Yudisium

Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda akan suatu hal. Dan bagi teman-teman Saya, masa-masa wisuda mungkin akan menjadi saat-saat yang paling menyenangkan dan membanggakan, dimana kita semua pada akhirnya sampai pada tahap akhir sebuah proses, ketika semua kewajiban akhirnya berhasil terpenuhi. Tapi bagi Saya, wisuda tidak lebih dari sekedar perpisahan.

Bukan, Saya bukan tipe orang yang akan bersedih ketika berpisah dengan orang lain. Saya juga sejak awal sudah berusaha menjaga jarak dari teman-teman yang lain, bahkan dari para dosen dan staf karyawan yang lain di kampus untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi masa-masa seperti ini. Karena Saya tahu situasi akan menjadi semakin buruk ketika hubungan pertemanan yang telah kita jalin menjadi terlalu dekat hingga nyaris sampai pada tahap hubungan kekeluargaan. Saya tidak suka terikat satu sama lain sampai sedekat itu, karena Saya tahu semua orang tidak bisa menepati janji.

Tentang janji bahwa kita akan lulus sama-sama, bekerja di tempat yang sama, dan janji bahwa suatu saat kita akan bertemu lagi dalam acara reuni dan sebagainya. Meski kadang Saya mengiyakan ucapan-ucapan mereka, tapi dalam hati sebenarnya Saya tidak percaya. Ketika nanti kita berpisah satu sama lain, masing-masing pasti akan berubah, entah itu berarti berkembang menjadi makin dewasa dan berpengalaman atau sekedar makin lupa. Tapi seiring berjalannya waktu, setiap orang akhirnya akan meninggalkan kenangan-kenangan lama untuk memprioritaskan masa depan mereka, setiap orang akan berkembang untuk membentuk kepentingan-kepentingan baru di kemudian hari, dan oleh karena itu, bertemu dan mengenang hubungan lama kelak akan menjadi mustahil, atau sekedar menjadi tidak berkesan lagi.

Akan ada saatnya nanti kita bertemu kembali dan saling bertatap muka hanya dalam jarak beberapa meter saja. Tapi pada saat itu kita tetap berusaha untuk berpaling, betapapun kita tahu bahwa dulu kita pernah saling mengenal. Saya tidak akan menyalahkan situasi tersebut. Waktu yang telah lama berlalu memang akan membuat setiap orang menjadi ragu untuk saling bertemu. Sebenarnya Saya tahu bahwa kita berbuat begitu bukan karena kita sudah lupa, tapi karena kita sedang takut. Takut akan penolakan. Karena masing-masing dari kita sudah tidak memiliki kepentingan lagi. Kadang kita merasa lebih nyaman dengan situasi yang abu-abu dengan cara tidak menyatakan apa yang kita rasakan terhadap orang lain dibandingkan ketika kita harus mendapat penolakan setelah kita menyatakannya. Karena mengembalikan kenangan memang membutuhkan waktu yang lama. Andai saja kita dapat berada dalam posisi seperti itu lebih lama lagi, mungkin kita akan mampu menangkap kenangan-kenangan lama yang pernah kita rasakan dulu, hingga akhirnya kita mampu untuk saling menyapa kembali, melakukan validasi dan saling mengecek daya ingat masing-masing, sekedar untuk menunjukkan kepada satu sama lain bahwa basa-basi yang sedang kita perjuangkan ini adalah sangat penting. Tapi kemudian, tugas dan orang-orang baru di sekeliling kita akan makin menghalangi kita untuk saling mengingat. Yang baru akan mengalihkan yang lama, karena yang baru akan menghapus yang lama.


Jika tidak diundur kembali, seharusnya jadwal yudisium akan dilaksanakan pada tanggal 13 September nanti. Tapi melihat dari situasi yang sekarang, dimana baru sekitar 25 anak saja yang telah berhasil mendaftar yudisium dari sekitar 100 anak keperawatan D3 di kampus, bukan hal yang tidak mungkin jika jadwal yudisium akan diundur kembali. Dalam beberapa hal, profesi keperawatan memang bisa berubah menjadi sesuatu yang cukup serius jika dibandingkan dengan profesi yang lain. Oleh karena itu tugas akhir menjadi semakin lama untuk diselesaikan.

Saya tidak ingin membanding-bandingkan. Saya berkata seperti ini karena Saya berada dalam situasi yang mendukung. Jadi bisa dibilang, pernyataan Saya ini sangat subjektif.

Setidaknya urusan Saya sudah selesai. Sisanya hanya tinggal menunggu waktu. Dua hari yang lalu Saya sempat pergi ke sekolah Saya yang dulu untuk memperoleh legalisir ijazah SMK Saya sebagai salah satu persyaratan untuk mendaftar wisuda. Sudah tujuh tahun berlalu, tidak begitu banyak yang berubah. Saya juga sempat berusaha menyapa beberapa guru lama Saya yang Saya temui. Mungkin mereka sudah lupa dengan nama Saya, tapi Saya tahu kalau mereka masih ingat dengan Saya. Semuanya berjalan dengan sangat normal. Tapi di luar dugaan Saya, ternyata pak Umar Nur Arif, guru Teknik Mekanik Otomotif yang dulu sering sekali memuji-muji Saya di depan kelas ternyata sekarang sudah menjabat sebagai kepala sekolah. Sistem absensi para guru juga sudah makin moderen, menggunakan sidik jari dan pola iris mata. Beberapa sertifikat dan deskripsi lengkap tentang target mutu sekolah sudah terpampang jelas di dinding-dinding kantor.

2 September 2017