Mandala

Beberapa misteri tentang mimpi-mimpi Saya yang aneh yang pernah Saya dokumentasikan akhirnya memperoleh jawaban yang dapat Saya terima secara ilmiah. Ini berawal dari Saya yang tanpa ada niatan khusus memutuskan untuk membeli sebuah buku yang ditulis oleh Carl Gustav Jung. Buku tersebut berjudul Psikologi dan Agama. Waktu itu Saya membeli buku tersebut tanpa ada niatan khusus dan hanya karena pada judulnya terdapat kombinasi antara kata “psikologi” dan “agama” yang sepertinya tidak biasa bagi Saya, yang kemudian membuat Saya jadi penasaran.

Dengan mencoba mengesampingkan hasrat Saya yang menggebu-gebu akan keinginan Saya untuk menjelaskan tentang konsep-konsep beliau mengenai alam bawah sadar kepada kalian, Saya ingin menahan diri demi menjelaskan tentang pengalaman Saya melihat mandala.

Mandala.

Saya Islam, tapi mandala adalah simbol yang ditemukan pada agama Hindu dan Buddha. Sebelumnya Saya bersumpah tidak pernah mengetahui istilah mandala dan baru pertama kali mengetahui istilah itu setelah membaca buku tersebut. Dan bahkan ketika membaca buku tersebut tanpa mencoba untuk mencari tahu mengenai istilah-istilah yang terdapat di dalamnya, Saya telah menduga-duga bahwa agama yang beliau maksud adalah agama terkait dengan kebudayaan Barat seperti agama Yahudi dan Kristen, karena beliau berasal dari Swiss. Tapi ternyata, penjelasan beliau mengenai konsep agama jauh lebih luas dari itu.

Dan uniknya, pada tanggal 29 Maret 2014 yang lalu, sepertinya Saya telah mengalami mimpi dengan ciri yang serupa dengan apa yang telah diungkapkan oleh Jung dalam buku tersebut.

Ya, tidak salah lagi itu adalah mandala!

Saya tidak bisa menyalahkan diri Saya bahwa terdapat hal-hal dalam diri Saya yang menyatu dengan ajaran agama Hindu dan Buddha. Mungkin itu semua berasal dari orang-orang di masa lalu Saya yang tidak Saya tahu pernah ada. Yang jujur saja ini membuat Saya menjadi agak khawatir sekarang, tapi juga sekaligus merasa senang, karena beberapa pertanyaan mengenai diri Saya sendiri yang tidak Saya mengerti akhirnya mulai terjawab. Saya yakin hal ini tidak akan membuat kepercayaan Saya jadi berubah dan justru malah makin memberikan kekuatan kepada keyakinan Saya akan adanya Tuhan dan keyakinan akan betapa luasnya alam semesta.

Jung mengatakan bahwa selain pikiran bawah sadar seorang individu, ada ketidaksadaran umum yang hadir dalam diri kita semua, semua umat manusia. Dia mengatakan bahwa kita semua telah dilahirkan dengan seperangkat keyakinan yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Ketidaksadaran ini tidak terbentuk karena pengalaman hidup kita saat ini, tetapi memang sudah ada dari awal evolusi kehidupan. Ini adalah sesuatu yang disebutkan Jung sebagai Ketidaksadaran Kolektif. Ketidaksadaran kolektif ini terwaris melalui nenek moyang kita, atau juga umat manusia pada umumnya. Konsep ini sebenarnya sama dengan konsep penurunan ciri fisik seperti kamu yang mewarisi bentuk mata ibumu atau pembawaan seperti ayahmu. Ini adalah reservoir dari pengalaman kita sebagai spesies.

Selain mandala, Saya juga akhirnya mulai memahami tentang siapa sosok-sosok wanita asing yang selalu muncul dalam setiap mimpi-mimpi Saya. Mereka adalah apa yang Jung sebut sebagai anima.

Rupanya tidak ada penolakan terhadap perasaan kolektif, religi massa dan paganisme dalam keseluruhan mimpi pasien saya, kecuali dari teman penganut Protestan yang segera menghliang. Hanya ada satu kejadian aneh yang menarik perhatian kami: yakni perempuan tak dikenal yang baru pertama kali mengikuti eulogi (prosesi piji-pujian untuk orang yang telah meninggal) Katolik yang tiba-tiba mengucurkan air mata, dan berkata: “Maka, tidak ada yang tersisa sama sekali,” diapun menghilang dan tidak kembali lagi.

Siapa perempuan ini? Bagi si pemimpi, dia adalah sosok samar-samar yang tak dikenal, namun ketika dia mengalami mimpi tersebut, dia sudah mengetahui perempuan itu dengan baik sebagai “perempuan yang tak dikenal” yang sering muncul dalam mimpi-mimpi sebelumnya.

Begitu figur ini memainkan peran penting dalam mimpi-mimpi laki-laki, ia hadir sebagai penanda teknis yang disebut “anima”, karena fakta bahwa sejak dari kehidupan laki-laki di masa lampau, di dalam mitos-mitosnya selalu terdapat gagasan tentang suatu koeksistensi antara laki-laki dan perempuan di tubuh yang sama (Jung, 1938: 54).

26 Februari 2018