Kembali ke Kodrat Masing-Masing

Efek syok yang terjadi pada seluruh anak kampus karena kegiatan praktik di Rumah Sakit selama sebulan ternyata cukup menguntungkan Saya karena ini membuat Saya jadi lupa dengan seseorang. Oke, Saya tahu pernyataan Saya ini justru malah menunjukkan bahwa Saya sebenarnya masih ingat dengan orang tersebut. Tapi toh bukan sisa-sisa ingatannya yang selama ini telah membuat Saya trauma, melainkan karena kenangan yang ditimbulkan oleh ingatan-ingatan tersebut. Sekarang Saya merasa lebih baik, dan sudah bisa membuat rencana-rencana baru untuk ke depannya pada saat kuliah nanti. Tanggal tujuh.

Namun untuk beberapa hal, mungkin Saya akan tetap sama seperti sebelumnya. Tertutup, depresif dan menghindari para dosen. Sulit untuk bisa menjadi orang yang tetap low profile selama fisik dan aura tidak bisa mengikuti keinginan pemiliknya. Semakin Saya berusaha untuk tidak terlihat mencolok, justru pada saat itu Saya malah jadi makin terlihat mencolok. Nasib.

Menurut Saya, para mahasiswa harus tetap bisa menjaga diri mereka agar tetap dapat terbentuk jarak yang cukup antara diri mereka dengan dosen terkait untuk alasan pemenuhan kebutuhan privasi, begitu pula dengan para dosen. Ini dinamakan sebagai hubungan profesionalisme. Saya tidak suka, tapi memang seharusnya kita memisahkan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan umum sesuai dengan jabatan atau posisi kita dalam status sosial di lingkungan tertentu. Yang mana status Saya sekarang adalah sebagai mahasiswa, dan status beliau-beliau adalah sebagai dosen.

Ada satu pemikiran terlintas dalam benak Saya: Ketika seorang guru bisa berkata, “Ini adalah urusan para guru, kalian sebagai murid tidak perlu tahu akan urusan-urusan yang sedang kami kerjakan” maka para murid seharusnya juga boleh berkata, “Ini adalah urusan para murid, kalian sebagai guru tidak perlu tahu akan urusan-urusan yang sedang kami kerjakan”.

Dulu, dalam sebuah film kartun, Garfield pernah berkata seperti ini pada saat sesi pembukaan:

Garfield Arbuckle

“Perhatian! Ini adalah tontonan untuk anak-anak. Orangtua dilarang menonton kecuali jika ditemani oleh anak-anak.”

Memelihara hubungan yang berjarak seperti ini memang hanya akan mencegah kita semua untuk dapat saling memaklumi satu sama lain, namun ketika kita mencoba untuk menghapus batas tersebut dan kemudian mulai mencampurkan hal-hal yang bersifat pribadi ke dalamnya, justru pada saat itu kita malah akan lebih terkonsentrasi pada bagaimana caranya memperoleh permintaan maaf untuk membenarkan kelalaian-kelalaian kita dibandingkan dengan bagaimana caranya menyelesaikan tugas masing-masing dengan benar. Dalam posisi Saya sekarang, berusaha untuk membuat mereka bisa memaklumi keadaan Saya tidak akan membuat Saya merasa lebih baik. Yang sekarang bisa Saya lakukan hanyalah berusaha untuk menjadi seorang mahasiswa seutuhnya, semampu Saya. Saya tidak mengharapkan nilai yang bagus hanya karena Saya ini orang baik atau hanya karena Saya ini dikenal oleh para dosen.

Ketika praktik kemarin, terdengar kabar burung bahwa di kampus akan terjadi SP besar-besaran karena nilai-nilai ujian yang kita dapatkan sebelumnya ternyata kebanyakan pada bobrok, terutama pada mata kuliah Fundamental of Nursing dan Komunikasi Keperawatan. Devi yang bilang begitu ke Saya. Dia heboh, “Masa iya Fik, bahkan Amel yang jadi PJ juga sampai dapat nilai C! Padahal dosen-dosen kan pada kenal sama dia!!!”

Devi

Sambil mainan ponsel dia ngomong lagi, “Tapi yang jelas nggak mungkin lah kalau kamu sampai dapat nilai C. Dosen-dosen kan pada suka sama kamu Fik.”

Masa si ya? Bukan mencoba untuk rendah hati atau apa, tapi sepertinya memang benar. Pada saat itu Saya mengecek nilai Saya dan ternyata memang tidak ada nilai C.

Selain mengobrol tentang kuliah, di sana Devi juga suka cerita tentang Andri, mantan pacarnya. Kebetulan Andri satu kos sama Saya. Pada awalnya kamar kos Saya memang hanya ditempati oleh dua orang saja, yaitu Saya dan Santoso. Tapi beberapa hari kemudian Devi meminta Saya untuk menampung Andri karena merasa kasihan dengan keadaannya. Andri selama di rumah Devi bawaannya murung, nggak ada teman laki-laki buat ngobrol. Setiap kali Saya mau ganti shift dan bertemu dengan Devi di Rumah Sakit, dia pasti bakal sempat-sempatnya tanya ke Saya, “Eh, Andri di kos kamu? Dia nggak pergi ke mana-mana kan? Lagi ngapain? Dia pasti jarang makan ya?”

Dia tidak pernah tanya soal Andri ke Santoso, karena katanya Santoso itu orangnya menyebalkan. Kalau di depan orangnya begitu, tapi kalau di belakang ternyata …

Saya paham dengan yang sedang dia keluhkan, karena jujur saja Saya juga merasa begitu. Tapi Saya tetap berusaha untuk menerima kekurangan masing-masing. Walaupun… Saya sempat jadi ikut-ikutan sebal juga kepadanya ketika Saya tahu kalau ternyata dia pernah ngomongin Saya di belakang Saya. Sama Devi dia pernah bilang kalau dia sedang benci sama Saya karena Saya itu orangnya terlalu perhitungan sama teman-teman. Sebenarnya Saya tidak punya masalah dengan kritik seperti itu karena Saya sendiri juga telah lama menyadari kekurangan Saya tersebut. Yang jadi masalah adalah ketika dia bercerita kepada orang lain di belakang Saya, yang mana kadang ceritanya bisa sampai dibesar-besarkan. Devi bilang Santoso itu orangnya seperti cewek kalau sudah mulai ngomongin orang. Bawel.

Dan sekarang Saya malah jadi ngomongin dia di sini. Haduh, maaf banget, San. Tapi kamu tetep enak kok untuk diajak berteman.

Kalau sudah satu shift sama Devi, setiap hari Saya cuma dapat cerita yang tidak jauh-jauh dari soal rasa sakit hatinya sama si Andri. Andri lagi Andri lagi. Saya cuma bisa pasrah, mendengarkan ceritanya dengan khusyuk.

Saya pernah tanya ke dia secara pribadi ketika kita sedang jalan malam-malam untuk cari makan, “Dev, Sebenarnya gimana sih caranya supaya bisa kayak kamu. Sudah disakiti begitu sama Andri, tapi tetap bisa menjalani hidup dengan baik, ketawa-ketawa begitu.” Dia jawab, “Emang kamu pikir Aku nggak sakit hati Fik? Ya sakit hati lah! Tapi kan sekarang Aku lagi praktik, aku nggak mau kalau sampai kegiatan kuliah jadi berantakan cuma gara-gara masalah ini.”

Oh.

Menemukan orang yang sedang sakit hati karena cinta di kampus itu tidak sulit. Dimulai dari Rian Julianto, Deviana Intan Sulistyani, Mita Indriyani, Ika Yulitasari bahkan Rizki Adiarti Lestari. Ini membuat Saya menyadari bahwa sakit hati yang pernah Saya alami dulu sebenarnya tidak ada apa-apanya dengan apa yang telah terjadi dengan mereka.

Punya teman curhat itu bagus, dan mendengarkan teman yang sedang curhat juga tidak kalah bagusnya.

4 September 2015