Loading…

Antisemitisme

Memang dasarnya sial. Tapi Aku sudah terlanjur tidak bisa menahan diri. Setiap kali Aku membaca artikel-artikel mengenai sejarah perkembangan agama, saat itu Aku jadi ikut-ikutan emosi! Aku memang tidak bisa meragukan fakta-fakta yang diberikan, hanya saja terkadang hal-hal yang benar tidak selalu memberikan pencerahan, tapi justru membuat pikiran kita menjadi semakin suram. Di luar dari alasan dibuatnya artikel tersebut sebagai media untuk menambah wawasan, Aku justru lebih cenderung merasa bahwa artikel-artikel tersebut hanyalah artikel yang bertujuan untuk memprovokasi.

Mereka memanfaatkan kebenaran yang ada untuk menyalahkan pihak-pihak yang mungkin saja berada dalam kebetulan yang tidak menguntungkan. Sedangkan mereka? Tentu saja mereka berada di pihak yang menguntungkan, karena bisa dibilang, mereka telah berada dalam situasi dan sisi yang benar secara tidak sengaja sejak mereka dilahirkan. Mungkin Aku harus menandai kalimat yang sangat luar biasa ini:

Dalam Islam, tidaklah sulit mencari pembenaran religius untuk membenci Yahudi. Dan belakangan ini kami sering menjumpai pembenaran ini seolah-olah bagian esensial dari Islam. Terdapat sejumlah ayat Qur’an yang mengutuk orang Yahudi Madinah dan sekaligus bisa ditafsirkan sebagai anjuran untuk senantiasa mencurigai dan membenci kaum Yahudi. Tetapi sebenarnya ayat-ayat ini baru belakangan menjadi begitu populer. Asal-usul kebencian yang sesungguhnya, tentu, keberadaan negara Israel di tengah negara-negara Arab, dan kekuatan dahsyat tentara Israel. Ayat-ayat Qur’an tersebut memberikan legitimasi belakangan kepada kebencian yang disebabkan oleh kejadian politik. Tulisan Arab anti-Yahudi, agaknya, lebih diwarnai oleh pengaruh buku antisemit Barat seperti Protokol-Protokol ketimbang ayat-ayat Qur’an yang berkaitan dengan Yahudi. Sebagian besar buku mengenai “bahaya Yahudi” yang diterbitkan di dunia Arab merujuk kepada Protokol-Protokol dan tokoh-tokoh antisemit Barat; hanya beberapa saja yang bertolak dari analisa ayat-ayat Qur’an. (?)

Bagiku, ada dua hal yang kuharapkan tidak akan pernah kuketahui dari seseorang yang mendekatiku. Pertama adalah latar belakangnya dan ke dua adalah agamanya. Entah bagaimana pada awalnya, kebanyakan orang begitu mudah berucap seolah-olah apa yang mereka ucapkan adalah apa yang ingin Tuhan katakan. Mohon berikan kami referensi, ilmu dan komentar-komentar yang bernuansa keilmuan dan bukannya kebencian dalam teriakan atas nama Tuhan.

Perkataan-perkataan yang paling Aku benci yang seringkali kudengar dan kubaca dalam diskusi-diskusi keagamaan (katanya) adalah sindiran-sindiran dan hujatan kepada orang lain yang bahkan tidak mereka kenal, bahwa orang tersebut adalah kafir atau Yahudi. Jika Anda menganggap bahwa kata “kafir” dan “Yahudi” merupakan perkataan yang hina dan layak untuk diucapkan kepada orang-orang yang mencoba menentang Anda, maka sebenarnya ketika Anda sedang berkata “Kamu itu kafir” atau “Kamu itu Yahudi”, saat itu sebenarnya Anda tidak ada bedanya dengan orang lain yang sedang berkata “Kamu itu AASSSUUUUU!!!” dan “Kamu itu PELACUUURRRR!!!!!

Itu semua bukanlah kata-kata yang seharusnya diucapkan oleh orang-orang yang berpendidikan nor beriman. Sepintas, kata kafir dan yahudi itu memang tampak biasa-biasa saja, akan tetapi jika diucapkan dalam situasi yang seperti itu, Aku yakin, gairah, sensasi dan rasa gatal-gatal yang muncul di lidah Anda tidak akan jauh berbeda dengan ketika Anda mengucapkan kata asu atau anjing.

Pandangan Imam Khomeini terhadap Zionis dan Yahudi

Setiap bentuk hubungan dengan Israel harus diputuskan. Namun demikian, kaum Yahudi bebas untuk tinggal di Iran dan tinggal di lingkungan yang lebih bebas dari saat Syah berkuasa, karena Islam menghormati semua agama. Kaum Zionis sungguh berbeda dengan kaum Yahudi. Jika kaum muslim menang atas kaum Zionis, maka mereka akan memperoleh nasib yang sama dengan Syah. Namun demikian, kaum Muslim tidak akan bertindak apa-apa terhadap pengikut Yahudi, karena mereka adalah kaum sebagaimana kaum-kaum lainnya. Mereka akan bisa menjalankan kehidupan mereka dan tidak akan tercabut haknya.

Kaum minoritas beragama yang hidup di antara kaum Muslim semenjak awal Islam, setelah kemenangan Islam —bukan mereka yang berpaham politeisme yang merupakan konspirator atau mereka yang berencana dan ingin menciptakan kerusuhan, melainkan kaum minoritas yang religius— diperlakukan dengan penghargaan yang tinggi oleh Islam. Berdasarkan catatan sejarah, diceritakan bahwa pasukan Muawiyah menjarah gelang kaki dari kaki wanita Yahudi. Ketika mendengarnya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku mendengar bahwa mereka datang dan menjarah gelang kaki dari kaki seorang wanita dzimmi (orang-orang Yahudi dan Nasrani yang ramah dan bersahabat yang tinggal di wilayah Muslim). Jika seorang Muslim meninggal dalam keadaan kecewa seperti saya sekarang ini, maka ia tak akan tercela.” Ini menunjukkan betapa kepedulian beliau, bahwa keselamatan semua lapisan penduduk harus dilindungi.

Kami menganggap komunitas Yahudi sama sekali berbeda dengan permasalahan Zionisme dan Zionis, kaum Zionis bukanlah termasuk mereka yang beragama. Ajaran dari Nabi Musa as. adalah ajaran Allah dan Musa as. disebutkan dalam Al Qur’an lebih banyak dari nabi-nabi lainnya. Kehidupan Musa as. telah diceritakan dalam Al Qur’an dan itu memberikan pelajaran yang berharga serta menunjukkan kepada kita bagaimana beliau as. melakukan aksi atas Fir’aun. Beliau as. adalah penuntun, yang memiliki kekuatan dan ketetapan hati, yang bangkit melawan kekuatan besar Fir’aun dan menghancurkannya. Keyakinan atas kekuatan Allah dan perhatian beliau as. kepada kaum lemah dan tertindas, yang digunakan sebagai alat untuk menentang kaum arogan dan berdaya —yang diawali oleh Fir’aun— dan bangkit melawan mereka, adalah jalan Musa as., yangmana semua ini jelas sekali bertentangan dengan rencana kaum Zionis. Mereka ini justru telah bergabung dengan kelompok arogan dan berdaya, serta bertindak sebagai mata-mata mereka dan pembantu mereka, mereka melawan kaum yang lemah dan tertindas serta menentang ajaran Musa as., yang mana beliau sendiri juga sebagai rakyat biasa. Saat ini, mungkin sedikit kaum Yahudi tersesat —yang telah datang ke sana (Palestina) bersama-sama dari berbagai tempat di bumi— yang sekarang menyesali apa yang telah mereka lakukan. Mungkin kaum Yahudi tersebut, yang tidak menginginkan apapun kecuali ajaran Musa as., sekarang merasa menyesal telah pergi ke sana, karena mereka melihat sendiri rencana kelompok Zionis ini —yang menyebut dirinya kaum Yahudi— bertindak melawan ajaran mulia Musa as., membunuh orang tanpa alasan, bersekutu dengan Amerika dan lainnya. Mereka tak akan bisa tahan dengan hal ini. Kami tahu bahwa komunitas Yahudi sungguh berbeda dengan komunitas Zionis. Kami melawan kaum Zionis. Perlawanan kami muncul dari kenyataan bahwa mereka melawan semua agama. Mereka bukanlah kaum Yahudi. Mereka adalah kelompok gerakan politik —yang menyebut diri mereka Yahudi— yang melakukan aksi-aksi tertentu. Kaum Yahudi memandang hina mereka, dan semestinya hal ini dilakukan oleh semua orang…

“Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa juga) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada takwa. Dan bertakwa kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahamengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan.”
(QS Al-Maidah, ayat 8)

8 Juni 2013

4 Komentar:

  1. Ternyata mas taufik banyak tahunya juga soal agama yah

    BalasHapus
  2. aduuh binung mau komen apa, bacaanya cukup berat buat dicerna. hehe

    BalasHapus
  3. Menurut saya yang tidak terlalu panatik dan tidak Anti dengan Agama tertentu mendapatkan Ayat suci yang berbunyi "Agama mu adalah Agama mu, Agama ku adalah Agama ku"
    Seperti kita tahu kekuasaan Allah itu tidak terbatas dan Tidak dapat semua dimuat dalam sebuah kitab suci....

    # Beberapa orang menelan isi kitab suci mentah-mentah..

    BalasHapus
  4. jadi pada kesimpulannya kita tak boleh menelan mentah2 artikel-artikel pembodohan yang sering mengadu domba sesama agama bukan?
    jangankan dengan lain agama, sesama agama yang beda cara pandangnya aja kalau tidak setuju saling fitnah, saling caci bahkan saling habisi

    BalasHapus
Top