Aku, benar-benar telah berubah sangat berbeda dengan Aku yang dulu. Merasa kesulitan mempercayai orang lain dan pula sulit membangun rencana yang lebih sederhana.

Aku bisa saja mengatakan, "Andai saja selama ini Aku hidup di lingkungan yang menyenangkan, dengan orang-orang muda (dan terutama orang dewasa) yang bisa dipercaya untuk diajak bekerjasama dan menghargai perbedaan, mungkin Aku bisa tumbuh menjadi manusia yang lebih senang".
Namun Aku tidak bisa mengatakan itu. Jangan pernah menyalahkan takdir di mana kita hidup dan bagaimana sikap orang-orang disekeliling kita. Itu bukan sikap seorang manusia yang baik. (Aku, memperingatkan diriku sendiri).

Aku harap Aku bisa menyelesaikan semuanya dengan benar dan secepat mungkin. Tidak ada alasan khusus mengenai itu. Orangtua yang sudah semakin tua, tidak mudahnya bertahan dalam situasi kesendirian (kehilangan orang-orang yang dicintai karena selama ini Aku telah hidup dalam dunia yang terlalu maju ke depan dalam usia yang terlalu belia). Dan juga, ya. Tubuhku ini bukan gentong baja yang bisa menampung stok cita-cita lebih lama lagi, bukan?
Aku hanya ingin mengatakan bahwa, Aku melakukan semua ini untuk kalian.

Demi Tuhan, pernyataan itu tidak akan pernah kucabut dari mulutku.

10 Maret 2012

1 Komentar:

Top