Cacat Bawaan

Kalian pasti pernah berada dalam situasi perdebatan orang lain (atau malah kalian sendiri yang pernah mengalaminya?), diantara minimal dua orang dimana kedua belah pihak sama-sama tidak mau kalah dan tidak mau mendengar, bertahan kepada ego masing-masing, hingga pada akhirnya salah satu dari mereka mencoba untuk keluar dari topik pembicaraan dan mulai bicara macam-macam soal kecacatan dari lawan berdebat terhadap mereka untuk membuat lawan mereka menjadi tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Aku menyebut teknik melarikan diri semacam ini sebagai solusi orang-orang pengecut. Perdebatan semacam ini tidak akan pernah menemukan penyelesaian karena masing-masing individu sebenarnya hanya ingin menang saja dari lawan berdebat. Mereka tidak membutuhkan solusi. Mereka hanya butuh agar lawan berdebat mereka tunduk dan bersujud kepadanya, maksimal, sampai mereka diperbolehkan kencing di wajah lawan debat mereka.

Bayangkan sebuah keadaan dimana ada seorang yang sempurna secara fisik sedang mengadakan debat bersama dengan seorang yang tidak memiliki sepasang kaki. Orang cacat itu menggunakan kursi roda. Mereka berdua berada di dalam sebuah podium, ditonton oleh begitu banyak orang. Perdebatan terjadi begitu sengit, kedua-duanya sama-sama tidak mau kalah hingga pada akhirnya orang cacat tersebut ternyata lebih unggul dalam berbagai ucapannya sampai membuat lawan debatnya menjadi tidak bisa berbicara apa-apa lagi.

Ketika orang “sempurna” tersebut sudah tidak mampu lagi mengatakan apa-apa, masih dalam keadaan emosi tiba-tiba dia meloncat-loncat di tempat. Sambil tertawa gila dia berkata, “Hay hay hay… okelah kamu memang menang dan kamu lebih unggul dalam kompetisi debat ini, tapi ini kan cuma debat? Hah! Kamu bisa tidak, loncat-loncat seperti Aku ini? Kalau kamu bisa, Aku akan anggap kamu sebagai pemenang dan Aku akan mengaku kalah! Atau kalau kamu tidak bisa, coba sekarang kamu jalan ke arah sini tanpa kursi roda. Bisa tidak? Tidak bisa? Kenapa ya? Padahal Aku bisa berjalan ke arah situ tanpa kursi roda…”

Asu!

Mendengar tantangan semacam itu dari seseorang yang kamu benci, jika kamu berada dalam situasi sebagai orang cacat tersebut, merasakan emosi itu adalah wajar dan bahkan wajib. Wajib ‘ain.

Ya. Orang-orang semacam ini memang kaya asu. Orang ini tidak mau mengaku kalah dan malah memanfaatkan kelemahan orang lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan topik pembicaraan untuk membuat lawan bertengkarnya menjadi jatuh. Asu-asu semacam ini sangat suka memanfaatkan takdir Tuhan yang kurang mengenakkan yang diberikan kepada orang lain untuk membela diri dan melarikan diri.

Asal kamu tahu saja, kemampuan kamu di dalam berjalan dan melompat-lompat itu sama sekali bukan prestasi. Itu cuma kebetulan saja dan merupakan takdir yang diberikan oleh Tuhan kepadamu. Jadi tidak usah memanfaatkan hal-hal semacam itu untuk membela diri atau untuk mengukur-ukur keunggulan kamu dibandingkan orang lain yang lebih cacat darimu. Karena apa yang kamu banggakan itu semuanya hanyalah merupakan K-E-B-E-T-U-L-A-N. Mengerti? Prestasi-prestasi yang selama ini kamu bangga-banggakan, prestasi-prestasi yang selama ini kamu jadikan sebagai gaco untuk menang dalam melawan orang lain itu, semuanya tidak ada yang bermutu!

Beberapa Situasi Lain yang Termasuk dalam Kategori Ini

Masalah Dunia Maya

Dalam sebuah debat, ketika salah satu pihak mulai kalah, maka pihak yang kalah tersebut biasanya akan mulai keluar dari topik pembicaraan dan mencari-cari kelemahan pihak lawan, kemudian akan menantang lawan tersebut dengan memanfaatkan kekurangan sang lawan ketika dibandingkan dengan dirinya. Misalnya seperti ini: “Sayang tidak ada foto profilnya. Beraninya bicara secara sembunyi-sembunyi. Pengecut!”

Perlawanan yang Bisa Kamu Lakukan

Jika kamu ternyata bukan pengecut dan punya alasan tersendiri yang menyebabkan kamu memutuskan untuk menyembunyikan identitas kamu, misalnya karena kamu itu Power Rangers atau Kamen Rider Kuuga, maka pilihan kamu cuma ada dua:

  1. Perlihatkan fotomu.
  2. Abaikan saja.

Abaikan saja. Karena meskipun kamu nanti memutuskan untuk menampilkan identitas kamu demi orang itu, pada akhirnya toh akan tetap sama saja. “Oh, jadi begini nih wajah orang yang blablablabla…” Tidak akan ada selesainya. Karena tujuan dia berdebat memang bukan untuk mencari solusi ataupun pembenaran. Tujuan dia dalam mendebat kamu hanyalah untuk menyimpulkan bahwa kamu salah dan dia benar. Betapapun kamu menunjukkan kepada dia bahwa kamu benar, kamu akan tetap dia anggap sebagai pihak yang salah. Mengerti? Kamu sedang berdebat dengan orang PMS.

Masalah Ilmu

Ceritanya kamu sedang bertengkar dengan seseorang yang lebih pintar dari kamu. Itu terjadi karena saat itu kamu menyadari bahwa ada satu prinsip darinya yang salah atau tidak sesuai. Orang pintar tersebut kemudian mencari-cari kelemahan kamu dan kemudian menantang kamu dengan cara yang kurang lebihnya seperti ini: “Tahu apa kamu soal ABC? Coba sekarang kamu sebutkan jenis-jenis bahan kimia untuk menciptakan senyawa DEF beserta takaran-takaran yang tepat. Bisa tidak?!”

Perlawanan yang Bisa Kamu Lakukan

Kalau kamu ternyata tahu jawabannya, ya jawab saja pertanyaannya. Masalah selesai. Oleh karena itu, berpura-pura jadi orang bodoh sebenarnya sangat penting untuk menghadapi asu-asu semacam ini. Pastikan dia menganggap kamu itu bodoh sampai ke darah dagingnya, buat dia terjebak oleh perkataannya sendiri.

Orang-orang ini hanya akan menantang kamu dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sudah dia tahu dan hafal karena terbiasa. Dalam alam bawah sadar mereka, mereka sudah menganggap bahwa tidak akan ada seorangpun di dunia ini yang akan tahu jawabannya, karena dia merasa paling pintar. Makannya dia sok. Satu hal yang tidak dia tahu adalah bahwa kamu itu sebenarnya alien, bukan orang.

Tapi, kalau ternyata kamu memang tidak tahu apa-apa mungkin lebih baik kamu diam saja dan meninggalkannya. Jangan ikut-ikutan sok tahu. Setelah itu mulailah mempelajari soal itu supaya suatu hari nanti di masa depan keadaan jadi lebih seimbang. Ilmu kamu juga jadi bertambah karena itu. Atau cobalah bertanya kepada orang lain yang lebih netral, yang kepintarannya kurang lebih sama dengan dia mengenai ini. Jadi kamu bisa memiliki seorang pendukung atau referensi berjalan. Ingat bahwa merasa punya salah itu adalah wajib dalam melakukan pertengkaran, karena dengan cara itu kamu akan mendapatkan bantuan yang tidak terduga dari lingkungan.

Masalah Kerakyatan

Tidak jauh berbeda dengan masalah ilmu sebenarnya. Cuma beda situasi dan bidang saja. Cerintanya ada seorang penduduk miskin yang berusaha melakukan protes terhadap pejabat setempat karena dia merasa hasil kerja pejabat mereka itu tidak becus.

Kemudian pejabat tersebut menantang, “Tahu apa kamu soal politik dan pemerintahan? Saya lebih tahu soal seluk beluk wilayah dan negara ini dibandingkan kamu! Kamu tidak mempunyai hak untuk protes dengan cara kerja Saya.”

Perlawanan yang Bisa Kamu Lakukan

“Saya masyarakat Anda. Saya yang memilih Anda. Meskipun Saya orang miskin, bodoh dan tidak mampu melanjutkan sekolah, tapi Saya hidup di tanah dan wilayah yang Anda kelola. Betapapun Anda bilang bahwa Saya tidak punya hak untuk protes atau melakukan pembelaan akan penindasan yang Anda lakukan terhadap Saya dan kami semua, akan tetapi pada kenyataannya kami tinggal di wilayah ini. Kami orang-orang yang terkena imbas oleh hasil kerja Anda. Kami memang tidak punya hak untuk mengkritik cara kerja Anda karena kami tidak tahu apa-apa soal politik dan pemerintahan, tapi kami punya hak untuk melakukan protes terhadap apa saja yang Anda lakukan yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup kami.”

Masalah Guru dan Murid

“Saya ini guru kamu! Kamu tidak boleh menentang apa saja yang diajarkan oleh guru, atau kamu nanti Saya skors!”

Perlawanan yang Bisa Kamu Lakukan

“Siswa melakukan protes itu pasti ada alasannya Pak, Bu. Kenapa Bapak dan Ibu tidak menanyakan soal alasan kami marah?”

Masalah Kekayaan

“Saya ini lebih kaya daripada kamu!”

Perlawanan yang Bisa Kamu Lakukan

“Asu!”

Masalah Iman

“Saya lebih tahu agama daripada kamu!” “Iman Saya lebih tinggi daripada kamu!” “Saya orang alim!” “Saya hafal Al Qur’an dan kamu tidak!”

Perlawanan yang Bisa Kamu Lakukan

“Asu!”

Masalah Fisik

“Saya lebih ganteng daripada kamu!”

Perlawanan yang Bisa Kamu Lakukan

“Aaaassssuuuu!!!”

Masalah Keturunan

“Kamu tidak tahu Saya ini anak siapa HAH?!”

Perlawanan yang Bisa Kamu Lakukan

“Anak asu.”

Memang, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk melakukan pembelaan dengan cara berbicara secara langsung kepada orang yang melecehkan mereka, lantang dan keras. Tapi setidaknya kita bisa mempertahankan perasaan-perasaan tersebut di dalam hati. Dengan begitu kita bisa tetap bertahan untuk hidup sebagai orang-orang yang memiliki harga diri tinggi. Meskipun cacat.

Masalah Agama

Ini yang paling Aku tidak suka. Dalam perdebatan agama (Katanya sih begitu. Kalau Aku malah merasa mereka itu bukan sedang berdebat tapi sedang bergunjing), ketika masing-masing pihak tidak ada yang mau kalah, akhirnya salah satu dari mereka akan mencari-cari kelemahan dari kitab lawan debat mereka untuk dilecehkan dan dipermainkan. Kebanyakan sih yang berdebat itu orang-orang Muslim dan Nasrani. Kalau yang lain Aku kurang tahu. Orang-orang Nasrani bilang kalau Rasul kami itu punya kelainan seks. Karena istrinya banyak. Kemudian pihak kami yang ternyata sama-sama tidak bisa diandalkan bilang kalau Tuhan mereka itu tidak pakai celana. Lalu menyebar lagi mungkin ke agama yang lain, mereka menyindir agama lain yang menyembahi patung. Tuhan mereka tidak pakai baju, susunya kelihatan, dan sebagainya dan sebagainya.

Kamu tidak usah masuk ke forum-forum debat semacam ini. Mereka berani berdebat soalnya mereka punya pegangan kitab dan punya pengetahuan akan kitab-kitab agama yang menjadi lawan debat mereka. Mereka itu berdebat tidak pakai ilmu. Tinggal baca kitab saja, lalu cari ayat-ayat yang sekiranya bisa digunakan untuk menjatuhkan lawan. Setelah ketemu yang bagus tinggal copy–paste. Simsalabiimmm!!!

Karena kitab adalah takdir yang dibuat oleh Tuhan, maka mereka bisa memanfaatkan ayat-ayat yang ada di dalamnya untuk menjatuhkan agama yang lain. Soalnya tidak mungkin penganut agama yang dilecehkan oleh mereka akan menentang ajaran agama mereka sendiri hanya untuk melakukan pembelaan. Jadinya mereka melakukan pembalasan dengan cara mencari-cari kelemahan kitab lawan debat mereka untuk membuat lawan mereka menjadi tidak berkutik. Soalnya lawan debat mereka tidak mungkin akan menentang ajaran agama mereka sendiri hanya untuk melakukan pembelaan. Begitu seterusnya.

Aku tidak tahu apakah istilah “cacat” ini cocok untuk diterapkan pada pihak korban. Tapi kalau sekiranya ini bisa menjelaskan… Kamu mungkin sering melihat orang cacat dan kamu tidak suka dengan mereka, tapi apakah kemudian kamu layak untuk melecehkannya hanya karena kamu punya kaki yang lebih bagus dan kulit yang lebih mulus?

Aku mungkin bodoh, tapi kalian lebih bodoh dan goblok lagi karena telah membuang-buang waktu untuk memperbudak seseorang yang tidak akan pernah bisa didogma ini. Jadi tidak usah munafik dan sok pintar di hadapanku. Dan jangan pernah sekali-kali menghinaku. Menghinaku sama saja dengan menghina ibuku, karena ibuku yang melahirkanku. Menghinaku sama saja dengan menghina seluruh keluargaku dan sahabat-sahabatku, karena Aku menjadi seperti ini berkat mereka. Menghinaku sama saja dengan menghina Tuhanmu sendiri, karena Tuhanmu-lah yang menciptakan Aku.

25 Februari 2014