Bahasa

Saya mengamati terdapat begitu banyak kesamaan perilaku dan aura fisik yang akan muncul pada setiap orang asing (masyarakat pendatang) dengan kemampuan bahasa tunggal yang baru saja berbaur dengan masyarakat lokal di sebuah negara: mereka tampak dungu/bodoh/awkward, dan memiliki selera humor yang rendah.

Anda bisa memahami apa yang Saya maksudkan di sini dengan cara yang sederhana: menonton berbagai acara di televisi yang menampilkan percampuran antara orang asing dengan orang-orang lokal.

Mereka diajak bicara, dikerjai, diberikan humor-humor khas masyarakat lokal, diminta untuk menari dangdut, dan lain sebagainya, tapi mereka tetap tidak mengerti, dan oleh karena itu mereka hanya bisa haha-hehe saja tanpa tahu sebenarnya lucunya itu ada di sebelah mana. Kenapa semua orang menertawakan apa yang mereka lakukan, mereka tidak mengerti. Mereka hanya berusaha untuk mengerti.

Setiap manusia (termasuk Saya) masih cenderung menilai orang lain melalui kemampuan mereka dalam berbahasa. Kita anggap orang yang pintar bicara dan menulis adalah orang yang cerdas, meski kenyataannya tidak semuanya begitu. Tapi pada intinya, kita sepakat bahwa kemampuan seseorang dalam mengungkapkan gagasan dapat menjadi salah satu tolok ukur yang kuat untuk menentukan seberapa cerdas seseorang, dan seberapa luas wawasanya. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk mempelajari apa itu bahasa dan bagaimana cara menggunakannya dengan benar; yaitu dengan cara memperbanyak perbendaharaan kata dan kemampuan komunikasi. Itu saja sebenarnya sudah cukup untuk mendukung beberapa persyaratan lain di masa depan, sehingga kita bisa dianggap telah mencapai tingkat kecerdasan yang optimal. Karena dari bahasa kita bisa memperoleh wawasan. Tanpa bahasa, kita tidak akan tahu informasi dan oleh karena itu akan berlanjut mempengaruhi perilaku dan penampilan kita secara fisik.

Alasan mengapa orang asing yang baru pertama kali berbaur dengan masyarakat lokal tampak dungu/bodoh/awkward menurut Saya adalah karena mereka belum menguasai bahasa masyarakat lokal. Mereka belum tahu bagaimana logat dan selera humor mereka; budaya mereka. Tapi seiring berjalannya waktu, kekurangan-kekurangan itu pasti akan segera menghilang dengan sendirinya oleh karena membaur memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Saya sebenarnya tidak ingin beranalogi terlalu jauh sampai membanding-bandingkan antara manusia dengan binatang —meskipun dalam sistem taksonomi biologi Binomial Nomenklatur, manusia dimasukkan ke dalam kategori binatang dengan nama ilmiah Homo sapiens—, tapi pada kasus ini sepertinya memang diperlukan.

Tahukah kamu mengapa peradaban bangsa kera tetap tidak bisa melampaui majunya adab bangsa manusia meskipun mereka sudah lama disebut-sebut sebagai binatang dengan tingkat kecerdasan, perilaku dan reproduksi paling menyerupai manusia?

Jawabannya adalah karena mereka tidak memiliki bahasa untuk saling bertukar pikiran.

Bisa saja, mungkin ada banyak bangsa kera di dunia ini yang sebenarnya memiliki potensi untuk (misalnya) tahu bagaimana cara melestarikan hutan dengan benar, tapi hanya karena mereka tidak memiliki bahasa untuk mengungkapkannya dengan baik kepada kera-kera yang lain (dan untuk memperoleh gagasan-gagasan dari spesies lain yang memiliki bahasa yang telah disempurnakan —misalnya manusia), maka ide-ide mereka tidak akan pernah bisa berkembang dan tersampaikan. Selamanya.

12 Januari 2018