Loading…

Menikahi Perusahaan

Menikahi perusahaan, itulah yang sedang kuusahakan hari ini. Di saat semuanya kukira sudah lengkap dan sudah sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh sahabatku yang sudah sangat berpengalaman, ehhh… ternyata? Semuanya malah jadi berantakan wala-wala bag-big-bug cas-cis-cus kompor meleduk!!! Wahahahaha… ini adalah pengalaman pertamaku, jadi seharusnya semua orang bisa memakluminya, kan?
Sejak dulu, Aku ini orangnya memang sangat tidak mahir di dalam urusan “lamar-melamar”. Ya… mau bagaimana lagi? Aku ini kan masih pemula. Jangankan ingat untuk membeli penjepit kertas, membuat surat lamarannya saja Aku masih belum jagoan! Bagaimana mungkin Aku bisa menikahi perusahaan?!

Gambar Rumah Indah

“Pik!”

Dia memanggilku Topik. “Tulisanmu masih bagus, ya! Masih sama seperti dulu…”, kata seorang sahabatku basa-basi. Sudah sekian lama kami tidak saling bertemu, mungkin sudah hampir setahun. Sahabatku itu, sekarang gaya rambutnya sudah agak berubah… meskipun sifatnya masih tetap sama seperti dulu. Sama persis, seperti ketika dia masih belum bekerja di Bekasi. Dia datang bersama dengan seseorang. Entah siapa, Aku sama sekali tidak mengenalnya. Mungkin dia cuma salah seorang tetangganya yang kebetulan ingin mampir.

Sore hari yang mendung, tanggal . Ketika Aku sedang menarik secarik kertas surat lamaran dari dalam amplop, pada saat itu pulalah semua kesalahanku mulai terlihat.
Kuberikan berkas-berkas lamaranku beberapa saat setelah Aku mendengar komentar basa-basi dari sahabatku yang murah senyum itu, kemudian kuminta sahabatku itu untuk memeriksanya kalau-kalau Aku talah melakukan kesalahan. Banar saja, semuanya SALAH TOTAL!!!
“Eh, Pik, ini seharusnya kamu menuliskan alamat perusahaannya juga…”, “Eh, Pik, seharusnya untuk penulisan lampiran-lampiran harus diurutkan dari yang terkecil sampai yang terbesar…”, “Eh, Pik, fotokopi KTP-mu mana?”, “Eh, Pik, kamu punya penjepit kertas nggak?”
Bahkan untuk hal-hal kecil seperti penjepit kertaspun diperlukan? Walah… dasar pemula! Aku sama sekali tidak tahu apa-apa! Mau tidak mau Aku harus memulainya dari awal lagi.
Sementara Aku sedang sibuk mengurusi masalah ini dan itu, kubiarkan saja mereka berdua untuk saling berkotek bersama dengan ibuku yang kebetulan juga ingin ikut-ikutan nimbrung sebagai juru bicaraku.

Sebenarnya, sekitar dua bulan yang lalu, sahabatku pernah mengobrol dahsyat bersamaku di dalam telepon. Dia sempat memberikan sebuah penawaran bagus kepadaku.
“Pik, sekitar akhir bulan Mei nanti Aku mau pulang sebentar dari Bekasi… kamu mau nitip surat lamaran nggak? Biar nanti Aku yang antarkan ke perusahaanku. Gajinya lumayan loh, Pik”, kata sahabatku dengan nada bicara selembut gula pasir.

Sesaat Aku sempat menimbang-nimbang penawaran dari sahabatku itu, hingga pada akhirnya kuputuskan untuk berkata “ya”, meskipun sahabatku menawariku untuk bekerja di perusahaan industri yang sebenarnya sama sekali tidak kusukai. Tetapi Aku takut ini adalah kesempatan terakhirku, jadi kuputuskan saja untuk menerima penawarannya. Aku sadar, mungkin selama ini Aku memang terlalu egois memikirkan cita-citaku sendiri tanpa menyadari betapa banyak waktu dan kesempatan yang telah kubuang dengan percuma. Jadi kupikir… Tak apa-apalah! Lagipula Aku ini kan masih muda? Masih sweet eighteen euy! (Cie… cie…)

Waktu berlalu begitu cepat, hingga dua bulan kemudian sahabatku pulang dari Bekasi dan benar-benar datang berkunjung ke rumahku untuk menepati janjinya.
Kugeser-geserkan kursiku senyaman mungkin agar Aku bisa dengan leluasa mempelajari semua perkataannya. Sahabatku bilang, perusahaan industrinya hanya bersedia menggunakan sistem nikah kontrak, sehingga tidak ada yang namanya pegawai tetap di sana. Paling lama dua tahun. Itu juga sudah termasuk perpanjangan… dan jika dalam waktu tiga bulan masa percobaan ternyata Aku terbukti tidak mampu menjadi seorang suami yang baik, maka perusahaan itu akan segera menceraikanku! Itulah mengapa perusahaan tersebut selalu membuka lowongan calon suami setiap bulannya.

Aku masih tetap sibuk dengan lembaran-lembaran kertas kosong. Sejak awal, Aku memang sudah tidak sreg dengan perusahaan industri. Sebenarnya Aku lebih suka bekerja di perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan buku dan majalah, karena perusahaan-perusahaan tersebut biasanya mengizinkan para pegawainya untuk berpikir kreatif dan mencari informasi seluas-luasnya! Hal ini sangat berbeda dengan perusahaan industri yang lebih mementingkan ketrampilan pegawai yang itu-itu saja, sehingga hal tersebut akan mengekang kreativitas mereka sebagai manusia moderen. Sebuah sistem yang benar-benar bertolak belakang dengan kebiasaanku yang suka berpikir seenaknya. Tetapi berhubung Aku ini hanya seorang tamatan SMK jurusan montir tukang ganti oli, sepertinya untuk bekerja di bidang yang Aku sukai memang masih membutuhkan waktu pendidikan yang lebih lama.

****

Tak lama waktu berlalu, sahabatku, bersama dengan seorang pendamping di sebelahnya pada akhirnya memutuskan untuk berpamitan, berhubung waktu itu cuaca juga sudah semakin mendung.
Hah?! Pekerjaanku ini kan belum selesai? Tapi dia bilang itu bukan masalah. Dia sendiri yang akan menyelesaikannya nanti. (Benar-benar seorang sahabat yang sangat baik). Sesaat kemudian Aku berdiri di ambang pintu untuk menyambut kepergian mereka berdua.

Yah… meskipun apa yang sedang kulakukan sekarang ini sama sekali tidak sesuai dengan apa yang Aku cita-citakan selama ini, tetapi dengan semua bantuan dari sahabatku dan juga dukungan penuh dari kedua orangtuaku, memangnya apa lagi yang bisa kuperbuat… sebagai seorang sahabat, sebagai seorang anak, dan juga (tentu saja) sebagai seseorang yang merasa sangat terbantu dalam segala hal?
Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah dengan menuruti semua kemauan mereka. Bukan sebagai budak, tetapi lebih sebagai seseorang yang merasa sangat berterima kasih.

Kulihat sahabatku menaiki sepeda motornya bersama dengan seorang sahabat baruku yang kemudian juga ikut membonceng di belakangnya. Sebuah senyuman kecil sempat dilontarkan kepadaku, hingga pada akhirnya mereka berdua benar-benar pergi meninggalkanku. Ya, dia benar-benar telah pergi meninggalkanku. Dia pergi membawa harapanku.

28 Mei 2010

5 Komentar:

  1. mampir pagi brow, ukses selalu

    BalasHapus
  2. smoga di terima lamarannya

    BalasHapus
  3. masih bingung maksudnya menikahi perusahaan, y semoga aja di terima sob

    BalasHapus
  4. saya jadi pengen pacaran ama toko buku..

    BalasHapus
  5. hohoh..

    kirain apaan..

    moga sukses,

    BalasHapus
Top