Berfoto dengan Orang Gila

Seumur-umur mungkin ini akan menjadi tugas paling aneh yang dibebankan kepada kami. Setidaknya sampai hari ini. Lebih aneh dibandingkan dengan tugas membuat askep sekali dalam seminggu. Untuk memenuhi tugas pertama kami dalam mempelajari materi kuliah kejiwaan, bu Ririn meminta kami semua berfoto dengan orang gila. Yap, orang gila. Satu orang gila tidak boleh digunakan untuk lebih dari satu anak, jadi setiap anak harus mencari satu orang gila untuk dipakai berfoto. Siang ini Saya dan Sutikno keliling kota Purwokerto hanya untuk mencari orang gila.

Kenapa tidak mencari yang dekat saja? Karena kalau mencari orang gila yang dekat, mungkin mereka sudah lebih dulu dipakai untuk berfoto oleh anak-anak yang lain. Selain itu, berfoto dengan orang gila yang terletak di tempat yang jauh membuat Saya merasa lebih tenang, karena andaikata ada orang di sekeliling kami yang kemudian menertawakan atau curiga dengan tingkah laku kami bersama orang gila tersebut, setidaknya rasa malu yang ditimbulkan tidak akan lebih besar dengan rasa malu yang ditimbulkan jika Saya ditertawakan atau dicurigai oleh orang-orang yang telah kenal dengan Saya.

1
2
3

Mumpung jurnal yang Saya tulis kali ini adalah mengenai orang gila, Saya jadi ingat kalau selama ini Saya punya pendapat yang mungkin terbilang tidak lazim mengenai orang gila. Tapi tidak apa-apalah kalau Saya ungkapkan di sini.

Jadi, menurut Saya yang namanya orang gila itu tidak ada bedanya dengan hantu.

Bingung?

Karena kalau kamu pernah melihat atau setidaknya membayangkan bagaimana sosok-sosok kuntilanak atau noni bersikap, sebenarnya itu tidak jauh berbeda dengan bagaimana orang-orang gila bersikap. Iya kan? Coba pikirkan! Cara mereka tertawa, menangis, murung dan bahkan cara mereka bercanda. Bahkan juga cara mereka dalam berpakaian. Semuanya mirip dengan cara orang gila dalam bersikap dan berbusana. Tapi kenapa orang tidak pernah berpikir sampai ke situ ya? Dilihat dari sisi mana saja, menurut Saya orang gila itu tidak ada bedanya dengan hantu. Saya sudah mantap dengan pendapat itu.

Oya, sedikit tambahan, kalau mau berfoto dengan mereka, jangan lupa sebelumnya persiapkan uang atau jajan secukupnya untuk diberikan kepada mereka sebagai imbalan. Jaga juga privasi mereka. Jangan mengunggah foto mereka ke media sosial, apalagi tanpa sensor.1

14 September 2015

  1. Saya anggap blog ini sebagai “bukan media sosial”.