Apa yang Sedang Terjadi ya Allah…

Sebelumnya, yang Saya harapkan sebenarnya hanyalah agar dia bisa menjadi satu hadiah untuk Saya dan kedua orangtua Saya. Saya pikir orangtua Saya akan senang jika Saya memperlihatkan dia nanti, sebagaimana Saya yang juga begitu senang ketika melihat dia. Sebuah hadiah yang manis, yang bisa melengkapi hidup Saya dan menentramkan hati kedua orangtua Saya kelak, ketika mereka berdua pada akhirnya dipanggil oleh Tuhan. Akan tetapi kenyataan berkata lain. Cinta, memang tidak bisa dipaksakan.

Entah apa yang sedang Anda rencanakan untuk Saya kali ini, tapi Saya benar-benar sudah tidak kuat lagi. Rasa cinta ini sudah terlanjur mengendap dalam dada, dan kini Saya tidak tahu bagaimana cara menghilangkan itu semua. Rasanya sakit… sakit sekali. Setiap hari Saya merasa ingin mati, ingin lari dari kenyataan, lari dari kampus ini. Menjauh dari dia. Tapi Saya tidak bisa. Saya masih berada dalam posisi berkuliah. Selain itu, uang yang Saya gunakan ini juga adalah uang milik orangtua Saya, dan Saya sudah mantap ingin membanggakan kedua orangtua Saya dengan jalan ini.

Ketika awal-awal Saya masuk ke kampus ini, Saya merasa tidak memiliki tujuan apa-apa kecuali berusaha untuk belajar saja dengan baik agar kelak Saya bisa lebih mudah dalam mendapatkan pekerjaan dan oleh karena itu dapat hidup lebih makmur, untuk memperbaiki nasib dan meningkatkan derajat kedua orangtua Saya. Hingga pada akhirnya dia muncul dan singgah di dalam hati Saya. Pada saat itu Saya merasa mata Saya tiba-tiba saja terbuka, Saya merasa telah mendapatkan tujuan hidup baru. Saya merasa memiliki alasan yang kuat untuk melakukan ini semua. Saya bahkan sempat memutuskan untuk mencari pekerjaan di Tegal kelak, apabila Saya sudah lulus. Tapi rencana itu sepertinya akan Saya batalkan karena trauma. Begitu pula dengan rencana-rencana yang lain yang tidak sanggup Saya ungkapkan di sini. Dan jika rasa sakit ini masih saja mengganggu aktivitas Saya di kampus, maka hancurlah semua pengorbanan, rencana dan cita-cita yang sudah berhasil Saya pasrahkan kepada Anda.

Saya ingin bersabar ya Allah. Saya ingin bisa bersabar, karena kini hanya Anda saja yang bisa Saya cintai dan bersedia untuk membalas cinta Saya. Tuhan, Saya harus bagaimana? Saya masih menunggu jawaban atas semua yang terjadi. Mulai malam ini. Sampai kapan semua ini akan berakhir? Untuk apa semua ini terjadi ya Allah?

Kuatkanlah Saya ya Allah… Hindarkanlah Saya dari segala penglihatan, pendengaran, pertemuan dan peristiwa yang dapat makin merobek-robek hati Saya. Saya tidak sanggup melakukan semua ini sendiri. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk benar-benar bisa lepas dari dia. Saya pasrah ya Allah… Bantulah Saya untuk melupakan dia…

Dan jika memang hanya ini saja yang dapat membuat Saya bisa perlahan-lahan kembali ke posisi yang sama seperti sebelum Saya bertemu dengan dia, maka butakanlah mata Saya hanya untuk dia seorang ya Allah… Tulikanlah pendengaran Saya hanya untuk dia seorang ya Allah… Saya tidak keberatan, selama Anda masih tetap berada di sisi Saya…

15 Mei 2015