Loading…

Derak-Derak Menjelang Hari Balas Jasa

Sebenarnya di sebelah belakang ada sebuah tempat khusus dimana para kambing dan sapi-sapi yang terhormat dipelihara. Pada awalnya kupikir tempat itu digunakan untuk beternak, tapi Sunardi bilang sapi-sapi di sini tidak dikembangbiakkan, melainkan hanya digemukkan saja untuk kemudian dijual lagi. Entah kambingnya mereka apakan, Aku tidak tahu. Sebuah hunian kecil di samping kandang kambing juga disertakan. Di situlah biasanya para pengurus hewan ternak yang sebagian besar sudah dewasa dan lanjut usia beristirahat. Seperti menonton televisi, mendengarkan radio, atau sekedar tidur di malam hari untuk meronda.
Malam itu seperti biasa, ketika seorang anak bernama Sunardi mendapatkan gilirannya untuk meronda malam, seringkali dia memintaku untuk menemaninya. Mungkin karena dia tidak suka tidur sendirian bersama orang-orang yang usianya jauh di atasnya. Atau mungkin dia takut kegelapan. Atau… dia takut hantu?
Ponselku berbunyi. Kudapati sebuah pesan singkat dari tanteku. Kira-kira isinya menyatakan bahwa dia baru saja mendapatkan info lowongan bagus dari Lampung. Dia bilang dia bersedia membantu mengurusi semuanya asalkan Aku mau berusaha.

Night Train Arriving

Sebuah info lowongan dari PJKA, katanya. Aku tidak tahu pasti apa itu PJKA. Yang jelas, akronim KA bisa dipastikan memiliki kepanjangan Kereta Api. Suami dari adik ibukulah yang memberikan informasi itu pada tanteku, kemudian padaku dan anggota keluargaku. Dia adalah salah seorang yang bisa dibilang telah mendapatkan posisi bagus di sana.

Bahkan… sejak awal Aku sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan kereta api. Satu-satunya hal yang paling kutakuti andaikan Aku memutuskan untuk masuk ke sana adalah mengenai masa depan pendidikanku. Karena mau tidak mau pada akhirnya Aku akan berkuliah juga di bidang perkeretaapian andaikan rencana tanteku itu terwujud. Kukatakan berkali-kali padanya bahwa Aku tidak tertarik. Namun beberapa lama kemudian dia kembali membujukku lagi untuk mendaftarkan diri. Dia bilang itu demi masa depanku. Masa depan apa? Mereka bahkan tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya kucita-citakan selama ini. Belum cukup sampai di situ, kakakku dan pamanku juga ikut-ikutan memintaku untuk mempertimbangkan kembali tentang keputusanku itu. Kukatakan dengan tegas bahwa Aku sama sekali tidak berminat.

Ada tiga faktor yang telah memberikan segudang alasan yang tegas kepada kalian semua tentang mengapa Aku tidak mau.
Pertama, seperti yang telah kita ketahui, semua bentuk pencalonan pekerja yang termasuk dalam kategori tidak spesifik akan berakhir pada diskriminasi fisik dan logika tanpa hati. Tidak ada penilaian bakat secara mendalam di sana. Mereka hanya menggunakan metode tes praktis, karena mereka tidak punya banyak waktu. Aku sudah mendapatkan sedikit pengalaman di Bekasi, bahwa bisa dipastikan Aku tidak akan lolos seleksi.
Ke dua, Aku tidak mempunyai pengetahuan sepeserpun tentang kereta api dan seluk-beluk organisasinya. Aku bahkan tidak tahu tentang bagaimana sebuah kereta api bisa bergerak sangat cepat. Aku juga tidak tahu tentang bagaimana cara memompa ban kereta api.
Ke tiga, Aku sama sekali tidak mempunyai hasrat sedikitpun terhadap industri perkeretaapian. Aku tidak nafsu sama yang namanya kereta api. Kereta api itu tidak seksi. Dadanya juga rata. Dan yang jelas, kereta api dan Taufik Nurrohman adalah dua hal yang bertolak pantat.

Sampai sekarang Aku masih tidak mengerti tentang hidup ini. Uang dan persahabatan selalu menjadi hal yang paling dominan. Meskipun, memang, mereka berdua tidak saling memenuhi satu sama lain. Namun pada intinya, uang dan persahabatan adalah dua faktor yang paling berpengaruh terhadap tercapai atau tidaknya sebuah cita-cita.

Dan Aku tidak punya uang.

Sejak awal cerita, uang memang manjadi satu-satunya penghambatku. Meskipun PJKA bisa dijadikan solusi pilihan untuk sedikit memparcepat waktuku, namun hati ini tak pernah kurasakan seyakin seperti yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Bahwa Aku benar-benar tidak berminat. Sekali lagi kukatakan bahwa Aku benar-benar tidak berminat.
Seperti kereta api, yang takkan pernah berpindah dari jalurnya meskipun tampak di sekelilingnya dunia indah sayup-sayup memanggil ramah, yang semakin lama semakin menghanyutkan segudang prinsip, iman dan tujuan hidup masa lalu kita. Aku dan cita-cita.
Dan di sini, dalam pekerjaanku yang masih dalam tahap percobaan ini, Aku masih terus mencoba untuk mengikuti permainan Tuhan. Akan kubuktikan kapada Anda, bahwa Saya masih bisa menyelesaikan permainan Anda. Dan akan kubuktikan kepada Anda, bahwa Saya adalah seseorang yang takkan pernah meninggalkan jalur yang sudah mutlak, dan akan terus merangkak maju ke depan, meskipun begitu banyak rel-rel baru yang mau tak mau harus membelokkanku untuk sesaat. Namun yang pasti, betapapun panjangnya rel-rel baru yang akan kutempuh hari ini, besok, lusa, setahun kemudian, atau puluhan tahun kemudian, suatu hari nanti Aku pasti akan sampai ke stasiun terdekat. Dan pada saat itulah… Aku akan berpindah kendaraan baru, untuk mencapai akhir tujuan hidup yang paling ideal. Sebuah tempat yang dapat bercahaya, dan tempatnya harus luas. Bisa untuk lompat-lompatan dan main sepeda tanpa halangan. Seperti langit.
Suatu saat nanti Aku pasti akan keluar dari sini. Aku sudah berjanji kepada Tuhan. Kepada ibuku dan juga ayahku. Bahwa kelak Aku akan menjadi orang sukses.

Para kambing dan sapi penghuni tempat ini sepertinya sudah mulai kelelahan. Tak terdengar lagi suara-suara berisik dari mereka. Mungkin mereka sudah tertidur.
Dan Sunardi? Sejak tadi dia sibuk mengobrol dengan seorang cewek dalam telepon sambil nonton televisi. Aku rasa Aku tahu siapa orangnya.

Suasana sepi. Hari sudah malam. Dan angan-anganku barusan kini sudah terlanjur larut dalam air malam yang begitu melimpah. Hingga pada akhirnya rasa manis itupun samar-samar menjadi tawar dan menghilang tanpa bekas.

Aku, tertidur tanpa bermimpi.

Siang hari tanggal , di loteng. Sudah tiga hari semenjak peristiwa itu, kini Aku sedang bekerja bersama seorang seniorku dalam penyepuhan emas. Namanya mas Daryoto. Saat ini Aku sedang sibuk menyikat sisa-sisa kotoran dalam emas setelah fase pemolesan dan perebusan dengan gold dip. Satu hal yang aneh dalam fase ini adalah, Aku menyikat begitu banya perhiasan emas DENGAN SIKAT GIGI. Seperti yang kita ketahui, bahwa “gigi” dan “emas” adalah sesuatu yang agak menyinggung perasaan.

Seorang pria datang dari arah punggung kami untuk ke sekian kalinya. Sesaat kemudian dia menyalakan kembali pemutar CD yang di dalamnya terdapat rekaman suara-suara burung walet. Mas Daryoto bilang suara-suara itu digunakan untuk memancing burung walet.
Itu majikanku. Seorang pemilik sekaligus pengelola toko emas ini. Karena kesibukannya sebagai anggota DPRD periode 2009-2014 membuatnya jarang pulang ke rumah. Dia melongok kami berdua dari balik pintu sambil senyam-senyum. Meskipun Aku tahu, bahwa sebenarnya dia sedang sangat pusing dan kelelahan karena kurang tidur, seperti biasanya.

“Gimana, Fik. Di sini kamu sudah ada sebulan belum?”

22 Februari & 25 Februari 2011

0 Komentar

Top