Apa yang Membuatmu Menyesal Setelah Melakukan Pembunuhan untuk yang ke Sekian Kalinya?

Aku bermimpi. Ketika itu Aku sedang berada di dalam sebuah ruang ujian bersama beberapa peserta yang lainnya. Kami semua mendapatkan soal yang aneh. Seperti soal untuk psikotes, karena semuanya harus dijawab dalam bentuk uraian dan cenderung mengajak para peserta untuk berpendapat dibandingkan untuk menjawab. Di sampingku duduk seorang teman sekelasku dulu, namanya Muhammad Nur Jami. Aku tidak pernah memiliki hubungan yang dekat dengannya. Bisa dibilang lebih tampak sebagai seorang kenalan dibandingkan seorang teman sekelas. Maklum, kami beda komunitas. Entah bagaimana dia bisa masuk ke dalam mimpiku, karena Aku sama sekali tidak pernah memikirkannya. Aku jarang sekali memikirkan orang-orang yang terlalu umum dan mudah memudar di lingkungan sekitar, Aku lebih sering memikirkan orang-orang yang sangat dekat saja.

Semua jawaban ditulis menggunakan tangan. Pertanyaan pertama adalah mengenai perkiraan waktu. Ada seorang profesor yang sedang duduk di antara rekan-rekan profesor yang lain. Ketika itu dia dilewati oleh sebuah objek dengan cepat yang datang melalui hadapannya. Pertanyaannya adalah, kapan orang itu bisa melihat objek tersebut?

Di soal tersebut terdapat sebuah foto yang mengilustrasikan keadaan tersebut. Kurang lebihnya seperti ini:

Foto para Profesor

Ini cuma gambar coretan tanganku, sedangkan yang Aku lihat sebenarnya adalah sebuah foto. Di situ terdapat mungkin ada sekitar tujuh sampai sepuluh orang manusia. Sebagian besar berperawakan gemuk. Hanya satu orang saja yang berada di tengah, yang memiliki fisik kurus dan tampak duduk dengan posisi menjorok ke sebelah dalam. Rambutnya ikal dan berwarna pirang. Orang inilah yang menjadi objek pertanyaan kami.

Saat itu Aku menjawab: Dia akan melihatnya pada saat yang bersamaan ketika objek itu tampak di depan matanya, atau akan melihatnya sesaat setelah objek tersebut benar-benar telah pergi.

Pertanyaan berikutnya adalah mengenai produk otomotif. Di soal tersebut tertulis: Sebagai seorang anggota, apa pendapatmu tentang … (menyebut sebuah nama produk pelumas mesin. Aku yakin namanya adalah YamaLube atau EvaLube). Kamu bebas untuk mengatakan jancok jika bukan merupakan anggota.

HAH??! Aku jawab saja: Aku bukan anggota.

Pertanyaan berikutnya sangat mengagetkan jika dipikirkan di dunia nyata, tetapi saat itu Aku menanggapinya dengan begitu santai: Hal apa yang akan membuatmu merasa menyesal jika kamu melakukan pembunuhan untuk yang ke sekian kalinya?

Aku jawab dalam dua sudut pandang: Jika Aku adalah orang normal, maka Aku akan merasa menyesal karena telah melakukan pembunuhan untuk yang ke sekian kalinya, menyesal karena telah melakukan kesalahan yang sama. Jika Aku adalah orang psikopat, maka Aku akan menyesal karena telah membuat nama situs dengan domain dot com. Karena jika pembunuhan yang terjadi dilakukan secara berantai, seharusnya dulu Aku memberikan nama situs dengan domain dot net.

Aneh memikirkan dari mana Aku bisa mendapatkan jawaban seperti itu. Padahal dalam soal tersebut tidak tertera sama sekali mengenai bahwa pembunuh tersebut memiliki alamat web atau mengerti soal web atau semacamnya.

Ada beberapa pertanyaan lain yang sudah terlupakan dan berhasil terlepas dari ingatanku. Yang jelas, sebelum Aku menyelesaikan semuanya, sang Tutor sempat memberikan kunci jawaban untuk soal yang pertama di saat beberapa di antara kami masih ada yang sedang mengerjakan soal. Dia bilang, ini ada hubungannya dengan perjodohan. Setelah menjelaskan semua alasannya, semua orang di dalam ruangan tersebut jadi tertawa terbahak-bahak. Aku tidak begitu memperhatikannya. Aku sedang pusing mengerjakan soal yang lainnya, dan Aku adalah peserta yang paling lama menyelesaikan semua soal tersebut.

Merasa pusing dengan berbagai pertanyaan yang aneh berikut juga beberapa peserta lain yang terus berusaha untuk mencontek jawabanku, itu membuatku sedikit marah dan pada akhirnya Aku beberapa kali berpindah-pindah tempat duduk.

Di bagian paling bawah lembar soal Aku juga melihat dua buah foto dengan gambaran kurang lebih seperti ini:

Mobil terbang.
Orang mirip denganku sedang tertawa bahagia.

Foto pertama menggambarkan sebuah mobil keluarga warna gelap atau biru gelap yang sedang terbang hendak keluar dari pagar jembatan jalan menuju ke dalam hutan cemara yang sedikit mengeluarkan cahaya. Keadaan siang hari. Foto yang ke dua adalah foto seorang anak yang sedang menoleh ke belakang sambil tertawa bahagia. Secara fisik dia sangat mirip denganku, tetapi dari segi wajah dia tampak lebih oriental. Di sampingnya terdapat sebuah mobil sedan kuno (Aku gagal menggambarnya) berwarna biru tua.

Beberapa saat sebelum mimpi tersebut, Aku juga sempat berada dalam situasi seperti sedang berada di rumah. Saat itu ada seorang tamu anak kecil laki-laki dengan orangtuanya yang katanya telah berhasil menciptakan ponsel. Ibuku berkata padaku dari kejauhan ketika anak tersebut berjalan melewatiku, “Lihat itu, Fik. Anak sekecil itu saja sudah bisa menciptakan ponsel, kapan kamu bisa begitu?”

Kurang lebihnya seperti itu. Sebuah penyataan rasa kagum. Saat itu kujawab santai saja, “Percuma membuat sesuatu yang sudah pernah ada. Tidak akan terlalu membuat orang lain terkesan.” Saat itu yang ingin kukatakan sebenarnya adalah bahwa, percuma saja menciptakan ponsel yang sudah lama ditemukan. Itu tidak akan membuat orang lain di dunia menjadi cukup terkesan dengan penemuan tersebut. Malah, mugkin dia nanti hanya akan dianggap plagiat dari suatu produk ponsel tertentu. Lebih baik menciptakan sesuatu yang benar-benar belum pernah ditemukan!

12 November 2013